Liputan6.com, Jakarta - Saat membeli deterjen, pernahkah Anda memerhatikan komposisi kandungannya? Apakah di dalamnya terdapat SLS dan paraben? Jika iya, sebaiknya dihindari dengan memibeli produk yang bebas SLS dan paraben.
Mengutip WebMD, Sabtu, 10 Januari 2026, SLS, singkatan dari sodium lauryl sulfate, berfungsi sebagai agen pembusa. Deterjen yang mengandung SLS biasanya menghasilkan busa yang sangat banyak.
Advertisement
Kemampuan SLS untuk memecah minyak dan lemak sangat cocok untuk produk industri. Bahan itu murah dan dapat dibuat dari beberapa bahan, termasuk minyak bumi, minyak kelapa, dan bahkan minyak sawit.
Sementara, paraben (singkatan dari p-hydroxybenzoates) adalah salah satu bahan pengawet kimia yang paling umum. Melansir laman health.clevelandclinic.org, paraben telah digunakan sebagai pengawet sejak 1920an.
Menurut dokter penyakit dalam Anthony Taylor, DO, paraben berfungsi melindungi produk dari hal-hal yang memperpendek masa simpan, seperti ragi, bakteri, dan jamur. Paraben terjadi secara alami di beberapa tumbuhan dan buah-buahan, tetapi sebagian besar paraben yang digunakan saat ini diproduksi secara sintetis oleh industri.
Lalu, mengapa sebaiknya menghindari produk pembersih yang mengandung SLS dan Paraben? Walau tidak setiap orang mengalami efek yang sama, paparan kedua bahan kimia itu bisa membuat kulit teriritasi.
Mengutip Nisargnutrition.com, kedua bahan kimia itu diketahui dapat menyebabkan dehidrasi kulit dan menghilangkan minyak alami. Kekeringan, iritasi, kemerahan, dan sensitivitas dapat terjadi akibatnya.
Dampak Buruk Paraben pada Kesehatan
Sementara paraben, menurut Cleveland Clinic, disebut sebagai bahan kimia pengganggu hormon atau endokrin (EDC). Paraben mengganggu sistem endokrin Anda, yang meliputi kelenjar dan hormon yang dikirimkannya untuk memberi tahu organ dan jaringan apa yang harus dilakukan.
Berbagai EDC (Endocrine Disrupting Chemicals) memengaruhi tubuh dan hormon Anda dengan berbagai cara. Paraben masuk ke tubuh Anda melalui kulit dan saat Anda mengonsumsi makanan dan minuman. Setelah masuk, paraben meniru hormon estrogen, dan gangguan tersebut dapat memengaruhi seluruh sistem hormonal Anda.
"Kabar baiknya adalah paraben tidak bertahan lama di tubuh Anda," kata Dr. Taylor. "Paraben melewati hati Anda dan keluar melalui urin dalam waktu 24 hingga 48 jam." Para ahli belum mengidentifikasi efek toksik langsung, tetapi mereka khawatir tentang paparan kronis (berkelanjutan).
Dugaan Picu Kanker dan Ganggu Sistem Reproduksi Pria
Dr. Taylor juga menerangkan bahwa paraben memengaruhi estrogen yang terkadang dapat memicu pertumbuhan kanker payudara. Para ahli telah mendeteksi paraben dalam jaringan payudara. Jadi, masuk akal untuk mencari hubungan antara kanker payudara dan paraben.
"Belum ada cukup data untuk membuktikan hubungan antara paraben dan kanker payudara," kata Dr. Taylor. "Tetapi penelitian in vitro (seluler) awal menunjukkan bahwa paraben mengganggu cara kerja sel Anda, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kanker."
Paraben juga disebut dapat mengganggu fungsi hormon reproduksi normal pada pria. Dalam sebuah studi terbaru yang melibatkan hampir 800 pria dewasa mencari hubungan antara kadar paraben dalam urin dan kesehatan sperma, hasilnya menunjukkan bahwa kadar paraben yang lebih tinggi — khususnya butilparaben dan metilparaben — berhubungan dengan penurunan konsentrasi, jumlah, dan motilitas (kemampuan bergerak) sperma.
"Studi sebelumnya tidak melibatkan manusia. Hingga saat ini, studi pada manusia belum menunjukkan korelasi yang kuat antara paraben dan kesehatan sperma," kata Dr. Taylor. "Bidang ini membutuhkan lebih banyak penelitian."
Alternatif Deterjen Tanpa SLS dan Paraben
Seiring meningkatnya kesadaran akan deterjen yang lebih ramah lingkungan dan kesehatan kulit, produsen mulai menawarkan alternatif produk yang bebas SLS dan paraben. Salah satunya Deterjen Sayang Hijab yang menawarkan pengalaman mencuci pakaian secara efektif karena mengandung surfaktan 10,2 persen.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, deterjen Sayang Hijab dilengkapi dengan teknologi Indoor Drying Technology untuk mencegah bau saat dijemur di dalam ruangan, serta memberikan sensasi adem di tangan berkat Teknologi Busa Salju. Keunggulan lain dari Deterjen Sayang selain aman di kulit dan tidak meninggalkan residu.
Deterjen Sayang juga diklaim mampu menghilangkan noda dan menjaga warna pakaian, termasuk hijab. Formula yang lembut membantu menjaga keawetan dan kelembutan bahan hijab dan pakaian lainnya ditambah dengan wangi menyegarkan, yakni aroma lavender yang menenangkan dan membuat pakaian tetap wangi seharian.