Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan energi terbarukan Uni Emirat Arab (UEA) Masdar menyatakan ketertarikannya untuk memperluas investasi di sektor panas bumi Indonesia sebagai dukungan dan komitmen mereka untuk menciptakan transisi energi bersih.
"Kami sangat mendukung industri panas bumi di Indonesia. Dan kami sangat tertarik untuk melanjutkan kemitraan serta kolaborasi tersebut," ujar Head of Business Development Asia-Pacific Masdar Fatima Al Suwaidi, melansir Antara, Kamis (15/1/2026).
Advertisement
Menurut Fatima, Indonesia menduduki posisi kedua sebagai produsen panas bumi terbesar di dunia.
"Selain itu, kemampuan rekayasa yang kuat di Pertamina Geothermal Energy (PGE) juga menjadikan sektor tersebut sebagai area strategis bagi ekspansi Masdar ke depan," ucap dia.
Sebelumnya, Masdar mulai terlibat di sektor panas bumi Indonesia pada Februari 2023 melalui investasinya di PGE.
Fasilitas panas bumi yang diproduksi PGE mencapai sekitar 4,8 TWh energi setiap tahun. Energi ini mampu menghindarkan emisi karbon hingga mencapai sekitar 3,9 juta ton.
Ia mengatakan, kemitraan Masdar PGE mencerminkan komitmen perusahaan untuk mendiversifikasi portofolio energi bersihnya di Indonesia.
Perusahaan menilai, stabilitas kebijakan dan dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam memperluas investasi panas bumi.
Komitmen tersebut sejalan dengan target pemerintah dalam mempercepat bauran energi baru terbarukan (EBT), serta menekan emisi gas rumah kaca.
Hal ini juga dinilai mampu menopang ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.
Indonesia sebagai Sektor Energi Bersih Kedua di Dunia
Menurut Fatima, energi panas bumi adalah salah satu sumber energi bersih baseload yang langka di dunia, dan Indonesia tercatat menempati posisi kedua secara global setelah Amerika Serikat.
"Ada banyak potensi dan keahlian rekayasa di PGE. Kami sangat senang bermitra dengan mereka dan mendukung ambisi pertumbuhan internasional mereka," kata dia.
Masdar menilai Indonesia sebagai mitra jangka panjang dalam transisi energi Indonesia. Di antaranya melalui proyek-proyek yang telah berjalan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata dengan kapasitas 145 MW di Jawa Barat (Jabar).
Fatima mengatakan, dalam tiga hingga empat tahun terakhir, Indonesia menunjukkan perkembangan positif dalam sektor energi.
"Indonesia memiliki masa depan yang sangat menjanjikan dalam sektor energi. Ada banyak perubahan positif dan langkah maju dalam tiga hingga empat tahun terakhir di industri energi terbarukan Indonesia," terang dia.
Fatima menilai konsistensi kebijakan energi menjadi kunci untuk menarik investasi berkelanjutan.
Potensi Energi Panas Bumi Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia mencapai 23.742 megawatt (MW).
Kapasitas terpasang saat ini mencapai 2.744 MW, menempatkan Indonesia di posisi kedua setelah Amerika Serikat dengan 3.937 MW.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Suyatno mengatakan, potensi panas bumi Indonesia merupakan 40 persen dari sumber energi panas bumi di seluruh Indonesia.
Kondisi ini, kata Suyatno, dipengaruhi oleh faktor lokasi Indonesia yang terletak di dalam cincin gunung api (ring of fire).
Menurutnya, ekosistem ini perlu dijaga agar keseimbangan fluida panas bumi yang masuk dan keluar tetap stabil.
"Jadi panas bumi itu bisa habis kalau kita tidak menjaganya. Penting (melakukan) manajemen reservoir, terutama (dalam) menjaga keseimbangan antara jumlah fluida panas bumi yang diambil dan dikembalikan," jelas Suyatno.
Oleh karena itu, Suyatno mendorong pemanfaatan panas bumi dengan tepat dan bijak agar tidak merusak alam.