Liputan6.com, Jakarta - Kencan dengan menyewa sepeda motor telah jadi tren viral yang menarik perhatian di Vietnam, khususnya di kalangan anak muda. Pada suatu malam yang sejuk pada Desember 2025, My Kim (25) duduk di belakang sepeda motor, berpegangan erat pada seorang asing.
Mereka menyusuri jalanan Ho Chi Minh City yang diterangi lampu neon. Dua sepeda motor lain mengikuti di belakang, kadang-kadang menyamai My Kim, kadang-kadang tertinggal. Mereka adalah sutradara dan juru kamera, melansir VnExpress, Kamis, 8 Januari 2026.
Advertisement
Di dalam helm Kim, instruksi terdengar melalui radio, "Letakkan tanganmu dengan ringan di pinggangnya," "Lihat lurus ke depan," "Tersenyumlah secara alami." Setiap momen direkam, dan rekaman ini akan diedit para profesional sebelum dikirim ke Kim.
Itu adalah layanan sewa kencan yang memungkinkan Kim memilih "pangeran tampan dan kuda putihnya," dibanderol seharga 2 juta dong (sekitar Rp 1,3 juta). "Bersandar padanya saat kami menyusuri jalanan, saya merasa seperti pemeran utama wanita dalam drama romantis," katanya.
Layanan kencan unik ini disebut Kim "mewujudkan cita-cita romantis yang telah lama diidamkan." Sebelum Vietnam, layanan serupa sudah lebih dulu viral di China, Jepang, dan Korea Selatan, di mana "pendamping" pria profesional untuk tur kota jadi pilihan kencan, baik orang lokal maupun turis asing.
Sebuah survei oleh VnExpress menemukan bahwa ada hampir 10 kelompok ojek di Ho Chi Minh City dan lima di Hanoi yang menawarkan layanan ini. Semuanya, kata outlet itu, sudah penuh dipesan untuk dua bulan ke depan.
'Motor Vietnam' yang Populer
Di media sosial, "Motor Vietnam" telah jadi sangat populer dengan banyak unggahan dan video yang menarik jutaan penonton. Tren ini telah memicu perdebatan sengit di forum-forum sepeda motor berkapasitas tinggi dengan peluang pendapatan baru bagi pengendara dengan penampilan dan perlengkapan yang tepat.
Di Vietnam, layanan ini telah beradaptasi dengan selera dan anggaran lokal. Namun, banyak yang terkejut menemukan bahwa kualitas produksi dan profesionalisme agensi-agensi ini sama baiknya dengan rekan-rekan internasional mereka, dengan biaya yang jauh lebih murah.
Pelanggan di Ho Chi Minh City membayar mulai dari beberapa ratus ribu hingga beberapa juta dong, tergantung pada paket yang dipilih. Layanan ini bukan hanya untuk anak muda, namun juga telah memikat wanita paruh baya.
Menarik Minat Wanita Paruh Baya
Bagi Nguyen Hanh (43), kesibukan kerjanya sering kali membuatnya mengabaikan kebutuhan emosionalnya. Ia berharap dapat menemukan kembali percikan romantis masa mudanya dengan menyewa pasangan kencan.
"Pria muda yang sopan dan tampan membantu saya mengenakan helm, mengangkat saya ke atas motor, dan memperhatikan saya dengan penuh perhatian, membuat saya merasa muda kembali," katanya.
Meski sudah siap secara mental, ia mengakui bahwa ia merasa sedikit malu selama kencannya. Klip berdurasi 30 detik tentang perjalanan malamnya kemudian mendapatkan puluhan ribu penayangan di media sosial.
Nguyen Ngoc Phuoc, pendiri grup Dream Moto di Ho Chi Minh City, mencatat bahwa permintaan telah meroket sejak awal Desember 2025. Setelah video pertama mereka ditayangkan, grup tersebut menerima ribuan pertanyaan, terutama dari wanita berusia 20 hingga 40 tahun.
Ekonomi Emosi Pasca-COVID
Dengan harga 700 ribu─950 ribu dong (sekitar Rp 447 ribu─Rp 607 ribu) per video, klien dapat menikmati perjalanan dengan sepeda motor berkapasitas tinggi. Mereka bahkan menyewa pengendara untuk parade ulang tahun.
Untuk memastikan kualitas premium, kru Phuoc membatasi diri hanya pada tiga klien per malam. Sesi pemotretan biasanya melibatkan empat hingga lima karyawan, termasuk pengendara, juru kamera, dan teknisi pencahayaan.
"Kami tetap berada di jalur kami dan mematuhi peraturan lalu lintas dengan ketat. Kami menciptakan daya tarik melalui teknik pengambilan gambar, sudut kamera, dan pencahayaan, bukan melalui aksi berbahaya," jelas Phuoc.
Pham Ngoc Trung, mantan dekan pengembangan budaya di Akademi Jurnalisme dan Komunikasi, mencatat bahwa tren ini merupakan bagian dari "ekonomi emosi," yang telah berkembang pesat secara global di era pasca-COVID.
Ia berpendapat bahwa tingginya permintaan akan layanan ini menandakan pergeseran nilai-nilai tradisional Vietnam, menyudahi ekspektasi bahwa perempuan seharusnya hanya menunjukkan kasih sayang romantis pada suami atau pacarnya.