Trauma Healing Usai Bencana di Bireun Aceh, Saat Anak dan Ibu Belajar Pulih Bersama

Bagi anak-anak itu, menggambar bukan sekadar bermain. Ia menjadi jeda dari rasa takut yang sempat membayangi hari-hari mereka.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 08 Januari 2026, 22:31 WIB
Kegiatan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana, dengan peserta 80 anak dan 16 ibu rumah tangga di Kabupaten Bireun, Aceh. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Tawa anak-anak perlahan kembali terdengar di salah satu sudut Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen. Di antara rumah-rumah yang masih menyisakan jejak bencana, mereka duduk melingkar di atas tikar sederhana. Krayon warna-warni berpindah dari tangan ke tangan, menggambar rumah, pohon, langit biru, hal-hal sederhana yang sempat hilang dari benak mereka.

Bagi anak-anak itu, menggambar bukan sekadar bermain. Ia menjadi jeda dari rasa takut yang sempat membayangi hari-hari mereka.

Di tempat itulah, Penyuluh Agama Islam bersama guru madrasah hadir. Bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan rasa aman. Pada Kamis (8/1/2025), lima Penyuluh Agama Islam dan lima guru madrasah melakukan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana, dengan peserta 80 anak dan 16 ibu rumah tangga.

Beragam kegiatan trauma healing digelar. Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, dan menggambar. Permainan sederhana itu menjadi jalan bagi mereka untuk mengekspresikan emosi dan perlahan menumbuhkan kembali rasa percaya diri. Di sisi lain, para ibu rumah tangga duduk berkelompok, berbagi cerita, dan menumpahkan kegelisahan yang selama ini terpendam.

Salah satu Penyuluh Agama Islam Kabupaten Bireuen, Mulyadi, mengatakan pendampingan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan paling mendesak para penyintas, terutama dari sisi kesehatan mental.

“Kami memberikan Psychological First Aid atau dukungan psikologis awal agar penyintas merasa tenang, aman, dan tidak sendirian menghadapi situasi ini,” ujar Mulyadi.

Upaya Dampingi Masyarakat Terdampak Bencana

Kegiatan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana, dengan peserta 80 anak dan 16 ibu rumah tangga di Kabupaten Bireun, Aceh. (Istimewa)

Selain PFA, tim juga memberikan Respon Awal Kesehatan Mental dan Psikososial. Para relawan dibekali kemampuan melakukan penilaian cepat terhadap kondisi mental penyintas, sehingga bantuan yang diberikan dapat tepat sasaran.

“Kami juga mengedukasi tentang kesehatan mental, mulai dari mengenali gejala hingga pertolongan pertama pada gangguan mental,” tambahnya.

Bagi para ibu rumah tangga, pendampingan ini menjadi ruang penguatan. Melalui pendekatan Keluarga Sakinah Maslahah, mereka diajak membangun kembali ketahanan keluarga, memperkuat komunikasi, dan saling menguatkan di tengah situasi krisis.

Materi coping strategy dan manajemen stres disampaikan dengan metode yang ringan dan mudah dipahami, seperti permainan motivasi, role play, latihan relaksasi, hingga mindfulness.

“Kami ingin ibu-ibu pulang dengan bekal, bukan hanya pengetahuan, tetapi juga keyakinan bahwa keluarga mereka mampu bangkit,” kata Mulyadi.

Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang Kementerian Agama dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana.

“Pendampingan psikososial penting agar penyintas tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga mental. Dengan pembekalan PFA dan rapid assessment, relawan diharapkan mampu memperkuat ketahanan psikososial masyarakat,” ujar Zudi.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan tawa dan pelukan. Di tengah keterbatasan, harapan kembali disemai. Dari permainan, cerita, dan kehadiran yang tulus, luka perlahan menemukan jalannya untuk pulih.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya