Debut Kelam Alvaro Arbeloa: Skeptisisme Langsung Membayangi Real Madrid

Debut Alvaro Arbeloa sebagai pelatih dibuka dengan pahit setelah Real Madrid kalah dari tim kasta kedua Albacete di babak 16 besar Copa del Rey 2025/2026.

oleh Rindi AntikaDiterbitkan 15 Januari 2026, 19:00 WIB
Laga yang berlangsung di Estadio Carlos Belmonte, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB, juga menandai era baru di kubu Madrid. Untuk pertama kalinya, El Real tampil di bawah arahan Alvaro Arbeloa yang ditunjuk sebagai pelatih baru menggantikan Xabi Alonso. (AP Photo/Jose Breton)

Liputan6.com, Jakarta - Pertandingan babak 16 besar Copa del Rey 2025/2026 menjadi malam yang kelam bagi Real Madrid dan Alvaro Arbeloa saat bertandang ke markas tim kasta kedua, Albacete.  

Laga yang berlangsung di Stadion Carlos Belmonte ini menandai debut Alvaro Arbeloa sebagai pelatih kepala Los Blancos setelah menggantikan Xabi Alonso.

Mantan bek Liverpool dan Real Madrid itu mengistirahatkan Kylian Mbappe, Rodrygo, Thibaut Courtois, dan Jude Bellingham sebelum pertandingan La Liga melawan Levante di akhir pekan.

Walaupun Franco Mastantuono sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di masa tambahan waktu babak pertama, performa Madrid secara keseluruhan tampak kurang tajam tanpa kehadiran bintang utama.

Namun, Arbeloa membela keputusannya untuk mengistirahatkan keempat pemain tersebut dengan memilih pemain akademi Jorge Cestero dan David Jimenez, dan bersikeras bahwa ia "membawa tim yang mampu menang".


Kurangnya Kepemimpinan Arbeloa

Pelatih kepala Real Madrid Alvaro Arbeloa mengamati jalannya pertandingan pada laga babak 16 besar Copa del Rey antara Albacete dan Real Madrid, di Albacete, Spanyol, Kamis, 15 Januari 2026. (AP Photo/Jose Breton)

Mantan pemain internasional Spanyol itu tidak mampu menghentikan kemerosotan performa Madrid baru-baru ini, beberapa hari setelah kekalahan di Piala Super Spanyol dari Barcelona.

Sepanjang pertandingan, strategi yang diterapkan Arbeloa tampak sangat rentan terhadap serangan balik, sebuah kelemahan yang berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh pelatih Albacete, Alberto Gonzalez, setelah memasukkan empat pemain pengganti. 

Kepemimpinan Arbeloa di pinggir lapangan disorot ketika Albacete mencetak gol kemenangan di masa injury time, membuktikan bahwa strategi menyerang total yang ia instruksikan tidak dibarengi dengan perlindungan lini belakang yang memadai.


Mimpi Buruk Real Madrid

Pemain Real Madrid tampak lesu setelah ditaklukkan Albacete dengan skor 3-2 pada laga babak 16 besar Copa del Rey di Estadio Carlos Belmonte, Kamis, (15/1/2026).

Real Madrid kini terjebak dalam sebuah mimpi buruk yang nyata, dan tidak ada sosok yang memikul beban lebih berat atas tragedi ini selain Alvaro Arbeloa. 

Hasil pertandingan melawan Albacete benar-benar sulit dipercaya, mengingat lawan mereka hanyalah penghuni peringkat ke-17 di kasta kedua sepak bola Spanyol. 

Bagi klub sebesar Real Madrid, yang selalu menjadikan trofi dan dominasi mutlak sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan, hasil ini tidak sekadar menjadi aib memalukan bagi para pendukung setia, tetapi juga merupakan sinyal yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas tim ke depan.

Banyak penggemar yang sejak awal pengangkatan Arbeloa sudah merasa sangat bingung dan skeptis terhadap keputusan manajemen Los Blancos. 

Muncul keraguan besar mengenai rekam jejak dan pengalaman Arbeloa di level senior, serta pertanyaan mendasar apakah loyalitas masa lalu sebagai pemain lebih diutamakan daripada kebutuhan akan sosok pelatih yang memiliki strategi matang.

Alih-alih memberikan kesan awal yang penuh kepercayaan diri dengan hasil yang konkret, era kepemimpinan Arbeloa justru dibuka dengan suasana kebingungan taktis dan rasa frustrasi yang mendalam dari seluruh elemen tim.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya