Liputan6.com, Washington D.C - Eksperimen terhadap SL-1 (Stationary Low-Power Reactor 1)—sebuah reaktor air mendidih—bertujuan untuk mengembangkan reaktor nuklir berukuran kecil yang dapat digunakan oleh Angkatan Darat Amerika Serikat. Namun, kecelakaan dari pengujian di laboratorium yang terjadi di Idaho pada 3 Januari 1961 telah menewaskan tiga personel militer yang sedang bertugas.
Laboratorium Nasional Idaho (INL) menjadi lokasi penelitian dari 52 reaktor yang mempelajari energi nuklir. Pembuatan dan pengujian dengan bahan dasar mematikan ini bertepatan dengan kondisi di Amerika Serikat yang berada di puncak Perang Dingin. Perlombaan teknologi nuklir semakin besar sejak Uni Soviet meluncurkan Sputnik pada 1957, sehingga pengoperasian reaktor SL-1 dilanjutkan dari tahun 1958 yang sekaligus mendukung pembuatan senjata, dilansir dari East Idaho News, Sabtu (3/1/2026).
Advertisement
Tiga personel Angkatan Laut AS, yaitu Richard Legg (26), John Byrnes (22), dan Richard McKinley (27), sedang bersiap untuk menghidupkan kembali reaktor setelah penutupan pemeliharaan selama 11 hari sekitar pukul 21.00 malam waktu setempat.
Menurut juru bicara Laboratorium Nasional Idaho (INL), mengatakan bahwa cara menghidupkannya membutuhkan proses yang bertahap untuk beroperasi dengan daya penuh.
Namun, pada salah satu tahap, batang kendali utama yang ditarik oleh Byrness terlalu cepat dan terlalu jauh dari inti reaktor. Ia menarik lebih dari enam kali lipat dari batas maksimum empat inci yang mengakibatkan lonjakan daya yang sangat besar.
Akibatnya, reaktor langsung melampaui dengan cepat dari batas operasional dan memicu reaksi berantai tak terkendali dari inti reaktor yang terlalu panas ini berujung pada ledakan hebat.
Upaya Penyelamatan Berisiko Paparan Radiasi
Alarm berbunyi tak lama setelah ledakan yang langsung menewaskan dua pria di tempat kejadian. Tim tanggap darurat tiba dalam hitungan menit setelah mengira tidak ada yang mencurigakan karena bagian luar gedung reaktor tampak normal serta telah terjadi dua alarm palsu sebelumnya pada hari itu. Dugaan itu ternyata berubah drastis setelah memasuki gedung dan mendapati alat deteksi yang menunjukkan tingkat radiasi sangat tinggi.
Byrness yang berada paling dekat langsung terhempas ke dinding beton, sementara Legg terlempar ke atas yang menghantam langit-langit gedung. Kedua pria tewas seketika, dan McKinley dikabarkan tidak sadarkan diri yang segera dievakuasi sebelum akhirnya ia meninggal karena sejumlah luka serius saat menunggu tenaga medis tiba.
Tim evakuasi terpaksa masuk gedung secara bergantian dengan waktu selama 65 detik per orang untuk mengurangi paparan radiasi. Jenazah korban—Legg dan Byrness—yang terkena radiasi sangat parah ditemukan berada di bawah reruntuhan puing-puing ini kemudian dimakamkan dalam peti berlapis timbal.
Meskipun ledakan bersifat fatal dan radiasi yang sangat kuat terlepas di udara, kontanminasi radiasi sebagian besar terbatas di dalam gedung sehingga tidak berdampak luas ke lingkungan sekitar. Pembersihan lokasi pun memakan waktu 10 hingga 18 bulan, setelah itu SL-1 akhirnya dinonaktifkan dan dibongkar.