Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan minyak asal Inggris, BP, menyepakati pelepasan 65% kepemilikan saham di bisnis pelumas Castrol kepada Stonepeak dengan nilai transaksi sekitar USD 6 miliar. Kesepakatan ini dilakukan beberapa bulan setelah BP mulai membuka opsi penjualan unit Castrol.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya BP menjalankan penataan ulang strategi bisnisnya, yang mencakup penyesuaian arah kebijakan energi hijau serta rencana divestasi aset senilai USD 20 miliar hingga akhir 2027. Melalui transaksi ini, valuasi Castrol tercatat sebesar USD 10,1 miliar.
Advertisement
Sebelumnya, sejumlah perusahaan energi dan investor disebut tertarik mengakuisisi unit Castrol milik BP. Nama-nama seperti Reliance Industries dari India, Saudi Aramco, hingga perusahaan ekuitas swasta Apollo Global Management dan Lone Star Funds sempat mencuat sebagai calon pembeli pada Mei lalu, menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber yang mengetahui proses tersebut.
“Dengan ini, kami telah menyelesaikan atau mengumumkan lebih dari setengah dari program divestasi senilai USD 20 miliar yang kami targetkan, dengan hasil yang akan secara signifikan memperkuat neraca BP,” ujar CEO sementara BP, Carol Howle, dalam pernyataan resminya, dikutip dari CNBC International, Sabtu (27/12/2025).
Ia menambahkan, penjualan ini menandai tonggak penting dalam pelaksanaan strategi penataan ulang kami yang sedang berlangsung.
Kami mengurangi kompleksitas, memfokuskan bisnis hilir pada bisnis terintegrasi terkemuka kami, dan mempercepat pelaksanaan rencana kami,” tuturnya.
BP juga memiliki opsi untuk melepas sisa kepemilikan sebesar 35% di Castrol setelah masa penguncian selama dua tahun berakhir.
Penataan Ulang Strategi
Pelepasan saham mayoritas Castrol ini dilakukan tidak lama setelah BP mengumumkan penunjukan CEO baru, yang menjadi pergantian keempat dalam kurun enam tahun terakhir.
CEO Woodside Energy, Meg O’Neill, dijadwalkan mulai menjabat pada 1 April mendatang, menggantikan Murray Auchincloss yang masa jabatannya berlangsung kurang dari dua tahun.
Stephen Isaacs, penasihat strategis di Alvine Capital yang memiliki posisi investasi di BP, menyampaikan kepada “Squawk Box Europe” CNBC pekan lalu bahwa meskipun BP telah “berkinerja sangat buruk untuk waktu yang sangat lama,” pergantian pucuk pimpinan dinilai dapat menjadi “bagian terakhir dari teka-teki” untuk memperbaiki performa perusahaan.
“Saya pikir akan ada penjualan saham lebih lanjut di berbagai bagian BP” ke depannya, kata Dan Boardman-Weston, CEO BRI Wealth Management, kepada CNBC pada Rabu. Menurutnya, langkah tersebut akan membawa BP “kembali fokus pada bisnis inti mereka, yaitu eksplorasi dan pengembangan minyak dan gas.”
Kinerja Emiten
Dalam beberapa waktu terakhir, kinerja emiten yang tercatat di Bursa London ini tertinggal dibandingkan para pesaingnya, setelah mencatat penurunan laba tahunan pada 2023 dan 2024.
Saham BP sempat dibuka menguat 1,3% pada Rabu, sebelum terkoreksi tipis dan terakhir diperdagangkan naik 0,9%. Secara year to date, harga saham BP telah meningkat sekitar 9%, setelah sebelumnya anjlok 15,7% sepanjang 2024.
Tekanan terhadap saham mulai mereda pada 2025 seiring restrukturisasi manajemen, program efisiensi biaya, serta serangkaian penemuan cadangan minyak baru.