Wall Street Reli, Dow Jones Naik Hampir 600 Poin Cetak Rekor Usai Aksi AS di Venezuela

Wall Street melonjak dengan Dow Jones naik hampir 600 poin dan mencetak rekor baru usai aksi AS di Venezuela.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Januari 2026, 07:55 WIB
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Pasar Wall Street menguat tajam, investor optimistis konflik Venezuela tak meluas. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Wall Street ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin, meski Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap pemimpinnya, Nicolas Maduro.

Investor menilai aksi tersebut tidak akan berkembang menjadi konflik geopolitik besar yang berpotensi mengguncang pasar global.

Dikutip dari CNBC, Selasa (6/1/2026), indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,79 poin atau 1,23% dan ditutup di level 48.977,18, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sepanjang sesi, indeks beranggotakan 30 saham ini juga sempat menyentuh rekor intraday.

S&P 500 naik 0,64% ke posisi 6.902,05, sementara Nasdaq Composite menguat 0,69% dan berakhir di 23.395,82.

Saham sektor energi memimpin penguatan Wall Street, seiring ekspektasi bahwa perusahaan-perusahaan AS akan diuntungkan dari upaya pembangunan kembali infrastruktur minyak Venezuela.

Saham Chevron melonjak 5,1% dan dinilai menjadi penerima manfaat terbesar karena masih memiliki kehadiran di Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Exxon Mobil menguat 2,2%. Sementara itu, saham perusahaan jasa ladang minyak seperti Halliburton dan SLB masing-masing melesat 7,8% dan hampir 9%. ETF Energy Select Sector SPDR (XLE) juga naik hampir 3%.

“Dalam jangka pendek, ini mungkin akan mendorong harga minyak karena muncul pertanyaan soal pasokan dan distribusi,” ujar Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall, kepada CNBC.

“Namun dalam jangka panjang, ini bisa menjadi perbaikan karena Venezuela hanya menyumbang sekitar 1% pasokan minyak dunia dan infrastrukturnya terus memburuk selama bertahun-tahun. Infrastruktur tersebut perlu diperbaiki, dan mungkin AS bisa membantu," tambah dia. 

 

Aset Lindung Nilai

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Di tengah reli saham, investor juga menambah eksposur ke aset lindung nilai. Kontrak berjangka emas melonjak 2,8%, mencatatkan kenaikan harian terbaik sejak 20 Oktober. Bitcoin diperdagangkan di atas USD 94.000.

Saham sektor keuangan di Wall Street turut menguat, mencerminkan optimisme terhadap ekonomi AS tahun ini. Saham bank besar Goldman Sachs naik 3,7%, sedangkan U.S. Bancorp menguat 2,9%.

“Pasar pada dasarnya mengatakan, ‘Kami akan kembali mengalokasikan dana setelah aksi tax-loss harvesting dan penyesuaian portofolio di akhir 2025, lalu membeli kembali saham pada awal 2026,’” lanjut Stovall.

“Investor masih fokus pada langkah The Fed dan kinerja laba perusahaan. Sejauh ini, suasananya tetap risk-on.”

 

Nicolas Maduro Diterbangkan ke New York

Dok. Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto: @nicolasmaduro/Instagram

Pasca operasi militer AS, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York dan didakwa atas konspirasi terorisme narkotika serta kejahatan lainnya. Dalam dakwaan disebutkan bahwa perdagangan narkoba “telah memperkaya dan mengokohkan elite politik dan militer Venezuela.”

Presiden Donald Trump mengatakan AS akan “menjalankan” Venezuela “hingga tercapai transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.”

Analis kebijakan Evercore ISI, Matthew Aks, menilai peristiwa ini signifikan secara geopolitik, namun kecil kemungkinan menjadi penggerak pasar besar dalam waktu dekat.

“Untuk saat ini, investor kembali menghadapi lanskap yang sudah familiar berupa ambiguitas yang disengaja terkait langkah Trump selanjutnya,” tulis Aks.

Ia menambahkan, meski Trump kerap mengkritik perang darat skala besar, pernyataannya masih membuka peluang bahwa aksi ini tidak berhenti pada satu langkah saja.

Di sisi lain, saham perusahaan pertahanan juga menguat. General Dynamics naik 3,5% dan Lockheed Martin bertambah 2,9%, seiring pandangan bahwa serangan militer cepat akan menjadi bagian penting dari kebijakan Trump dalam merespons isu geopolitik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya