Liputan6.com, Caracas - Putra mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Nicolas Maduro Guerra, angkat bicara usai penangkapan ayahnya oleh pasukan Amerika Serikat. Dalam pesan audio yang beredar di media sosial pada Minggu (4/1/2026), ia mengisyaratkan adanya pengkhianatan dari lingkaran dalam yang membuka jalan bagi operasi penangkapan tersebut.
“Sejarah akan membuktikan siapa pengkhianatnya,” kata Maduro Guerra singkat, tanpa menyebut pihak tertentu. Pernyataan itu langsung menyulut kemarahan dan kecurigaan di kalangan pendukung Maduro, yang menilai penangkapan tersebut mustahil terjadi tanpa bantuan orang dalam.
Advertisement
Beberapa jam setelah pesan audio itu beredar, sekitar 2.000 pendukung Maduro turun ke jalan di Caracas untuk menuntut pembebasan mantan presiden dan istrinya, yang ditangkap pasukan AS dan diterbangkan ke New York. Aksi unjuk rasa berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan politik nasional menyusul operasi penangkapan yang mengejutkan pemerintah dan basis pendukung Maduro.
Demonstrasi dikawal kelompok paramiliter serta pengendara motor pro-Maduro. Massa mengibarkan bendera nasional Venezuela berwarna merah, biru, dan kuning, serta membawa poster bernada perlawanan terhadap Amerika Serikat, dikutip dari laman TRT World, Senin (5/1).
“Bebaskan presiden kami,” tertulis pada salah satu plakat yang dibawa seorang pria mengenakan kemeja flanel merah bergambar mendiang Hugo Chávez, pendahulu sekaligus mentor politik Maduro. Poster lainnya berbunyi, “Venezuela bukan koloni siapa pun,” menyindir pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya yang mengatakan Washington akan “mengelola” Venezuela selama masa transisi yang tidak ditentukan.
Maduro dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan New York pada Senin terkait dakwaan “narkoterorisme” atas dugaan penyelundupan kokain ke Amerika Serikat. Ia selama ini membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa politik.
Sementara itu, informasi mengenai korban akibat operasi penangkapan masih simpang siur. Sejumlah rumah sakit di Venezuela menolak mengungkapkan jumlah korban tewas maupun luka-luka. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López mengatakan “sebagian besar” tim pengamanan Maduro tewas “secara brutal,” bersama personel militer dan warga sipil, namun tidak merinci angka. Sebuah kelompok dokter menyebut kepada AFP sekitar 70 orang tewas dan 90 lainnya terluka.
Di tengah ketidakjelasan itu, spekulasi soal lemahnya sistem pertahanan negara semakin menguat. Para demonstran mempertanyakan bagaimana pasukan khusus AS bisa menembus pengamanan ketat dan menangkap Maduro di pangkalan militer terbesar di Venezuela.
“Bagaimana mungkin pertahanan udara tidak berfungsi?” kata seorang akuntan berusia 69 tahun yang memperkenalkan diri sebagai Papa Juancho. “Dengan tingkat pengamanan yang dimilikinya, ini seharusnya tidak pernah terjadi. Ini pasti ulah pengkhianat.”
Pernyataan Maduro Guerra dan kemarahan para pendukungnya menambah tekanan politik di Caracas. Massa berjanji akan terus menggelar aksi hingga Maduro dibebaskan, sementara krisis politik Venezuela memasuki fase paling genting dalam beberapa tahun terakhir.