Denyut Kampung Starling di Tepi Bantaran Ciliwung: Ketika Hidup Bergantung Sachet Kopi

Perkampung starling berlokasi di persis permukiman di samping Gedung Perkantoran BI Institute, Jakarta.

oleh Debby Alifah MaulidaDiterbitkan 14 Januari 2026, 06:02 WIB
Kampung Starling di Bantaran Ciliwung (Foto: Debby/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah gemerlap ibu kota Jakarta, ada satu kawasan permukiman yang jadi saksi perjuangan hidup sekelompok pedagang kopi jalanan. Setiap hari, mereka bertarung berebut pelanggan dengan pedagang kopi modern.

Meski sadar tak ada lapak estetik bisa dibanggakan. Abdul Rasyid atau Rasyid selalu yakin. Kerja kerasnya mengayuh sepeda menawarkan kopi ke tiap sudut Jakarta akan membawa rezeki tak sia-sia. Begitulah doa sederhana penjaja starling.

 

Puluhan Tahun Cari Makan di Kota Metropolitan

Kampung Starling di Bantaran Ciliwung (Foto: Debby/Liputan6.com)

Sudah 41 tahun Rasyid hidup di Jakarta. Dia meninggalkan kehidupannya di Madura dan hijrah ke Ibu Kota sejak tahun 1985. Mimpinya kala itu tak muluk-muluk. Bisa mencari makan di kota metropolitan. Soal profesinya, dia tak mau banyak memilih. Apapun dijalani, asalkan halal dan tak mencuri.

Sehari-hari, Rasyid menetap di perkampungan tak terjamah megahnya gedung di bantaran Sungai Ciliwung. Huniannya hanya sebuah petakan yang terhimpit di antara bangunan pencakir langit ibu kota. Di sana, dia tak sendiri. Sebab ternyata, perkampungan itu memang tempat bermukimnya para pedagang kopi keliling.

Lokasi persis permukiman ini di samping Gedung Perkantoran BI Institute, Jakarta. Suasananya cukup padat dan sesak. Meski jauh dari kata layak, tapi bagi Raysid, huniannya bak istana untuk ditinggal anak dan istri tercinta.

Liputan6.com coba menyusuri perkampungan pedagang kopi keliling. Sebuah gapura merah bertuliskan “Kawasan Pedagang Kopi Keliling” menyambut. Berjalan sedikit ke depan, tumpukan sampah yang hampir menutupi jalan merusak pemandangan. Aromanya bercampur bau tak sedap dan lembab dari Sungai Ciliwung yang mengalir deras tepat di sebelahnya.

Tak jauh dari gunungan sampah itu, puluhan gerobak dagang milik warga terparkir di bantaran sungai. Beberapa meter setelahnya, baru terlihat rumah-rumah kecil yang dipaksa saling berhimpitan agar semuanya punya tempat untuk bertahan hidup.

Sekilas, permukiman ini layaknya sudut kota Jakarta yang padat dan ramai. Namun ketika malam menjemput, hanya gemericik air yang terdengar menambah hening suasana.

Data dari platform peta interaktif online milik Kementerian Agraria, yakni Bhumi ATR/BPN menunjukkan bahwa tanah yang diduduki oleh para pedagang starling itu bukan milik warga, melainkan hak milik Bank Indonesia (BI). Artinya, hidup mereka kini terancam ketidakpastian. Kawasan ini dapat dengan mudah tergeser oleh kuasa. BI berhak mengambil alih lahan ini, dan disaat itu juga warga harus siap dengan penggusuran.

Rumah Seluas 2 Meter dan Satu MCK untuk Beramai-Ramai

Kampung Starling di Bantaran Ciliwung (Foto: Debby/Liputan6.com)

Berkunjung ke sini layaknya seperti melihat rumah susun versi mini. Satu tempat tinggal bertumpuk dengan tempat tinggal lain di atasnya. Ada yang satu kamar ditinggali oleh 8-9 orang pemuda, ada juga yang membawa anak istrinya ke sini dan tinggal dalam satu atap.

Meski terlihat sederhana, rumah-rumah inilah hasil jerih payah mereka. Meski pendapatan yang tak seberapa, warga kampung kopi keliling saling gotong-royong mengumpulkan dana untuk mendirikan rumah. Rumah ini adalah hasil keringat mereka dari segelas kopi yang disajikan di malam hari.

“Iya, masing-masing ya. Istilahnya mereka punya tempat tinggal ya membangun sendiri kayak gitu,” cetus Rasyid.

Tahun demi tahun berlalu, rumah-rumah warga pun kini mulai dilengkapi dengan atap-atap sederhana yang terkoneksi antara rumah yang satu dengan rumah yang lain. Atap ini dibangun untuk melindungi sepeda kayuh beserta perlengkapan dagang milik mereka yang terparkir di depan rumah.

“Berkembang dikit lah ya, ya kayak ini (menunjuk atap). Tapi pake dana sendiri, bukan bantuan dari pemerintah,” katanya.

Pembangunan atap ini bersumber dari dana pribadi warga. Kalau bukan warga yang inisiatif, dagangan mereka sudah habis terguyur hujan. Jangan tanya kenapa dagangannya tidak ditaruh di dalam, rumah selebar 2 kali 2 meter itu hanya cukup untuk tidur.

“Ya, ukurannya kayak kecil lah. Paling 2 meter setengah,” jelas Rasyid.

Kampung Starling hanya punya satu kamar mandi umum. Beberapa rumah memang ada yang memiliki kamar mandi dalam, tapi jumlahnya hanya terhitung jari. Sementara sisanya, harus saling berganti di kamar mandi umum.

“Kamar mandi satu di luar,” ujar Rasyid.

 

Hidup Dalam Keterbatasan Tanpa Perhatian

Kampung Starling di Bantaran Ciliwung (Foto: Debby/Liputan6.com)

Puluhan tahun tak terjamah oleh pemerintah, warga kampung starling kini sudah terbiasa dengan keadaan seadaanya. Meski hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan, tak ada perhatian khusus dari pemerintah akan nasib mereka.

"Enggak ada (pemerintah yang datang). Yang sering di seberang," ujar Rasyid.

Tetapi ketika musim pemilihan umum (Pemilu) tiba, mereka mendadak mendapat perhatian. Beberapa pejabat pernah menjejakkan kaki di tempat ini dengan beragam janji-janji manis. Sayangnya, tak ada perubahan yang dirasa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya