Sugar Rush Ramai Dibahas, Ketahui Batasan Konsumsi Gula Harian

Mengenal batas aman konsumsi gula harian, fakta mitos sugar rush, risiko kesehatan kronis, hingga strategi efektif mengurangi asupan gula tambahan.

oleh Benedikta DesideriaKhaalish Azzah LuthfiyyahDiterbitkan 28 Desember 2025, 15:45 WIB
Ilustrasi Sugar Rush Credit: unsplash.com/Zahra

Liputan6.com, Jakarta - Istilah sugar rush sudah sering didengar masyarakat. Namun, istilah ini akhir-akhir ramai dibahas di media sosial. 

Sugar rush sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang, terutama anak-anak, menjadi sangat aktif setelah mengonsumsi makanan manis atau tinggi gula seperti permen atau cokelat. 

Mengutip dari Cambridge Dictionary, secara medis istilah ini merujuk pada kadar gula tinggi dalam darah. Namun, secara populer dianggap sebagai luapan energi yang membuat seseorang mendadak bersemangat.

Kerap dikaitkan dengan lonjakan energi, anggapan tentang sugar rush tidak sepenuhnya sejalan dengan temuan ilmiah. Sejumlah penelitian mencari tahu efek konsumsi gula terhadap perubahan perilaku seperti yang selama ini diyakini masyarakat.

Sebuah studi meta analisis yang dilakukan Konstantinos Mantantzis dan kawan-kawan pada 2019 menyebutkan fenomena sugar rush sebenarnya sebuah mitos. Berdasarkan eksperimen terkontrol di mana orangtua tidak tahu jenis camilan yang dimakan anak. Orangtua tetap menganggap anak mereka menjadi lebih aktif meski sebenarnya tidak mengonsumsi gula sama sekali.

Kegembiraan di pesta biasanya disebabkan oleh suasana meriah dan interaksi sosial, bukan karena kandungan glukosa.

Hal lain yang tak kalah penting adalah mengenai batasan mengonsumsi gula. para pakar kesehatan sangat menyarankan masyarakat untuk membatasi asupan gula hingga kurang dari 10% dari total kalori harian guna menghindari berbagai komplikasi kesehatan di masa depan.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang memiliki kebutuhan energi sebesar 2.000 kalori per hari, maka batas aman konsumsi yakni 50 gram gula atau 4 sendok makan. 

Kementerian Kesehatan RI pun telah mengeluarkan anjuran bagi orang dewasa maksimal mengonsumsi gula 4 sendok makan (±50 gram).

Sementara itu, untuk anak-anak, berdasarkan laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berikut rekomendasi asupan gula harian berdasarkan usia anak:

  • 2 - 4 tahun  : 15-16 gram
  • 4 - 7 tahun  : 18-20 gram
  • 7 - 10 tahun: 22-23 gram
  • 10-13 tahun: 24-27 gram
  • 13-15 tahun: 27 - 32 gram
  • 15-19 tahun: 28 - 37 gram

 

Risiko Kesehatan dan Dampak Gula Berlebih

Gula. (Foto: jcomp/Freepik)

Mengutip laman Health, Minggu, 28 Desember 2025, ,engonsumsi gula berlebih membawa risiko kesehatan serius di luar sekadar kenaikan berat badan.

Salah satu risiko utama adalah karies gigi atau gigi berlubang, karena gula tambahan menjadi bahan bakar utama bagi bakteri mulut untuk merusak lapisan gigi. 

Selain masalah mulut, kelebihan gula berdampak buruk pada organ hati. Konsumsi fruktosa tinggi dalam minuman manis dikaitkan erat dengan risiko penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD) yang kini marak terjadi.

Hubungan antara gula dengan penyakit jantung serta diabetes tipe 2 juga menjadi perhatian besar. Terdapat kaitan kuat antara konsumsi minuman manis dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan tekanan darah tinggi. 

Gula sederhana menyebabkan lonjakan glukosa darah drastis, berbeda dengan karbohidrat kompleks yang berserat. Jika terus berlanjut, beban metabolisme ini dapat memicu peradangan kronis, nyeri sendi, hingga risiko kanker tertentu. Maka, memahami perbedaan gula alami dan tambahan sangat penting bagi kesehatan.

Cara Mengurangi Asupan Gula

Langkah pertama dalam mengurangi gula adalah dengan cermat membaca label nutrisi pada kemasan produk. Perhatikan kolom "Added Sugars" karena angka ini menunjukkan berapa banyak gula yang ditambahkan produsen ke dalam produk tersebut. 

Sering kali, makanan yang terlihat sehat seperti sereal sarapan, yogurt rasa buah, dan roti lapis justru mengandung gula tambahan yang cukup tinggi. Strategi yang efektif adalah mulai mengurangi pemanis dalam kopi atau teh secara bertahap agar lidah terbiasa dengan rasa alami.

Fokuslah pada konsumsi air mineral atau teh tanpa gula sebagai pengganti minuman bersoda. Memperbanyak asupan serat serta protein juga sangat membantu menekan keinginan untuk mengonsumsi makanan manis di malam hari. 

Lemak sehat dapat membantu memperlambat transportasi karbohidrat ke aliran darah untuk mencegah lonjakan gula. Cobalah membeli produk versi tawar dan tambahkan rasa manis alami menggunakan potongan buah segar.

Dengan perubahan kecil namun konsisten dapat menikmati makanan tanpa khawatir dampak negatif kelebihan gula.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya