Harga Emas Awal Pekan 2026 Naik atau Turun? Simak Ramalannya

Simak prediksi harga emas pekan ini di awal 2026.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Januari 2026, 11:00 WIB
Ilustrasi Harga Emas Hari Ini di Dunia. Foto: DAVID GRAY | AFP

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan emas dalam sepekan ke depan bergerak fluktuatif, antara koreksi tajam atau lonjakan signifikan.

Pada penutupan Sabtu pagi (3/1/2026) harga emas dunia berada di level USD 4.332 per troy ounce, sementara harga logam mulia di dalam negeri tercatat Rp 2.488.000 per gram. Level ini menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

“Kita awali bahwa hari Sabtu kemarin, Sabtu pagi harga emas dunia ditutup di level USD 4.332. Kemudian logam mulianya ditutup di Rp 2.488.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).

Menurut proyeksinya, jika tekanan pasar meningkat di awal pekan, harga emas dunia berpotensi turun hingga USD 4.258 dan menyeret harga logam mulia ke Rp 2.458.000. 

“Kalau seandainya harga emas dunia dalam transaksi di hari Senin turun, diperkirakan di USD 4.258 maka harga logam mulia itu di Rp 2.458.000, ada penurunan Rp 30.000,” ujarnya.

Namun sebaliknya, jika sentimen global kembali memanas, reli tajam justru berpeluang terjadi. Harga emas dunia diproyeksikan melonjak dikisaran USD 4.426.

“Tetapi apabila harga emas dunia naik, di hari Senin melonjak tinggi di USD 4.426, maka harga logam mulia itu diperdagangkan di Rp 2.518.000,” ujarnya.

 

Faktor Rupiah

Petugas memperlihatkan uang pecahan US$100 dan rupiah di pusat penukaran uang, Jakarta, , Rabu (12/8/2015). Reshuffle kabinet pemerintahan Jokowi-JK, nilai Rupiah terahadap Dollar AS hingga siang ini menembus Rp 13.849. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan, skenario terburuk bagi emas terjadi apabila dolar Amerika Serikat menguat dan sentimen risiko mereda. Dalam kondisi tersebut, emas dunia diperkirakan bisa turun hingga USD 4.196, yang akan mendorong harga logam mulia domestik jatuh ke kisaran Rp 2.400.000 per gram.

“Kemudian apabila sampai hari Jum'at harga emas dunia turun, misal turun di USD 4.196, logam mulianya itu di Rp 2.400.000. Jadi akan ditutup di Rp 2.400.000 apabila harga emas dunia turun, Rupiah pun juga ikut menguat dan logam mulia di Rp 2.400.000,” ujarnya.

Penguatan dolar ini sangat bergantung pada pergerakan indeks dolar. Support terdekat berada di 98.098 hingga 97.834, sementara resistance di 98.680 dan 98.926 menjadi penentu apakah dolar kembali perkasa atau justru melemah.

Namun jika indeks dolar gagal bertahan dan rupiah ikut tertekan, harga emas justru berpotensi bergerak berlawanan arah. Kondisi ini membuat pasar emas berada dalam rentang yang sangat lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian global dalam waktu singkat.

 

 

 

Geopolitik dan Politik AS

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Dari sisi fundamental, lonjakan harga emas dipicu eskalasi geopolitik global. Ketegangan perang Rusia–Ukraina kembali meningkat pasca serangan drone yang memicu respons militer besar-besaran Rusia di era kepemimpinan Vladimir Putin, memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Di Amerika Latin, pasar juga diguncang oleh aksi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Langkah ini memicu kecaman internasional dan memperbesar kekhawatiran konflik geopolitik lintas kawasan.

“Nah, ini yang membuat ketegangan tersendiri sehingga membuat harga emas dunia melonjak kemudian rupiah pun kemungkinan besar melemah dan ini akan berdampak terhadap naiknya harga logam mulia programnya,” pungkasnya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya