Liputan6.com, Jakarta - Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto memastikan, data wisatawan yang berkunjung ke Bali sebenarnya mengalami kenaikan. Agus menjawab viral kunjungan ke Bali saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menurun.
Hal ini disampaikan usia acara Refleksi Akhir Tahun 2025 di Kantor Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jakarta, Senin (29/12).
Advertisement
"Kalau dari keimigrasian sebenarnya naik. Dalam periode satu bulannya naik," kata Agus kepada wartawan.
Mantan Wakapolri ini belum mengetahui apakah memang mereka tinggal tetap di Indonesia atau yang lainnya.
"Cuma memang keberadaan mereka apakah mereka ada di homestay dan lain sebagainya, ini tergantung daripada kondisi keuangan daripada wisatawan yang datang," ujarnya.
Gubernur Tepis Bali Sepi Turis
Gubernur Bali I Wayan Koster membantah isu yang menyebutkan sektor pariwisata Pulau Dewata lesu selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Ia menegaskan, berdasarkan data resmi yang dimilikinya, jumlah kunjungan wisatawan justru menunjukkan tren peningkatan.
Koster menyebut narasi sepinya wisatawan sebagai informasi yang tidak sesuai fakta. Ia menilai, pergerakan wisatawan asing ke Bali masih stabil dan cenderung meningkat dari hari ke hari.
"Bohong, saya punya data. setiap hari totalnya meningkat. Sekarang per harinya 17 ribu wisatawan asing, sebelumnya 20 ribu (wisatawan asing)," kata Koster usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Bali di Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Senin (22/12).
Wisman 2025 Lebih Tinggi Ketimbang 2024
Menurut Koster, secara kumulatif jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 telah melampaui capaian tahun sebelumnya. Hingga pertengahan Desember 2025, angka kunjungan wisman sudah mencapai 6,7 juta orang, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 6,3 juta wisatawan.
"Sekarang totalnya dari Januari sampai tanggal 16 Desember (2025), sudah mencapai 6,7 juta (wisatawan di Bali). Di 2024 ada 6,3 juta, naik kan. (Target 2025) 7 juta, ini kan akan naik dia, masih ada sisa dua Minggu," imbuhnya.
Meski demikian, Koster mengakui lonjakan jumlah wisatawan tersebut tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat hunian hotel. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh pergeseran pola menginap wisatawan asing yang kini banyak memanfaatkan akomodasi berbasis aplikasi daring seperti Airbnb.
"Kalau itu soal lain. Jadi ada yang menggunakan fasilitas penginapan melalui Airbnb, yang tidak bayar pajak. Akibatnya adalah peningkatan jumlah wisatawan tidak sebanding dengan peningkatan hunian hotel dan pajak hotel dan restoran," jelasnya.