Liputan6.com, Caracas - Gelombang foto dan video hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) terkait penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beredar luas di media sosial menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang “serangan berskala besar” terhadap Venezuela, Sabtu pagi waktu setempat (3/1/2026).
Tak lama setelah pernyataan Trump disampaikan, lini masa berbagai platform digital dipenuhi gambar-gambar palsu yang menampilkan Maduro digiring turun dari pesawat oleh aparat penegak hukum AS hingga visual rudal yang seolah-olah menghujani ibu kota Caracas. Konten tersebut dengan cepat menyebar dan bercampur dengan dokumentasi asli operasi militer AS, memicu kebingungan di tengah publik global.
Advertisement
Menurut laporan The Guardian yang terbit Selasa (6/1), ketiadaan informasi terverifikasi mengenai situasi di Caracas pada jam-jam awal operasi, ditambah kemampuan teknologi AI yang semakin realistis, membuat batas antara fakta dan rekayasa visual semakin sulit dibedakan.
Situs pemeriksa fakta NewsGuard dalam laporan yang dirilis Senin (5/1/2026) mencatat penyebaran masif konten menyesatkan tersebut. Saat Trump akhirnya mengunggah foto terverifikasi yang memperlihatkan Maduro dengan mata tertutup, tangan diborgol, dan mengenakan celana olahraga abu-abu di atas kapal perang USS Iwo Jima, sejumlah narasi palsu sudah terlanjur viral.
NewsGuard mengidentifikasi sedikitnya lima foto hasil rekayasa AI serta dua video yang disajikan di luar konteks terkait peristiwa tersebut. Seluruh konten itu, menurut NewsGuard, telah meraih lebih dari 14 juta tayangan hanya di platform X. Gambar-gambar serupa juga tersebar luas di Instagram, Facebook, dan TikTok.
Salah satu visual palsu yang paling banyak dibagikan menampilkan agen Badan Penegakan Narkoba Amerika Serikat (DEA) seolah-olah sedang mengawal Maduro dalam kondisi ditangkap. Foto tersebut dilihat dan dibagikan jutaan kali sebelum diklarifikasi sebagai hasil manipulasi digital.
Editor senior NewsGuard, Sofia Rubinson, mengatakan kemiripan visual antara konten palsu dan dokumentasi nyata menjadi tantangan serius bagi publik dalam memverifikasi informasi.
“Banyak visual yang dihasilkan AI dan konten di luar konteks yang membanjiri media sosial saat ini tidak secara mencolok memutarbalikkan realitas di lapangan,” kata Rubinson kepada The Guardian. “Justru karena terlihat masuk akal, konten-konten ini lebih sulit dikenali sebagai hoaks.”
Meningkatnya peredaran visual rekayasa AI dalam situasi krisis geopolitik ini kembali memunculkan kekhawatiran soal dampak disinformasi digital terhadap persepsi publik dan stabilitas internasional.
Pejabat dan Influencer Terjebak Konten Lama
Gelombang disinformasi tersebut turut menyeret tokoh publik. Wali Kota Coral Gables, Florida, Vince Lago, ikut mengunggah foto palsu Maduro bersama agen DEA di akun instagram-nya.
Dalam unggahan yang masih ada saat artikel ditulis, Lago menyebut bahwa presiden Venezuela tersebut, "Adalah pemimpin organisasi narco-terrorist yang mengancam negara kita."
Selain rekayasa AI, rekaman peristiwa masa lalu juga didaur ulang seolah-olah terjadi pada Sabtu lalu. Influencer sayap kanan, Laura Loomer, sempat mengunggah video perobekan poster Maduro yang diklaim sebagai respons terkini, padahal menurut Wired, video itu berasal dari tahun 2024.
Senada dengan Loomer, Alex Jones juga membagikan video udara yang memperlihatkan kerumunan massa dengan klaim keliru.
"Jutaan rakyat Venezuela membanjiri jalanan Caracas dan kota-kota besar lainnya untuk merayakan penggulingan diktator Komunis Nicholas Maduro," tulis Jones di platform X. "Sekarang kita perlu melihat jenis energi yang sama di sini, di HomeFront!"
Video itu telah ditonton lebih dari 2,2 juta kali. Namun, fitur moderasi Catatan Komunitas dan penelusuran gambar terbalik membuktikan bahwa tayangan tersebut adalah rekaman protes pasca-sengketa Pilpres Venezuela pada Juli 2024.
Grok, chatbot AI milik platform X, juga membantah klaim Jones dengan menyatakan, "Sumber saat ini tidak menunjukkan perayaan seperti itu di Caracas hari ini, melainkan pertemuan pro-Maduro."