Prediksi Suram Bitcoin 2026: Investor Institusi Bisa Picu Kejatuhan Harga

Peringatan terbaru soal Bitcoin muncul di awal 2026, didukung sinyal teknikal yang dinilai mengkhawatirkan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 03 Januari 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder asal Kanada, Frank Giustra, memperingatkan potensi tekanan besar terhadap harga Bitcoin jika perusahaan-perusahaan treasury yang membeli aset kripto tersebut dengan dana pinjaman mulai menghadapi masalah keuangan.

Giustra, yang dikenal sebagai pengusaha tambang, finansier, sekaligus filantropis, menilai perusahaan-perusahaan tersebut pada akhirnya bisa terpaksa menjual kepemilikan Bitcoin mereka dalam jumlah besar.

Langkah itu, menurut dia, berisiko memicu kejatuhan harga yang signifikan di pasar.

“Jika perusahaan treasury Bitcoin mengalami masalah, akan terjadi pelepasan aset, dan Bitcoin akan diperdagangkan jauh lebih rendah,” tulis Giustra dikutip dari coinmarketcap, Sabtu (3/1/2026).

“Jika saya salah, itu tidak akan mengubah hidup saya,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Giustra dalam perdebatan sengit di platform X (sebelumnya Twitter) pada Kamis malam.

Diskusi itu dipicu oleh unggahan komentator politik Bo Hines, mantan penasihat Gedung Putih, yang menyebut bahwa “siapa pun yang pesimistis terhadap Bitcoin menjelang 2026 adalah orang bodoh”.

Giustra menanggapi pernyataan tersebut dengan menekankan bahwa sikap hati-hati bukanlah pesimisme, melainkan bentuk perlindungan dari perilaku spekulatif atau “judi”.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Sudah Ada Buktinya

Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Kekhawatiran Giustra juga diperkuat oleh kinerja saham Strategy, perusahaan treasury Bitcoin terbesar di dunia. Sepanjang 2025, saham perusahaan tersebut dilaporkan anjlok lebih dari 50 persen. Sebelumnya, Giustra bahkan sempat menyebut CEO Strategy, Michael Saylor, sebagai “Bitcoin charlatan”.

Dari sisi teknikal, sinyal tekanan terhadap Bitcoin juga mulai bermunculan. Analis senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, menilai Bitcoin berpotensi menghadapi “tahun penurunan” berdasarkan indikator rata-rata pergerakan 50 pekan.

Indikator tersebut mencerminkan harga rata-rata Bitcoin selama satu tahun terakhir. McGlone menilai posisi harga Bitcoin saat ini terhadap rata-rata tersebut tergolong rawan.

Berdasarkan data historis, kondisi seperti ini sering kali diikuti oleh koreksi yang lebih dalam. McGlone bahkan memproyeksikan kemungkinan terbentuknya titik terendah baru di kisaran “diskon 55 persen” dari level rata-rata.

 

Bisa Anjlok hingga USD 45.000

Bitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.

Jika skenario tersebut terjadi, harga Bitcoin berpotensi turun dari kisaran USD 87.000 menuju area USD 45.000 hingga USD 50.000. Kondisi ini tentu akan memberikan tekanan besar bagi perusahaan-perusahaan treasury yang menyimpan Bitcoin dalam jumlah masif, karena nilai aset mereka bisa menyusut tajam.

McGlone juga menarik perbandingan dengan pasar perak (silver). Ia memprediksi logam mulia tersebut juga berpotensi mengalami tahun yang sulit, seraya mengingatkan pada gelembung perak terkenal pada 1980 yang melibatkan Hunt Brothers.

Saat itu, harga perak yang dianggap terlalu “menarik” atau overvalued akhirnya runtuh hingga 52 persen dalam satu tahun. Menurut McGlone, pola ekstrem serupa bisa menjadi pelajaran bagi aset lain, termasuk Bitcoin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya