8 Januari 1991: Tabrakan Kereta Komuter di Stasiun Cannon Street Tewaskan 2 Orang

Bagaimana kronologi dan jumlah korban jiwa akibat kecelakaan ini?

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 08 Januari 2026, 06:00 WIB
Kereta api dengan "pintu banting" sudah ada sejak tahun 1920-an (dok. Londong Fire Brigade)

Liputan6.com, London - Sebuah kereta komuter dari Sevenoaks, Kent, menabrak penyangga pembatas di stasiun Cannon Street, London, pada pukul 08.44 GMT waktu setempat. Peristiwa tersebut merupakan kejadian tragis bagi perkeretaapian Inggris yang terjadi tepat pada tanggal 8 Januari 1991.

Kecelakaan tersebut diduga karena rem kereta api yang mungkin mengalami kerusakan. Saat itu kereta melaju dengan kecepatan tidak lebih dari lima mil (delapan kilometer) per jam.

Akibatnya, lima belas orang terjebak di dalam kereta setelah gerbong ke-enam (dari total sepuluh gerbong), terdorong ke atas gerbong ke-lima akibat benturan keras yang terjadi. Kecelakaan yang melibatkan sekitar 1.000 penumpang tersebut hendak menuju kawasan distrik keuangan. 

Operasi penyelamatan besar segera dilakukan dengan mengerahkan 80 petugas pemadam kebakaran, 100 kru ambulans, dan 11 dokter ke lokasi, menurut laporan BBC, Kamis (8/1/2026).

Dampak dari tabrakan tersebut mengakibatkan 542 orang terluka dan merenggut dua nyawa. Korban pertama yaitu Martin Strivens (24), seorang programmer komputer asal Kent, meninggal dunia karena serangan jantung setelah dievakuasi dari reruntuhan. 

Korban kedua bernama Patricia McCay (59) asal Forest Hill, London Selatan, menghembuskan nafas terakhir tiga hari setelah insiden akibat cedera parah. 

Paramedis Peter Westwood menggambarkan situasi di lapangan dengan penuh keprihatinan.

Ia berkata, "Itu benar-benar kekacauan, hanya berupa bangkai yang kusut di mana kedua gerbong itu menyatu. Itu pemandangan yang cukup mengerikan, percayalah."

Para penumpang yang selamat menuturkan momen panik di dalam gerbong. Denise Farrelly (20), menceritakan pengalamannya, "Saya hanya ingat lampu padam dan kursi-kursi terlempar ke udara. Orang-orang saling bertabrakan dan kaki seorang wanita terjepit di antara dua kursi."

Kesaksian serupa datang dari Christina Gale (38) yang terjepit di antara penumpang lain. "Semuanya menjadi sunyi. Kursi saya mendarat di atas saya. Ada seorang pria terlempar di depan saya, dia tadinya duduk empat baris di belakang," ungkapnya. 

Dr. Kenneth Hines, Koordinator unit London dari British Association for Immediate Care (Basics), menyebut proses evakuasi sebagai "kekacauan yang terorganisir" karena banyaknya korban dengan cedera di anggota tubuh.

Temuan Penyelidikan dan Aturan Baru

Kecelakaan kereta komuter di London gagal melakukan pengereman (dok. London Fire Brigade)

Penyelidikan mendalam segera dilakukan menyusul pertanyaan keras mengenai keamanan armada tua British Rail. Jimmy Knapp, Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Kereta Api Inggris, menegaskan, "Kami ingin tahu mengapa kereta gagal berhenti dan juga mengapa kereta tersebut gagal menahan benturan pada kecepatan rendah."

Laporan resmi Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan (HSE) menyimpulkan bahwa tidak ada cacat teknis pada sistem pengereman atau jalur rel. Kecelakaan dinyatakan sebagai akibat dari kesalahan masinis Maurice Graham yang dinilai "gagal melakukan pengereman dengan benar."

Maurice Graham (25) ditemukan jejak ganja di dalam darahnya setelah dilakukan tes narkoba setelah tiga hari sejak insiden tersebut, namun penyelidikan tidak menemukan bukti cukup bahwa hal tersebut menjadi penyebab utama kecelakaan.

Sebanyak 15 rekomendasi dibuat dalam laporan tersebut, termasuk kewajiban tes narkoba dan alkohol bagi masinis, pemasangan "kotak hitam" perekam data, penerapan teknologi perlindungan kereta otomatis, serta penarikan seluruh gerbong kereta model lama guna mencegah terulangnya tragedi serupa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya