Jangan Salah Kaprah, Mobil Plug-in Hybrid Tetap Perlu Rutin Isi Baterai

Temuan studi terbaru mengungkap bahwa klaim ramah lingkungan PHEV sangat bergantung pada kebiasaan pengguna, khususnya dalam mengisi ulang baterai

oleh Zaidan Fakhir HeryaniDiterbitkan 16 Januari 2026, 06:09 WIB
Penampakan calon Hyundai Tucson PHEV. (Hyundai)

Liputan6.com, Jakarta - Mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) selama ini dipasarkan sebagai solusi transisi menuju kendaraan listrik murni. Teknologi ini menggabungkan motor listrik dan mesin bensin, sehingga mobil bisa melaju tanpa emisi saat baterai terisi, namun tetap dapat digunakan ketika daya listrik habis.

Namun, temuan studi terbaru mengungkap bahwa klaim ramah lingkungan PHEV sangat bergantung pada kebiasaan pengguna, khususnya dalam mengisi ulang baterai. Tanpa pengisian daya yang rutin, manfaat lingkungan yang dijanjikan justru bisa hilang.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, PHEV memiliki dua mode operasi utama, yakni Charge-Depleting (CD) saat kendaraan mengandalkan tenaga listrik dari baterai, serta Charge-Sustaining (CS) ketika baterai kosong dan mesin bensin bekerja penuh.

Pada kondisi ideal, saat PHEV beroperasi dalam mode CD dengan baterai terisi tinggi, emisi nitrogen oksida (NOx) dapat lebih rendah dibanding mobil konvensional.

Motor listrik mengambil alih sebagian besar kebutuhan tenaga, sehingga konsumsi bensin dan emisi gas buang bisa ditekan.

Namun, realitas penggunaan di lapangan menunjukkan banyak pengemudi jarang mengisi ulang baterai. Akibatnya, kendaraan lebih sering beroperasi dalam mode CS.

Dalam kondisi terburuk, ketika PHEV tidak pernah diisi ulang, emisi NOx, hidrokarbon, hingga karbondioksida (CO₂) justru dapat meningkat hingga puluhan persen dibandingkan saat baterai digunakan secara optimal.

 

Pengisian Baterai Jadi Kunci Emisi Rendah

Tren elektrifikasi semakin masif (evsandbeyond.co)

Dilansir thedrive, para peneliti mencatat bahwa ketika baterai kosong, mesin pembakaran internal harus bekerja lebih keras untuk menggerakkan kendaraan yang juga membawa bobot tambahan dari paket baterai. Kondisi ini membuat efisiensi menurun dan emisi gas buang meningkat.

Beberapa model PHEV bahkan menunjukkan peningkatan emisi yang signifikan ketika digunakan tanpa pengisian ulang, dibandingkan performanya saat baterai masih penuh. Hal ini bertolak belakang dengan tujuan awal teknologi plug-in hybrid yang dirancang untuk menekan polusi.

Inti dari PHEV sendiri adalah kemampuan melaju tanpa emisi lokal dalam mode CD. Namun, peningkatan polusi tercatat saat kendaraan digunakan untuk perjalanan panjang tanpa pengisian ulang dan hanya mengandalkan mesin bensin.

Penelitian tersebut kembali menegaskan bahwa klaim ramah lingkungan PHEV sangat bergantung pada perilaku pengguna. Jika baterai jarang diisi, kendaraan ini berpotensi menghasilkan emisi yang lebih tinggi dibandingkan pengujian laboratorium atau angka resmi yang diklaim pabrikan.

Tantangan dalam Praktik dan Perilaku Pengguna

Frontier Pro PHEV tampil dengan wajah yang lebih modern dan selaras dengan kendaraan listrik (piston.my)

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan PHEV memang terletak pada kebiasaan pengemudi.

Berbeda dengan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) yang hampir wajib diisi ulang secara rutin, pengguna PHEV kerap mengabaikan pengisian baterai karena mobil tetap bisa berjalan dengan bensin.

Akibatnya, banyak PHEV lebih sering beroperasi dalam mode CS dibanding CD, sehingga manfaat lingkungan yang dijanjikan teknologi ini menjadi tidak optimal.

Temuan terbaru ini menegaskan bahwa efisiensi dan tingkat keramahan lingkungan PHEV sangat ditentukan oleh pola penggunaan sehari-hari.

Bagi konsumen yang mempertimbangkan PHEV sebagai solusi ramah lingkungan, disiplin mengisi ulang baterai secara rutin menjadi faktor kunci agar manfaat teknologi ini benar-benar dapat dirasakan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya