Bikin Hewan Stres dan Trauma, Muncul Petisi Larangan Pesta Kembang Api Selamanya di Jerman

Terjadi perdebatan di antara warga Jerman tentang mempertahankan tradisi menggelar pesta kembang api atau berempati dengan dampaknya pada hewan-hewan.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 02 Januari 2026, 11:01 WIB
Kembang api meledak di atas Teluk Thermaikos di dekat Menara Putih, Thessaloniki, Yunani selama perayaan Tahun Baru pada 1 Januari 2026. (Sakis Mitrolidis/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak tempat merayakan tahun baru dengan menggelar pesta kembang api, tak terkecuali di Jerman. Negara itu bahkan sengaja hanya memperkenankan penjualan kembang api pada tiga hari kerja terakhir, yakni 29, 30, dan 31 Desember. Menurut undang-undang, kembang api hanya boleh dinyalakan pada 31 Desember dan 1 Januari sebagai bagian penting perayaan tahun baru.

Tapi, hal itu tak disambut baik influencer Jerman Malte Zierden. Ia mendukung larangan menyalakan kembang api sepenuhnya dengan alasan bahwa hal itu menyebabkan penderitaan pada hewan.

"Kita bersama-sama menyebabkan penderitaan hewan pada Malam Tahun Baru. Apa yang merupakan momen gembira bagi kita adalah hilangnya kendali sepenuhnya bagi hewan," kata Zierden kepada Euronews, dikutip Kamis, 1 Januari 2025.

"Suara bising datang tiba-tiba, tidak terduga, dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Bahkan jika kekacauan hanya berlangsung satu malam, tubuh mereka seringkali tetap siaga tinggi selama berhari-hari."

Zierden memiliki lebih dari 1 juta pengikut di Instagram melalui pekerjaannya di bidang kesejahteraan hewan dan telah menerbitkan buku anak-anak tentang persahabatannya dengan merpati yang telah meninggal bernama Oßkar. Ia juga melakukan perjalanan ke zona krisis dan perang, termasuk Ukraina, untuk menyelamatkan hewan dari garis depan.

Dalam salah satu misi di Ukraina, ia menemukan anjing-anjingnya yang kini dipeliharanya, Ma dan Thirteen. "Hampir tidak ada perbedaan bagaimana mereka mengalami Malam Tahun Baru," kata Zierden, sambil menunjuk pada ledakan keras, disorientasi, dan rasa takut yang luar biasa. Bagi banyak hewan, jelasnya, hal itu bisa mengancam jiwa walau tanpa niat jahat.

Efek Berkepanjangan yang Dirasakan Hewan

manfaat memelihara anjing di rumah./copyright. pexels/

"Malam Tahun Baru sering dianggap sebagai gangguan musiman. Beberapa hari kebisingan, itu saja. Tapi itu terlalu picik. Bagi banyak hewan, penderitaan tidak berakhir dengan ledakan terakhir," kata Zierden kepada Euronews.

Bagi Zierden, bukan hanya kembang api itu sendiri, tetapi 'momen-momen tenang setelah ledakan' yang terpenting. "Hewan yang membeku, gemetar, atau bersembunyi. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena tubuh mereka telah belajar bahwa terlihat itu berbahaya."

"Kita jarang melihat penderitaan hewan liar. Hanya karena itu terjadi di hutan bukan berarti itu tidak nyata. Sebagian besar bahaya di Malam Tahun Baru terjadi di tempat yang tidak dilihat siapa pun,” tambahnya.

Tom Terveer dari organisasi kesejahteraan hewan Notpfote menjelaskan bahwa petasan dapat menyebabkan hewan gemetar, terengah-engah, dan disorientasi. Pada burung liar, suara keras dan kilatan dari kembang api dapat menyebabkan mereka terbang ke ketinggian yang berbahaya, kehilangan energi vital, sementara landak yang sedang hibernasi dapat terbangun dari tidurnya.

Dampak Mematikan Pesta Kembang Api pada Hewan

Ilustrasi Anjing Peliharaan. (Chiemsee2016/Pixabay)

Banyak kasus yang tidak dilaporkan, tetapi dampaknya mematikan setiap tahun, kata Terveer. "Di Jerman saja, ratusan anjing hilang selama Malam Tahun Baru – sekitar 430 pada 2024/25 – dan tidak semuanya ditemukan hidup," jelasnya.

"Kematian terkait kepanikan juga meningkat. Kelinci dapat menderita serangan jantung, sementara hewan liar dan burung dapat mati karena kelelahan atau tabrakan. Hewan ternak, seperti kuda, dapat terluka parah ketika mereka menerobos pagar karena panik."

Hewan peliharaan pun tidak luput dari bahaya. Banyak anjing dan kucing yang kabur dari pemiliknya, dan menurut kelompok kesejahteraan hewan Jerman Tasso e.V., beberapa mati atau tidak pernah bersatu kembali dengan keluarga mereka. Tahun lalu, setidaknya dua anjing dilaporkan mati setelah berlari ke jalan raya karena panik.

Karena itu, Zierden semakin gencar mengkampanyekan larangan petasan dan kembang api, membagikan video di media sosial dan mendukung petisi dari serikat polisi Berlin yang menyerukan larangan nasional. Petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 2,4 juta tanda tangan.

Mengusik Hati Nurani Manusia

Tingkah kucing saat merusak pohon Natal ini bikin tepuk jidat. (Sumber: Bored Panda)

Namun secara nasional, sekitar 69 persen warga Jerman masih menganggap kembang api Malam Tahun Baru sebagai bagian penting dari perayaan. Pada saat yang sama, sebagian penduduk mendukung pembatasan atau larangan, menurut sebuah studi Ipsos.

"Saya pikir perdebatan ini sangat penting," tambah Zierden, menekankan bahwa baginya ini bukan hanya tentang larangan, tetapi lebih tentang hati nurani. "Kita berdebat setiap tahun apakah kembang api harus tetap ada. Kita jauh lebih jarang bertanya pada diri sendiri berapa harga yang harus dibayar makhluk hidup lain untuk ini."

"Kasih sayang mengubah perilaku jauh lebih efektif daripada larangan apa pun. Anda dapat mengetahui banyak hal tentang suatu masyarakat dari penderitaan siapa yang bersedia mereka pertimbangkan," tambahnya.

Zierden berharap bahwa hewan 'tidak lagi diperlakukan sebagai korban sampingan dalam tradisi kita'. "Hewan bukan hanya bagian dari lingkungan kita – mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Cara kita memperlakukan mereka menunjukkan hal itu," ucapnya.

Infografis Ledakan Kembang Api Berujung Maut

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya