Liputan6.com, Jakarta - Awan gelap bergelayutan di langit Bener Meriah, Aceh. Matahari seperti enggan bersinar menghangatkan udara di sana. Sepekan terakhir, hujan memang tak pernah berhenti. Sejak pagi hingga keesokan harinya. Hujan lebat mengguyur hebat.
Kekhawatiran mulai muncul di benak warga. Cuaca tak menentu akan mendatangkan bencana. Apalagi, melihat derasnya hujan, seolah tak ada ujungnya.
Advertisement
Pagi itu, Jumat 26 November 2025, Aiptu Arwin tak punya firasat apa-apa. Dia segera bersiap menuju tempat bertugas. Hujan deras dia terobos demi mengikuti apel pagi di Kompi 3, Batalyon B Pelopor, Bener Meriah.
Jarak tempuh dari rumahnya di Desa Puja, Kecamatan Bandar ke kompi tidak terlalu jauh. Bila mengemudikan sepeda motor, lebih kurang 30 menit. Usai berpamitan dengan istri tercinta, dia tancap gas ke kantor.
Sepanjang perjalanan, tak ada tanda-tanda hujan mereda. Baru empat kilometer, laju sepeda motornya terhenti. Betapa kagetnya Arwin. Jembatan di Desa Bale, jalur kerap dilalui menuju kantor, berubah bak lautan berarus deras dan cokelat. Potongan kayu, bebatuan besar bahkan rumah warga ikut mengambang dalam kencangnya arus sungai.
"Saya kaget sekali, mirip tsunami," kata Arwin membuka perberbincangan dengan Liputan6.com, akhir pekan lalu.
Arwin sempat berniat putar balik mencari jalan alternatif menuju kompi. Tetapi, semua jalur berdampingan dengan aliran sungai kondisinya sama. Bahkan, jembatan yang sempat dia lalui sebelum tiba di Desa Bale, juga terputus karena derasnya arus.
Arwin bergegas melapor ke atasan tentang kondisi tersebut. Di saat bersamaan, teriak kepanikan dan tangis histeris warga mulai tak bendung. Suasana begitu kacau dan tegang. Apalagi, aliran listrik dan komunikasi ikut padam beberapa jam kemudian.
"Ini kejadian kedua di tempat yang sama tahun 2006, tapi dulu enggak separah itu, cuma di titik itu saja. Kalau tahun ini nyaris di semua aliran atau drainase diterjang banjir bandang," katanya.
Arwin inisiatif membantu warga di sekitaran Desa Bale yang terdampak banjir bandang. Meski dengan persiapan seadanya dan sederhana
Satu malam Arwin terkepung di sana. Jembatan penghubung desa sekitar termasuk menuju ke rumah sudah tertutup derasnya arus dan lumpur serta material.
Sebagai anggota Brimob yang sudah bertugas 13 tahun lebih, Arwin sadar kondisi ini begitu berat. Tetapi dia yakin, pertolongan sekecil apapun saat itu sangat berguna bagi masyarakat setempat.
"Mereka syok, dalam sekejap semua luluh lantak, rumahnya terbawa arus, harta benda hilang tangisan di mana-mana. Benar-benar mengiris hati," katanya.
Larut Dalam Duka Warga, Keluarga Nyaris Terlupa
Saking sibuknya menolong warga, ayah tiga putra itu sampai lupa memberi tahu istri yang was-was menunggu kabarnya. Beruntung, bertemu seseorang dikenal. Dia menitip agar memberi tahu pada sang istri bahwa dirinya baik-baik saja.
"Waktu mau kabari istri, jaringan komunikasi sudah terlanjur mati," kenangnya.
Sejak awal Arwin memang sedikit tenang sebenarnya. Sebab rumahnya aman, meskipun daerah sekelilingnya dikepung banjir. Tetapi setidaknya, Arwin bisa bertugas dengan fokus. Karena istri dan anak-anaknya baik saja di rumah.
"Meski saya bersalah juga, anak saya yang usia 12 tahun harus jalan kaki dari pesantrennya lewati kebun kopi berjam-jam dari pagi sampai jam 2 dini hari demi pulang ke rumah," katanya.
Setelah satu malam berada di tengah warga Kampung Sayur, jalur menuju rumahnya mulai bisa diakses. Arwin bergegas kembali untuk mengambil sejumlah keperluan untuk segera menuju kantor. Dia harus segera bergabung dengan tim SAR. Membantu menyelamatkan dan menolong sebanyak-banyaknya warga dalam kesulitan.
Setibanya di kompi, Arwin dan rekan-rekannya tergabung dalam beberapa tim. Tugas mereka mengevakuasi warga, menyalurkan bantuan ke daerah terisolir hingga memasang sling. Setelah mendapatkan arahan, mereka mulai terjun ke lokasi-lokasi terdampak bencana. Meski cuaca belum bersahabat, semangat menolong warga mengalahkan segalanya. Pada momen inilah perjuangan, ketidakberdayaan hingga kemanusiaan melebur menjadi satu.
"Semua benar-benar mengiris hati," ucapnya lirih.
Hari-Hari Berat Pascabencana
Sejak banjir bandang menerjang, banyak kampung terisolir karena akses jalan terputus. Begitu pun aliran listrik hingga komunikasi. Bahkan untuk sekadar mendapat air bersih, sulit sekali. Kondisi itu terjadi selama dua pekan pascabencana awal.
Di awal penugasan, Arwin dan tim mendapat tugas menembus daerah terisolir untuk mengevakuasi warga. Dalam keadaan hujan dan jalanan sangat becek, perintah itu dijalankan. Meski jalur ditempuh nyaris 60 kilometer.
"Saya pernah jalan kaki empat hari untuk melakukan evakuasi. Jarak tempuh 60 kilometer, jadi kita sembari membuka jalan," ujarnya.
Medan dilalui cukup berat. Apalagi cuaca belum bersahabat. Kala itu, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh dahsyat kerusakan banjir bandang.
Tetapi, dalam kondisi terbatas itu, banyak nyawa berjuang keras untuk tetap hidup. Bukan hanya untuk dirinya, namun anggota keluarga rentan seperti ayah ibu hingga anak-anak mereka.
Saat warga mulai kehabisan bahan pangan di rumah, mau tak mau mereka harus keluar kampung. Menempuh jalan panjang dengan berjalan kaki demi mencari sesuap nasi. Meski kondisi infrastruktur kala itu masih dalam perbaikan.
"Stok lilin untuk penerangan habis, bahan makanan sudah habis. Mau beli pun belum ada yang berjualan. Sementara ada keluarga yang harus diisi perutnya. Benar-benar sedih," kenangnya.
Banyak sekali cerita memilukan dia temukan dalam upaya menolong warga. Baginya, pemandangan di depan mata tak pernah terbayang sebelumnya.
Di antara sederet kisah yang ditemui, Arwin masih mengingat jelas momen saat dia dan tim sedang sedang beristirahat makan siang di sela proses evakuasi. Tiba-tiba, seorang ibu bersama anaknya dengan kondisi lusuh, kotor dan berlumpur datang menghampiri. Ibu anak itu baru saja berjalan kaki jauh, keluar dari perkampungannya yang terisolir. Tujuannya, mencari makan.
"Kita tawarin makan, enggak mau, kita suguhkan makan enggak mau, ada yang kasih uang enggak mau. Dan ternyata, dengan suara pelan dia bilang, saya hanya butuh semangkok beras saja supaya keluarga di rumah bisa makan juga. Asli saya langsung nangis dengarnya."
"Jadi dia enggak mau selamatkan dirinya sendiri, makanya butuh semangkok beras untuk bisa makan sekeluarganya di hutan meski hanya nasi. Karena cerita yang sampe enggak makan itu memang ada, karena bahan untuk dimasak enggak ada," ujarnya.
Arwin melihat sendiri perjuangan warga yang bertahan hidup di sejumlah perkampungan di Bener Meriah. Sulitnya mendapatkan beras membuat warga memilih mengonsumsi apa saja yang bisa dimakan. Seperti singkong, daun singkong, kentang dan pisang. Bahkan terkadang, katanya, warga menyantap panganan itu dengan sedikit nasi agar lebih kenyang.
"Cara apapun dilakukan tiap keluarga demi bertahan hidup, termasuk meski harus jalan jauh demi mendapatkan bahan pangan," kata dia.
Masalah tak sampai di situ. Kadang kala, ketika bahan pangan ada, mereka tak punya bahan bakar untuk memasaknya. Alhasil, mereka memanfaatkan kayu dan membuat kayu bakar untuk memasak makanan. Belum lagi, listrik dan jaringan komunikasi yang belum normal.
"Dua pekan pertama itu perjuangan warga di sana benar-benar Masya Allah. Tapi mereka saling bahu membahu," ujar Arwin.
Tak cuma cerita tentang mereka yang kehilangan harta benda dan sulitnya mencari makan, banjir bandang juga membuat banyak warga terpisah dengan dengan anggota keluarganya. Suatu hari, dia sedang bertugas menjaga posko. Tiba-tiba, ada warga datang dan ingin mencari anaknya di pesantren. Tetapi dalam perjalanan, bensin motor warga tersebut habis. Kebetulan tidak ada tempat mengisi bensin kala itu. Di awal bencana sejumlah SPBU memang tak beroperasi.
Warga tersebut kemudian mendatangi posko tempat Arwin berjaga. Dia minta dipinjamkan motor. Arwin sempat bingung di satu sisi, mereka juga butuh kendaraan operasional untuk membantu warga lainnya. Akhirnya, Arwin bersepakat membantu dengan membagi bensin yang ada di tangki.
"Masih banyak cerita perjuangan kami sesama warga di sini," ujarnya.
Perlahan Bangkit dari Bencana
Sudah satu bulan peristiwa memilukan itu menerjang dan memporak porandakan Bener Meriah. Kondisi semakin baik meski diakuinya masih belum sempurna seperti sedia kala. Saat ini, katanya, fokus perbaikan pada jembatan penghubung agar akses menuju perkampungan warga kian terbuka.
Listrik dan jaringan komunikasi juga berangsur normal. Pembersihan pada objek vital seperti tempat pendidikan, rumah ibadah, rumah sakit juga terus dilakukan agar aktivitasnya kembali berdenyut.
Sementara untuk cuaca, katanya, hujan masih turun meski tak setiap hari. Bahkan di beberapa tempat, curah hujan yang tinggi kembali membuat permukiman terendam banjir.
Arwin berharap kondisi ini terus membaik ke depannya. Dia juga berpesan agar semangat gotong royong warga di tengah proses pemulihan yang panjang tak membuat warga menyerah. Meski dia pribadi yang juga warga terdampak menyadari kadang kala beratnya kondisi dialami membuat ingin pasrah.
"Jadi kondisi sekarang, orang kaya sama miskin sama kedudukannya. Yang kaya punya uang tapi barang yang bisa dibelanjakan masih terbatas."
Selain itu, Arwin juga meminta warga selalu waspada karena cuaca ekstrem masih berlangsung beberapa bulan ke depan. Ditambah lagi intensitas gempa di Gunung Berapi Burni Telong yang belakangan semakin meningkat ditunjukkan dengan seringnya gempa meski getarannya tak terlalu besar.
"Jangan sampai kelengahan membuat kita kembali dihadapkan pada bencana. Sementara yang di depan mata, proses pemulihan pascabencana pun belum sepenuhnya," kata Arwin.