Liputan6.com, Jakarta - Korban tewas akibat banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut, mencapai 17 orang. Sedangkan warga yang mengungsi sebanyak 682 orang, dan 141 rumah rusak. Data tersebut diperbarui per Rabu (7/1/2026) sore.
"Update data terkait korban bencana banjir bandang di Sitaro, korban meninggal dunia 17 orang, dua dalam pencarian," ungkap Humas Basarnas Sulut, Nuriadin Gumeleng.
Advertisement
Tambahan dua korban meninggal yakni warga yang sakit di pengungsian dan satu lainnya yang sempat dilaporkan hilang kemudian ditemukan sudah tak bernyawa.
"Jadi hingga sore ini sudah 17 korban meninggal dunia," ujarnya.
Kronologi Korban yang Hilang Ditemukan Meninggal Dunia
Diberitakan sebelumnya, Tim Basarnas Sulut kembali menemukan satu korban banjir bandang dalam kondisi meninggal dunia. Korban atas nama Claiton Tatambihe, bocah tiga tahun yang dilaporkan hilang saat kejadian banjir bandang menerjang Kampung Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Usai penemuan itu, jumlah tewas banjir bandang Sitaro bertambah jadi 17 orang.
"Korban ditemukan di rumahnya," kata Nuriadin Gumeleng.
Setelah ditemukan korban hilang Claiton Tatambihe sekitar pukul 13.34 Wita, lanjut dia, tim SAR gabungan masih mencari dua korban hilang lainnya atas nama Adris Pianaung dan Leon Pianaung, keduanya merupakan warga Kampung Bahu.
Proses pencarian dan evakuasi, ikut dibantu aparat TNI-Polri, pihak terkait lainnya, serta masyarakat.
682 Warga Mengungsi, 141 Rumah Rusak
Bencana menerjang wilayah itu pada, Senin (5/1/2026) dini hari. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkapkan, jumlah pengungsi sementara tercatat sekitar 682 jiwa dan angka tersebut masih terus diperbarui.
"Banjir bandang juga menimbulkan kerusakan infrastruktur yakni tujuh unit rumah hanyut, 29 unit rumah rusak berat, dan 112 unit rumah rusak ringan," ujarnya.
Sejumlah akses jalan dilaporkan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan.
"Pendataan kerugian materiil masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan," ujarnya.
Pemerintah daerah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro selama 14 hari, terhitung mulai 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Ini sesuai dengan Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 1 Tahun 2026.
"Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dalam penanganan intensif, dengan prioritas pada pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak," papar dia.
Hingga satu pekan ke depan, cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang di seluruh wilayah Tanah Air.
"BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan menyikapi prakiraan cuaca tersebut yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi basah. Pemerintah daerah khususnya BPBD diimbau untuk secara rutin memantau kondisi wilayahnya, khususnya area yang memiliki risiko bencana tinggi," ujarnya memungkasi