Wall Street Ditutup Merah Akhir 2025, Tapi Pasar Saham AS Bersinar sepanjang Tahun

Meski ditutup merah, Wall Street sukses mengakhiri 2025 dengan kinerja solid didorong saham teknologi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 Januari 2026, 09:30 WIB
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street ditutup melemah di akhir 2025. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau biasa disebut Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu 31 Desember 2025. Namun jika dihitung sepanjang tahun ini, pasar saham AS tetap mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025.

Tekanan jual yang terjadi di akhir tahun membuat indeks utama bergerak di zona merah, seiring aksi ambil untung investor.

Mengutip CNBC, Kamis (1/1/2026), Indeks S&P 500 turun 0,74% dan ditutup di level 6.845,50. Nasdaq Composite melemah 0,76% ke posisi 23.241,99, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 303,77 poin atau 0,63% ke level 48.063,29.

Pelemahan tersebut memperpanjang tren penurunan Wall Street selama empat sesi berturut-turut. Meski demikian, koreksi yang terjadi tergolong terbatas dan tidak menghapus capaian impresif sepanjang tahun.

Sepanjang 2025, S&P 500 menguat 16,39% dan mencatatkan kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut. Nasdaq Composite bahkan melonjak 20,36%, didorong optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, Dow Jones mencatatkan kenaikan tahunan 12,97%, meski tertahan oleh minimnya eksposur saham teknologi.

Kinerja tersebut menegaskan ketahanan Wall Street di tengah berbagai tekanan global sepanjang tahun lalu.

 

Kebijakan Tarif AS

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Capaian positif Wall Street pada 2025 juga mencerminkan pemulihan signifikan dari tekanan hebat yang sempat terjadi pada awal April. Saat itu, pasar saham global terguncang usai pengumuman kebijakan tarif besar-besaran oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

S&P 500 sempat terperosok hampir 19% dari puncak tertingginya pada Februari dan nyaris masuk wilayah bear market. Indeks tersebut bahkan sempat ditutup di bawah level 5.000 untuk pertama kalinya sejak April 2024.

Namun, pasar perlahan bangkit seiring meningkatnya keyakinan bahwa kebijakan tarif akan disesuaikan. Keith Buchanan, senior portfolio manager di Globalt Investments, menilai pasar telah mengambil pelajaran penting dari gejolak tersebut.

"Pemerintah telah memetik pelajaran bahwa pasar lebih mampu menyerap tarif yang lebih cerdas, lebih spesifik, serta diterapkan secara bertahapm" kata Buchanan.

Menurutnya, pengalaman sepanjang 2025 membuat Wall Street kini lebih siap menghadapi perubahan kebijakan di tahun depan.

 

Prospek 2026

Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Buchanan menambahkan, pasar saham kini mampu melihat lebih jauh ke depan, termasuk menghadapi potensi perubahan kebijakan tarif pada 2026.

"Berkat pengalaman tahun 2025, pasar kini mampu mengantisipasi setiap perubahan tarif di tahun 2026, dengan keyakinan bahwa pemerintah akan mengingat pelajaran dari tahun 2025 dan sektor korporasi Amerika mampu beradaptasi dengan cepat demi menjaga margin keuntungan mereka," ujarnya.

Meski demikian, pelemahan di akhir tahun tetap memicu kewaspadaan pelaku pasar. Penurunan ini terjadi pada periode yang secara historis dikenal menguntungkan, yakni lima hari perdagangan terakhir tahun berjalan dan dua hari pertama tahun berikutnya, yang kerap disebut sebagai reli Santa Claus.

Aksi ambil untung yang terjadi belakangan juga dinilai dapat menjadi sinyal meningkatnya volatilitas ke depan. Sejumlah analis yang disurvei CNBC memperkirakan S&P 500 masih berpeluang mencatatkan kenaikan dua digit pada 2026.

Namun, banyak yang menilai Wall Street berpotensi bergerak terbatas, sembari menunggu pertumbuhan laba emiten menyusul valuasi yang sudah tinggi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya