Kisah Pencarian Nuriman yang Diduga Diterkam Buaya

Dugaan serangan buaya, arus sungai deras, cuaca buruk, serta perjuangan tim SAR menggambarkan tragedi kemanusiaan di Karang Anyar, Dusun Cabang Ruan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat.

oleh Aceng MukaramDiterbitkan 12 Januari 2026, 18:53 WIB
Pencarian warga yang hilang di Sungai Karang Anyar Kalimantan Barat. (istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Senin pagi terasa lebih berat di Karang Anyar, Dusun Cabang Ruan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat. Sungai Karang Anyar tampak tenang di permukaan, namun menyimpan kecemasan mendalam bagi warga. 

Empat hari berlalu sejak Nuriman, nelayan sekaligus ayah dua anak, tak kembali dari aktivitas memancing. Waktu seakan berhenti, harapan bertahan, doa terus berlayar mengikuti arus sungai keruh.

Kepala Dusun Cabang Ruan, Mus, berdiri di tepi sungai sembari menatap air. Wajahnya menyimpan kegelisahan kolektif warga. Dia menyampaikan dugaan awal berdasar pengalaman lapangan. 

“Adanya dugaan korban diterkam buaya. Karena di lokasi kejadian sebelumnya beberapa kali buaya terlihat mencoba menyerang warga, meski tidak menimbulkan korban jiwa,” kata Mus Senin (12/1/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar asumsi. Sungai Karang Anyar dikenal sebagai wilayah lintasan buaya muara. Warga kerap melihat kemunculan reptil besar itu saat senja. Sebagian memilih diam, sebagian lain pasrah, sebab sungai tetap menjadi nadi kehidupan.

Nuriman pergi memancing seperti hari biasa. Ia paham risiko. Sungai memberi ikan, sungai pula memberi ancaman. Namun kebiasaan panjang sering menumpulkan kewaspadaan. Hingga senja turun, Nuriman tak kunjung pulang.

Laporan warga diterima, respons cepat pun dilakukan. Unit Siaga SAR Kabupaten Kayong Utara mengerahkan tim rescue menuju lokasi. Satu unit Rigid Inflatable Boat melaju membelah sungai. Perahu itu membawa peralatan evakuasi, perlengkapan medis, alat navigasi, perangkat water rescue, serta alat pelindung diri lengkap.

Mesin perahu menderu di antara kabut pagi. Setiap anggota tim menyadari satu fakta pahit. Misi pencarian di wilayah habitat buaya bukan perkara mudah. Risiko mengintai setiap meter perjalanan. 

Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, menegaskan komitmen tim.

“Memasuki hari keempat pencarian, tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian terhadap korban. Area pencarian telah diperluas ke beberapa sektor hilir dan hulu sungai, namun hingga saat ini korban belum ditemukan,” ujarnya.

Perluasan sektor pencarian bukan keputusan ringan. Arus sungai deras dapat membawa tubuh korban jauh dari titik awal. Penentuan Last Known Position menjadi dasar strategi, dipadukan informasi warga sekitar.

Sejak hari pertama, tim SAR menjalankan tahapan sistematis. Pengumpulan keterangan saksi, pemetaan alur sungai, penyisiran permukaan air, pemantauan visual bantaran, hingga koordinasi intensif bersama potensi SAR lokal terus berlangsung tanpa jeda berarti.

Pencarian warga yang hilang di Sungai Karang Anyar Kalimantan Barat. (Istimewa)

Habitat Buaya Sungai

Karang Anyar bukan sekadar sungai. Ia rumah bagi ekosistem liar. Buaya muara hidup berdampingan dengan aktivitas manusia sejak lama. Konflik laten terus terjadi, namun jarang tercatat secara resmi kecuali berujung tragedi.

Mus mengingat kembali peristiwa sebelumnya. Beberapa warga hampir diserang saat mandi sore. Teriakan menyelamatkan nyawa, keberuntungan menjadi perisai sementara.

Dugaan keterlibatan buaya membuat operasi pencarian semakin kompleks. Tim harus menjaga jarak aman, memperhatikan gerak air, membaca tanda alam, serta memastikan keselamatan personel tetap terjaga.

“Kondisi alam ekstrem, arus sungai cukup deras, air sangat keruh, serta cuaca sering berubah bukan berarti menghambat proses pencarian. Tim tetap melaksanakan operasi dengan memperhatikan situasi dan kondisi, serta mengutamakan keselamatan sebagai prioritas utama,” jelas I Made Junetra. 

Setiap kalimat pernyataan itu mencerminkan dilema. Antara tuntutan kemanusiaan serta batas keselamatan petugas. Sungai tidak mengenal empati, hanya hukum alam.

Harapan Keluarga Menunggu di Rumah

Di rumah kayu sederhana, keluarga Nuriman menanti kabar. Istri korban duduk memeluk anak bungsu. Tatapannya kosong, namun harap masih menggantung. Setiap suara mesin perahu dari kejauhan memicu debar jantung.

Warga bergantian datang memberi dukungan. Doa dipanjatkan dalam hening. Tidak ada jeritan histeris, hanya kesabaran panjang bercampur cemas. 

Bagi masyarakat pesisir sungai, kehilangan seperti ini bukan cerita baru. Namun setiap kejadian selalu melukai perasaan kolektif. Nuriman bukan sekadar nama, ia bagian denyut sosial dusun. 

Operasi pencarian hari keempat terasa melelahkan secara fisik serta mental. Namun tim SAR menolak menyerah. Setiap kemungkinan tetap diperhitungkan.

Metode Pencarian

Penyisiran permukaan air terus dilakukan. Perahu bergerak perlahan, mata petugas menyapu setiap riak. Bantaran sungai diperiksa, ranting tersangkut diamati, pusaran air dicermati seksama. 

Air keruh menyulitkan penglihatan. Visibilitas hampir nol. Metode manual menjadi andalan utama. Teknologi terbatas menghadapi kondisi alam seperti ini.

Koordinasi bersama warga lokal memberi keuntungan tersendiri. Mereka paham karakter sungai, titik pusaran berbahaya, serta lokasi sering dilalui buaya. Informasi itu membantu tim menentukan sektor prioritas. 

Namun waktu menjadi lawan utama. Semakin lama pencarian, semakin besar tantangan. Meski demikian, operasi tidak dihentikan. Selama harap masih ada, pencarian terus berjalan.

Tragedi Nuriman membuka kembali diskusi lama soal keselamatan warga bantaran sungai. Ketergantungan ekonomi sering memaksa masyarakat berhadapan langsung dengan risiko tinggi.

Belum ada sistem peringatan dini memadai. Edukasi bahaya buaya masih bersifat sporadis. Penanganan konflik manusia satwa liar memerlukan pendekatan lintas sektor. 

Peristiwa ini bukan sekadar berita kehilangan. Dia cermin rapuhnya perlindungan masyarakat kecil. Sungai memberi kehidupan, namun menuntut kewaspadaan tinggi. 

Tim SAR menjalankan tugas negara. Warga bertahan dengan doa. Alam berjalan sesuai kodratnya.

Hingga laporan ini disusun, tim SAR gabungan masih berada di lapangan. Metode penyisiran permukaan serta pemantauan titik strategis tetap dilanjutkan. Tidak ada kata berhenti sebelum keputusan resmi diambil.

I Made Junetra kembali menegaskan semangat tim. Keselamatan personel tetap prioritas, namun komitmen kemanusiaan tidak surut.

Sungai Karang Anyar terus mengalir. Dia membawa cerita duka, harap, serta pelajaran pahit bagi semua pihak.

Nuriman mungkin belum ditemukan, namun kisahnya telah mengingatkan satu hal penting. Di balik rutinitas sederhana, bahaya bisa muncul tanpa aba aba. Kewaspadaan, perlindungan, serta kehadiran negara menjadi kebutuhan mendesak.

Pencarian hari keempat menjadi penanda. Bukan sekadar hitungan waktu, melainkan ujian ketabahan, solidaritas, serta profesionalisme di tengah alam liar Kalimantan Barat. 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya