Menkeu Purbaya Tunggu Usulan Diskon Tarif Listrik Buat Masyarakat Terdampak Bencana Sumatera

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal positif untuk menyetujui pemberian diskon tarif listrik buat masyarakat terdampak bencana Sumatera.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 08 Januari 2026, 19:00 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN Kita, di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Liputan6.com/Arief)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan 'lampu hijau' pemberian diskon tarif listrik bagi korban bencana Sumatera. Namun, dia mengaku belum mendapat usulannya diskon tersebut.

Dia mengaku belum ada permintaan untuk diskon tarif listrik di daerah terdampak bencana. Kemungkinan, usulannya akan masuk dari PT PLN (Persero).

"Belum sampai ke saya. Itu nanti mungkin PLN yang akan sampaikan ke saya, belum, sampai sekarang belum sampai ke saya," kata Purbaya usai Konferensi Pers APBN Kita, di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Dia memandang positif perlunya diskon tarif listrik bagi korban bencana Sumatera. Apalagi, banyak masyarakat di daerah tersebut belum bisa mengais pendapatan setelah terkena bencana.

Bendahara Negara pun memandang wajar ada pengurangan tarif listrik bagi para korban yang belum bisa bekerja secara normal tersebut.

"Kalau untuk daerah bencana selama masa itu harusnya ada, termasuk dana bencana kita, karena mereka juga susah, mungkin juga, belum berproduksi beberapa tempat, jadi enggak punya uang. Kalau dikasih pengurangan ya wajar saja. Tapi saya belum nerima permintaannya," tutur dia.

Bahlil Siapkan Diskon Listrik

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah mengkaji untuk memberikan diskon tarif listrik untuk wilayah-wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Bahlil mengatakan, pemberian diskon tarif listrik ini merupakan tindak lanjut dari surat permohonan oleh beberapa kepala daerah di wilayah lokasi bencana.

"Prinsipnya, Kementerian ESDM akan memberikan diskon. Namun, kita lagi exercise berapa bulan dan biayanya berapa," ujar Bahlil di kantornya, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.

Masih Dihitung

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

"Jadi kita lagi menghitung. Tapi saya pastikan, saya akan laporkan kepada Bapak Presiden. Karena pasti Bapak Presiden juga sudah memberitahu kepada kami untuk hadir dalam melihat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh rakyat kita," bebernya. 

Bahlil mengklaim, penyaluran listrik di wilayah terdampak bencana Sumatera telah berangsur membaik. Meskipun pendistribusiannya ke beberapa wilayah masih terkendala oleh infrastruktur yang ada.  

"Kemarin kita kirim 1.000 genset kepada keluarga kita di sana, saudara-saudara kita di sana. Kenapa? Karena masih ada infrastruktur darat, tegangan rendah yang belum selesai. Masih ada kurang lebih sekitar 150 desa yang harus kita selesaikan," jelasnya. 

 

 

Bahlil Pangkas Target Produksi Nikel dan Batu Bara pada 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan menurunkan target produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengangkat harga nikel yang dinilai tertekan akibat pasokan berlebih di pasar.

Tak hanya nikel, kebijakan serupa juga akan diterapkan pada komoditas batu bara.

“Semuanya kami pangkas. Bukan hanya nikel, batu bara pun kami pangkas,” ujar Bahlil dikutip dari Antara, Minggu (21/12/2025).

Menurut Bahlil, pemangkasan target produksi dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Dengan pengaturan produksi yang lebih ketat, harga komoditas diharapkan dapat kembali bergerak ke level yang lebih sehat.

Bahlil menyoroti kondisi pasar batu bara global yang saat ini mengalami tekanan harga. Salah satu penyebabnya adalah tingginya volume batu bara yang diperdagangkan di pasar internasional. “Hari ini harga batu bara turun karena yang dijual kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton,” ucapnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam menyusun kebijakan produksi komoditas strategis ke depan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya