Penutupan Rakernas I, PDIP Catat 8 Tantangan Indonesia di tahun 2026

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah masalah ekonomi sistemik, mulai dari keterbatasan fiskal, penumpukan utang luar negeri, praktik korupsi, hingga proses deindustrialisasi yang berdampak pada meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 12 Januari 2026, 17:54 WIB
Penutupan Rakernas PDI Perjuangan di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Senin (12/1/2026). (Liputan6.com/M Radityo Priyasmoro)

Liputan6.com, Jakarta - PDI Perjuangan resmi menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2026 yang digelar di Jakarta. Dalam rakernas tersebut, partai berlambang banteng moncong putih itu merumuskan sejumlah tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan.

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Aceh Jamaluddin Idham menyampaikan hasil rekomendasi Rakernas I saat penutupan acara di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, Senin (12/1/2026).

“PDI Perjuangan menyadari tantangan masa depan tidak mudah karena sejumlah tantangan yang saling berkelindan,” kata Jamaluddin.

Menurutnya, tantangan tersebut diawali dari krisis keteladanan dalam kehidupan bernegara, yang dipicu oleh merosotnya etika dan tata perilaku dalam penyelenggaraan negara. Selain itu, bangsa Indonesia juga dihadapkan pada bencana dan malapetaka ekologis akibat kesalahan kebijakan tata ruang, konversi hutan yang tidak terkendali, serta praktik industrialisasi ekonomi ekstraktif.

“Tantangan berikutnya adalah robohnya supremasi hukum yang mengakibatkan hukum kehilangan ruh kemanusiaan yang beradab,” ujar Jamaluddin.

Ia menambahkan, persoalan lain yang tak kalah serius adalah masalah ekonomi sistemik, mulai dari keterbatasan fiskal, penumpukan utang luar negeri, praktik korupsi, hingga proses deindustrialisasi yang berdampak pada meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

 

Praktik Otoritarianisme Populis Jadi Tantangan Demokrasi saat Ini

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan 2026 dibuka secara resmi bertepatan dengan HUT ke-53 PDI Perjuangan, Sabtu, 10 Januari 2026. Menurut Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, format rakernas dijalankan lebih substansial. (Foto: Tim Media PDIP)

Jamaluddin juga menyoroti bekerjanya otoritarianisme populis sebagai tantangan besar demokrasi. Menurutnya, fenomena tersebut ditandai dengan pembungkaman suara kritis, pengabaian mekanisme check and balances, serta penyalahgunaan kekuasaan negara.

“Terjadi pelanggaran terhadap tata kelola pemerintahan yang baik serta praktik politik yang tidak demokratis karena mengabaikan suara rakyat,” tegasnya.

Sebagai tantangan terakhir, Jamaluddin menyebut pertarungan geopolitik global yang memunculkan kembali gejala neo-otoritarianisme dan neo-imperialisme, yang berpotensi memengaruhi kedaulatan dan arah pembangunan nasional.

Meski demikian, PDI Perjuangan meyakini seluruh tantangan tersebut dapat dijawab melalui semangat dan tema Rakernas I.

Satyam Eva Jayate: Di Sanalah Aku Berdiri Untuk Selama-lamanya, menegaskan keyakinan kami bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang,” pungkas Jamaluddin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya