Pasar Saham Indonesia Terkendali di Tengah Ketegangan AS–Venezuela

Pasar saham Indonesia (IHSG) dinilai masih cukup tangguh dalam menghadapi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 06 Januari 2026, 17:10 WIB
Peserta memantau monitor bursa saham pasar modal di Bursa Efek Jakarta, Selasa (17/11). Hal ini sejalan dengan salah satu inisiatif pemerintah melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni menambah jumlah investor pasar modal. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas pasar keuangan global maupun pasar saham Indonesia.

Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai respons pasar sejauh ini masih dalam batas wajar karena konflik tersebut belum berkembang menjadi gangguan sistemik.

“Menurut saya, dampaknya lebih ke sentimen jangka pendek, bukan guncangan sistemik. Pasar global menilai konflik AS–Venezuela belum mengganggu stabilitas keuangan global secara langsung, sehingga respon pasar saham, termasuk Indonesia, relatif terkendali,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, Selasa (6/1/2025).

Ia menambahkan bahwa selama ketegangan tersebut tidak memicu tekanan lanjutan pada indikator global utama, ruang gerak pasar saham domestik masih relatif aman.

“Selama tidak memicu lonjakan inflasi global atau kenaikan yield obligasi AS, dampaknya ke IHSG cenderung terbatas,” katanya.

Reydi menjelaskan bahwa dampak paling nyata justru terlihat pada sektor berbasis komoditas, terutama energi dan emas. Sektor energi, khususnya minyak, merespons isu keterbatasan pasokan akibat faktor geopolitik, sementara emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai.

 

 

Kenaikan Harga Minyak hanya Sementara

Pekerja tengah melintas di dekat papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (29/12/2017), IHSG menguat 41,60 poin atau 0,66 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, sektor non-komoditas dan saham domestik berbasis konsumsi dinilai relatif tidak terlalu terpengaruh mengingat minimnya hubungan ekonomi langsung antara Indonesia dan Venezuela.Terkait harga minyak, Reydi menyebut potensi kenaikan masih bersifat sementara.

“Serangan ini berpotensi mendorong harga minyak naik secara jangka pendek karena faktor geopolitik dan risiko suplai. Namun kenaikannya cenderung bersifat reaktif dan tematik, bukan tren jangka panjang, kecuali konflik berkembang dan berlarut-larut yang menjadikan peristiwa ini gangguan sistemik,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya