Kades Anggoli Surati Prabowo, Minta Tinjau Ulang Perusahaan Penyebab Banjir di Tapsel

Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu melayangkan surat resmi untuk Presiden Prabowo Subianto terkait dugaan PT Tri Bahtera Srikandi (TBS) sebagai penyebab utama bencana banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) serta Tapanuli Tengah (Tapteng). Hal itu juga menimbulkan reaksi keras dari warga lokal.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 14 Januari 2026, 09:36 WIB
Hingga kini, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus melakukan pencarian terhadap warga yang masih hilang. Tampak dalam foto, anak-anak bermain di dekat rumah-rumah yang rusak di sebuah desa yang terdampak banjir bandang di Batang Toru, Sumatera Utara, Senin 1 Desember 2025. (AP Photo/Binsar Bakkara)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu melayangkan surat resmi untuk Presiden Prabowo Subianto terkait dugaan PT Tri Bahtera Srikandi (TBS) sebagai penyebab utama bencana banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) serta Tapanuli Tengah (Tapteng). Hal itu juga menimbulkan reaksi keras dari warga lokal. 

Surat yang juga ditandatangani oleh Ketua BPD dan tokoh masyarakat setempat itu muncul, menyusul adanya siaran pers dari penegak hukum terkait perusahaan yang diduga menjadi pemicu bencana.

Oloan mengulas kondisi aliran air di wilayahnya. Aktivitas PT TBS disebutnya berada di area mata air yang mengalir ke Aek Nahombar, lalu bermuara ke Sungai Muara Sibuntuon.

"Alur sungainya berkelok dan sempit. Sangat mustahil jika ada sisa kayu dari lahan PT TBS bisa hanyut hingga ke jembatan Aek Garoga yang jaraknya cukup jauh," tegas Oloan saat dihubungi wartawan, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, titik-titik longsor yang terjadi di sekitar desanya juga berada di lahan milik masyarakat, bukan pada area konsesi perusahaan.

Oloan mengatakan, areal izin lokasi PT TBS bukanlah kawasan hutan lindung, melainkan Area Peruntukan Lain (APL). Lahan tersebut diklaim sudah lama digarap masyarakat dengan tanaman produktif seperti karet, durian, aren, hingga sawit.

"Banyak lahan warga yang bahkan tidak diganti rugi oleh perusahaan karena warga masih memilih mengelola ladangnya sendiri. Jadi, tidak benar jika disebut ada penggundulan hutan secara masif oleh perusahaan," tambahnya. 

Berdampak Positif ke Warga Lokal

Tim gabungan berupaya mempercepat pembersihan material sisa bencana banjir bandang untuk memulihkan fungsi lingkungan dan akses publik. Tampak dalam foto, dua warga desa membersihkan rumah mereka yang rusak akibat banjir bandang di Desa Aek Garoga, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada Sabtu 27 Desember 2025. (YT Hariono /AFP)

 

Dalam suratnya kepada Prabowo, Desa Anggoli memohon kebijaksanaan pemerintah untuk meninjau ulang proses hukum terhadap PT TBS. Hal tersebut didasari atas dampak positif kehadiran perusahaan terhadap ekonomi lokal.

"Kami mengharapkan Bapak Presiden menghentikan penyidikan terhadap PT TBS. Kehadiran mereka sangat bermanfaat bagi kami, mulai dari pembangunan Kebun Plasma hingga penyerapan tenaga kerja lokal yang membantu kesejahteraan warga desa," pungkas Oloan.

 

Aksi pembelaan ini juga didukung oleh sejumlah akademisi dan peneliti dari IPB yang turut mengkaji faktor-faktor penyebab bencana di wilayah Tapanuli secara lebih komprehensif.

Infografis Biaya Perbaikan Dampak Banjir Sumatera. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya