Kurs Dolar AS Hari Ini 14 Januari 2026 Loyo, Rupiah Menguat Tipis ke 16.870

Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu, (14/1/2026). Berikut prediksi pergerakan rupiah terhadap dolar AS pada Rabu pekan ini.

oleh Agustina MelaniTira SantiaDiterbitkan 14 Januari 2026, 10:51 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik tipis pada pembukaan perdagangan Rabu, (14/1/2026). Rupiah bertambah tujuh poin atau 0,04% menjadi 16.870 per dolar AS dari sebelumnya 16.877 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, memprediksi  rupiah kembali melemah pada hari ini Rabu 14 Januari 2025 di rentang 16.870 hingga 16.900 terhadap dolar AS.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.870 - Rp16.900," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026). Pada perdagangan sebelumnya, Selasa, 13 Januari 2026 mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin di level Rp 16.877 atau melemah juga dari penutupan sebelumnya Senin, 12 Januari 2026 di level Rp 16.855.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menuturkan, rupiah akan diperkirakan bergerak di kisaran 16.800-16.900 per dolar AS. Ia menuturkan, ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran membayangi rupiah, demikian mengutip Antara.

Selain itu, sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah di antaranya, sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS), di mana jaksa telah meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell.

Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS. Ibrahim menjelaskan, pernyataan Ketua Jerome Powell pada Minggu malam mengatakan dalam sebuah video tindakan Departemen Kehakiman (DOJ) bermotivasi politik, menekankan itu “bukan tentang kesaksian saya Juni lalu atau tentang renovasi gedung Federal Reserve,” menambahkan bahwa penjelasan tersebut “hanyalah dalih.”

Powell mengatakan, masalahnya adalah apakah Fed dapat terus menetapkan suku bunga “berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi atau apakah kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan atau intimidasi politik.”

Gejolak Iran dan Rusia Kemudian, Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran.

 

Ancaman Donald Trump

Donald Trump tampil di acara CPAC 2021. Dok: AP Photo/John Raoux

Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

"Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25% pada negara mana pun yang "berbisnis" dengan Iran, sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi. Sebuah laporan Reuters mengatakan Trump diperkirakan akan bertemu dengan penasihat senior pada hari Selasa untuk membahas opsi terkait Iran," ujarnya.

Selain itu, infrastruktur ekspor minyak Rusia telah berulang kali diserang di tengah konflik Ukraina yang berkepanjangan. Pasukan Ukraina telah menyerang fasilitas minyak dan pusat ekspor Rusia, termasuk terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di dekat Novorossiysk.

Faktor Internal

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana di bank sebesar Rp 75 triliun, dinilai tidak akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan.

"Penarikan dana tersebut tidak berisiko mengganggu penyaluran kredit perbankan karena kondisi likuiditas saat ini masih berada pada level aman," ujarnya.

Masih terjaganya likuiditas perbankan terlihat dari masih tingginya nilai kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan atau undisbursed loan, yakni sebesar Rp 2.509.400.000.000 atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia per November 2025. 

Persoalan utama perbankan saat ini bukan berada di sisi likuiditas atau supply side, melainkan pada lemahnya permintaan kredit atau demand side. Hal ini tecermin dari pertumbuhan kredit yang masih lemah meski Purbaya telah menempatkan dana pemerintah dengan total nilai Rp 276 triliun di perbankan sejak September 2025.

  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya