Liputan6.com, Oslo - Lima dari enam pekerja tewas dalam kecelakaan kerja di anjungan pengeboran minyak semi-submersible Byford Dolphin yang beroperasi di Laut Utara, dekat Norwegia. Insiden fatal itu terjadi saat para pekerja menjalankan tugas perawatan rutin bawah laut pada November 1983.
Kecelakaan tersebut melibatkan empat penyelam dan dua asisten penyelam yang tengah bekerja pada kedalaman sekitar 295 kaki di bawah permukaan laut. Para korban diketahui menjalani misi penyelaman bertekanan tinggi, salah satu pekerjaan paling berisiko di industri minyak dan gas lepas pantai.
Advertisement
Empat penyelam yang menjadi korban adalah Roy P. Lucas (38) dan Edwin Arthur Coward (35) asal Inggris, serta Truls Hellevik (34) dan Bjørn Giaever Bergersen (29) asal Norwegia. Dua asisten penyelam, William Crammond (32) dan Martin Saunders (30), turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Menurut laporan yang dikutip Daily Express, Selasa (13/1/2026), para pekerja ditempatkan di ruang dekompresi khusus untuk mencegah penyakit dekompresi akibat perubahan tekanan ekstrem selama misi yang direncanakan berlangsung hingga 28 hari. Di dalam fasilitas tersebut, mereka bernapas menggunakan campuran gas oksigen dan helium.
Untuk menuju lokasi kerja di dasar laut, para penyelam menggunakan lonceng selam (diving bell), kapsul bertekanan tinggi yang dirancang untuk memindahkan pekerja dengan aman dari anjungan ke dasar laut. Namun, kecelakaan yang terjadi dalam proses tersebut berujung pada salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah penyelaman industri.
Insiden Byford Dolphin kemudian tercatat sebagai peringatan keras akan bahaya ekstrem yang dihadapi pekerja penyelaman lepas pantai, khususnya terkait risiko perubahan tekanan yang dapat menyebabkan cedera fatal hingga kematian.
Kesalahan Prosedur Menjadi Malapetaka
Detik-detik menjelang kejadian yang berakibat fatal terjadi pada 5 November, penyelam Hellevik dan Bergersen menyelesaikan shift selama 12 jam, dibantu oleh asistennya yaitu Saunders dan Crammond yang kembali menggunakan lonceng selam untuk memasuki ruangan dekompresi dan harus menurunkan tekanan terlebih dahulu, sehingga proses dekompresi dapat dilakukan secara bertahap dan aman.
Lonceng selam tersebut pun harus disegel dengan rapat sebelum mereka berada di ruangan bertekanan tinggi itu. Namun, tekanan di ruang dekompresi (diving chamber) bagian dalam 1 dan 2 tiba-tiba anjlok yang seharusnya diturunkan perlahan dari tekanan sembilan atmosfer menjadi satu atmosfer.
Dalam seperkian detik ruangan meledak karena William yang menjaga seluruh ruang agar tetap tertutup secara tiba-tiba membuka klem pengunci lonceng selam, sementara Hellevik belum sepenuhnya menutup pintu yang berada di dalam ruang dekompresi.
Ledakan pada ruang dekompresi yang belum sempurna tersegel menyebabkan semburan udara mendadak keluar dari ruang tersebut dan mendorong lonceng selam dengan sangat keras hingga menghantam asistennya, Crammond yang tewas di tempat.
Tiga penyelam di dalam ruang dekompresi lainnya diyakini meninggal di waktu bersamaan akibat nitrogen dalam darah mereka berubah menjadi gelembung, yang merusak jaringan tubuh sangat parah.
Posisi Hellevik berada paling dekat dengan pintu ruang yang belum sepenuhnya tertutup langsung tersedot melalui celah yang lebarnya sekitar 60 sentimeter. Organ-organ tubuh—bagian perut dan dada terburai keluar akibat tekanan itu. Laporan autopsi menyebutkan bahwa bagian atas tengkorak dan otaknya hilang, sementara jaringan lunak pada wajah ditemukan terpisah dari tulangnya.
Sementara itu, Martin Saunders menjadi satu-satunya korban selamat meski mengalami cedera parah, termasuk kerusakan serius pada paru-paru, serta patah tulang punggung dan leher.
Minimnya Perlengkapan Keamanan Penyelam
Tragedi ini tak lepas dari kegagalan sistem keamanan dan keselamatan sejak penyelaman dilakukan dari 1975, yang menunjukkan umur alat tersebut terlalu tua untuk terus beroperasi tanpa ada pergantian alat yang lebih canggih dan menyesuaikan dengan kebutuhan para penyelam.
Kebutuhan yang menjamin keselamatan mereka dari anjungan pengeboran minyak tersebut dapat dikatakan kurangnya perlengkapan yang memadai, karena tidak dilengkapi dengan palka pengaman yang berfungsi melindungi muatan agar tetap kering dari air laut, pengukur tekanan eksternal, maupun mekanisme penguncian tambahan yang dapat mencegah ruang terbuka saat masih berada dalam ruang bertekanan tinggi.
Pada akhirnya pengoperasian di anjungan pengeboran minyak Byford Dolphin yang telah berpindah kepemilikan ini dinonaktifkan pada 2019, dan dijual untuk dihancurkan pada tahun 2020-an.
Pekerjaan berisiko yang dilakukan para penyelam di industri migas lepas pantai tidak terlepas dari standar keselamatan yang gagal dijalankan secara maksimal, sehingga setiap tahapan prosedur perlu memiliki sistem pengamanan ganda yang juga diterapkan pada setiap pekerjaan lainnya yang juga memiliki tingkat risiko tinggi.