RunSight, Inovasi Kacamata AI untuk Tunanetra yang Antar Indonesia ke Panggung Global

RunSight adalah sebuah inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang anak muda Indonesia untuk membantu tunanetra berlari secara aman dan mandiri.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 28 Desember 2025, 16:30 WIB
RunSight dikembangkan oleh Tim Labmino. Ide kacamata pintar berbasis AI ini berawal dari kisah teman salah satu anggota tim yang mengalami disabilitas netra tapi tetap ingin berlari dengan aman. (Foto: Dok Samsung)

Liputan6.com, Jakarta - Keinginan untuk berolahraga dan bergerak bebas bukan hanya milik mereka yang dapat melihat dengan sempurna. Bagi penyandang disabilitas netra atau tunanetra aktivitas sederhana seperti berlari sering kali dibayangi rasa tidak aman dan keterbatasan alat bantu yang tersedia.

Dari kebutuhan inilah RunSight lahir. RunSight adalah sebuah inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu tunanetra berlari secara aman dan mandiri.

RunSight dikembangkan oleh Tim Labmino, pemenang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) Indonesia 2025. Kacamata AI ini pun berhasil menembus 20 besar global ajang inovasi tersebut. 

Tim Labmino beranggotakan Anthony Edbert Feriyanto, Kaindra Rizq Sachio, Muhammad Fazil, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim.

Berbeda dari alat bantu konvensional, RunSight dirancang secara adaptif untuk kebutuhan olahraga, khususnya lari. Teknologi AI di dalamnya membantu pengguna mendeteksi lingkungan sekitar, sehingga risiko menabrak atau tersandung dapat diminimalisasi.

“RunSight lahir dari percakapan sederhana dengan seorang teman yang kehilangan penglihatan tetapi ingin terus berlari. Kami percaya teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga membuat ruang yang lebih inklusif bagi semua orang," kata perwakilan Tim Labmino, Kaindra Rizq Sachio.

Tim Labmino merasa terpanggil untuk membuat solusi yang benar-benar relevan untuk penyandang disabilitas netra. Mereka pun tak menyangka bisa masuk dalam 20 besar ajang Samsung Solve for Tomorrow.

"Saat akhirnya kami berdiri di panggung global membawa nama Indonesia, kami merasa ide kecil ini akhirnya menemukan tempat yang lebih besar dan berdampak,” lanjut Kaindra.

 

 

 

 

Tim Labmino Bersaing dengan 39 Tim dari Berbagai Negara

Tim Labmino

Perjalanan RunSight membawa Tim Labmino ke kompetisi tingkat regional dan global Samsung Solve for Tomorrow 2025. Mereka harus bersaing dengan 39 tim dari berbagai wilayah dunia, mulai dari Eropa, Asia Tenggara dan China, Timur Tengah dan Afrika Utara, hingga Amerika.

Tahap regional yang dilakukan secara daring menjadi pengalaman berharga tersendiri. Selain mempresentasikan inovasi di hadapan juri internasional, tim juga mendapat perspektif baru tentang bagaimana solusi teknologi dapat dikembangkan agar berdampak lebih luas.

Selama proses seleksi regional, Tim Labmino juga mendapatkan berbagai masukan dari juri internasional, mulai dari aspek teknis, pengalaman pengguna, hingga pentingnya kolaborasi dengan komunitas disabilitas. Wawasan ini memperkuat komitmen mereka untuk terus menyempurnakan RunSight agar manfaatnya semakin luas.

 

Inovasi Plus Empati Bawa Indonesia ke Kancah Global

Samsung Electronics Indonesia turut memandang pencapaian Tim Labmino sebagai bukti bahwa talenta pelajar Indonesia mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat dunia.

“Tahun pertama Indonesia ikut SFT Globaldan langsung masuk 20 besar dunia adalah pencapaian besar. Perjalanan Tim Labmino menunjukkan bahwa ketika kreativitas, teknologi, dan empati disatukan, pelajar Indonesia dapat menghadirkan solusi yang relevan dan diakui internasional," kata Head of Marketing Samsung Electronics Indonesia, Bagus Erlangga.

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya