Liputan6.com, Jakarta - Setelah ditutup hampir sepekan, pelayaran menuju Taman Nasional Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi dibuka kembali mulai Jumat (9/1/2026).
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo mengumumkan bahwa proses pembuatan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) telah dibuka sejak Kamis (8/1/2026).
Advertisement
Kepala KSOP Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto mengatakan, keputusan pembukaan didasarkan pada analisis kondisi cuaca dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Labuan Bajo yang menyatakan wilayah tersebut aman untuk dilayari.
"Kondisi cuaca dan laut di rute wisata telah dinyatakan aman. Semua pihak wajib mematuhi peraturan dan standar keselamatan yang telah ditetapkan," ujar Stephanus, Jumat (9/1/2026). Ia menegaskan meskipun pelayaran sudah beroperasi kembali, KSOP menetapkan larangan ketat untuk melewati 10 titik perairan pada malam hari.
Lokasi-lokasi tersebut adalah Perairan Pulau Kelor, Batu Tiga, Selat Molo, Selat Padar, Loh Kima, Pulau Luwu, Keranga, Pulau Mawang, Pulau Siaba, serta Pulau Tatawa Kecil dan Siaba Kecil.
"Area ini berpotensi terjadi angin kencang, pusaran air, dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan kapal," ucap Risdiyanto.
Pembukaan pelayaran tidak hanya bertujuan memulihkan aktivitas pariwisata yang terganggu, tetapi juga mendukung pencarian korban insiden tenggelamnya kapal KLM Putri Sakinah yang masih berlangsung.
"Dengan keterlibatan masyarakat dan wisatawan, diharapkan cakupan pencarian dapat diperluas dan korban segera ditemukan," tandas Risdiyanto.
BMKG Deteksi Dampak Siklon Hayley, Cuaca Ekstrem Landa Kawasan Taman Nasional Komodo
Sebelumnya, Taman Nasional Komodo (TNK) ditutup sementara dari semua aktivitas wisata alam dan pelayaran sejak 29 Desember 2025.
Penutupan ini dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) dalam Surat Pemberitahuan (Notices to Mariners) No. 05/NTM-XII/2025 dari Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo.
Penutupan total dari aktivitas wisata dan pelayaran ini menindaklanjuti peringatan potensi cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Cuaca ekstrem ini merupakan dampak tidak langsung Siklon Tropis Hayley.
Siklon ini terpantau di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi.
KSOP juga resmi mencabut pelayaran atau Surat Persetujuan Berlayar (SPB) untuk kapal wisata, termasuk speed boat dalam keputusan mereka tersebut.
Kepala BTNK Hendrikus Siga mengatakan penutupan ini berlaku untuk semua destinasi wisata di kawasan TN Komodo seperti Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Pink Beach, dan spot diving lainnya.
BTNK langsung merespons dengan menghentikan semua aktivitas pelayaran wisata alam demi keselamatan bersama.
"Mengacu pada Surat Pemberitahuan dari KSOP tersebut di atas, maka pelayanan wisata alam di destinasi wisata TN Komodo dihentikan sementara sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut," katanya.
Pantau Informasi Cuaca
Dalam imbauan terpisahnya BTNK juga menyampaikan kepada masyarakat dan wisatawan untuk terus memantau informasi cuaca harian dari BMKG sebelum beraktivitas di perairan TN Komodo.
Sementara bagi pemilik kapal atau nahkoda agar mematuhi arahan KSOP Kelas III Labuan Bajo dan segera berkoordinasi dengan pihak terkait jika cuaca semakin memburuk.
Untuk wisatawan yang telah memiliki tiket masuk atau booking kapal diminta untuk segera menghubungi operator atau BTNK.
"Semua diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan menunda aktivitas apabila kondisi tidak memungkinkan," imbaunya.
Sementara dalam prakiraan cuaca 7 hari ke depan di wilayah Komodo menunjukkan kondisi yang kurang bersahabat, dengan potensi heavy rain, scattered storms, dan gelombang tinggi yang dapat membahayakan pelayaran.