Liputan6.com, Jakarta - Harga tembaga dunia kembali mencatatkan sejarah baru dengan menembus level USD 13.000 atau sekitar Rp 218 juta (estimasi kurs Rp 16.765 per USD) per ton untuk pertama kalinya. Pencapaian rekor termahal ini mencerminkan tekanan pasokan global yang semakin ketat di tengah lonjakan impor Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Yahoo Finance, Selasa (6/1/2026), reli harga yang sangat cepat ini menegaskan kembali posisi tembaga sebagai salah satu komoditas paling strategis di pasar global, terutama di tengah transisi energi dan meningkatnya kebutuhan logam untuk pusat data, kendaraan listrik, serta infrastruktur kelistrikan.
Advertisement
Di London Metal Exchange (LME), harga acuan tembaga melonjak hingga 4,7 persen pada perdagangan awal pekan, melanjutkan tren penguatan yang telah mendorong harga naik sekitar 20 persen sejak pertengahan November.
Lonjakan ini tidak terlepas dari meningkatnya pengiriman tembaga ke Amerika Serikat (AS), yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump.
Kondisi tersebut membuat harga tembaga di pasar AS diperdagangkan dengan premi signifikan dibandingkan harga di LME, sehingga mendorong arus logam dari pasar global menuju Negeri Paman Sam.
Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa negara-negara lain berpotensi mengalami kekurangan pasokan tembaga, terutama karena persediaan global di luar AS berada di level rendah.
Para investor pun semakin agresif masuk ke pasar tembaga, melihat peluang kenaikan harga lanjutan di tengah terbatasnya pasokan dan meningkatnya permintaan jangka panjang.
Kombinasi faktor kebijakan, gangguan produksi, serta sentimen spekulatif menjadikan reli tembaga kali ini sebagai salah satu yang paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Lonjakan Impor AS Jadi Pemicu Utama
Analis BMO Capital Markets, Helen Amos, menyebut peningkatan persediaan tembaga di AS yang bersifat historis sebagai pendorong utama lonjakan harga tembaga global.
Ancaman tarif impor yang belum jelas arahnya membuat pelaku pasar berlomba mengirim logam ke AS, menciptakan distorsi arus pasokan global.
Data perdagangan menunjukkan impor tembaga AS pada Desember melonjak ke level tertinggi sejak Juli, memperkuat tekanan di pasar internasional. Menurut UBS, Amerika Serikat kini menguasai sekitar setengah dari persediaan tembaga global, meski hanya menyumbang kurang dari 10 persen dari permintaan dunia.
Faktor Spekulasi dan Gangguan Tambang
Selain faktor kebijakan, reli harga juga dipicu oleh aktivitas spekulatif. Al Munro dari Marex menilai aksi beli di pasar banyak didorong oleh ekspektasi kenaikan lanjutan, terutama pada kuartal pertama 2026. Pemogokan di tambang Mantoverde di Chile turut memperkuat sentimen pasar.
Gangguan pasokan lain, seperti kecelakaan fatal di tambang tembaga besar di Indonesia dan banjir bawah tanah di Republik Demokratik Kongo, juga memperburuk kondisi pasar yang sudah ketat akibat minimnya investasi tambang baru selama bertahun-tahun.
Kekhawatiran Jangka Panjang Pasokan Global
Tembaga semakin menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri karena perannya yang krusial dalam transisi energi. Namun, investasi tambang baru dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan, sementara tambang eksisting menghadapi berbagai kendala operasional.
“Persediaan yang rendah di bursa utama di luar AS menyisakan ruang yang sangat terbatas untuk menyerap gangguan pasokan tambahan,” kata Ewa Manthey dari ING Groep. Kondisi ini memperbesar risiko volatilitas harga dalam waktu dekat.
Meski analis UBS memperkirakan pasar tembaga olahan global akan mencatat surplus pada 2025, distorsi akibat kebijakan tarif AS dinilai terus memperketat pasokan jangka pendek.
Dengan ketidakpastian kebijakan dan arus logam yang tidak seimbang, harga tembaga diperkirakan tetap berada di level tinggi dan rawan gejolak dalam beberapa waktu ke depan.