Kemenhut Kebut Bersihkan Sisa Kayu Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat membersihkan tumpukan kayu limbah sisa bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 27 Desember 2025, 09:05 WIB
Permukiman warga nyaris hilang dan hancur, rata dengan lumpur. Tampak dalam foto, seorang warga duduk di depan rumahnya yang rusak akibat banjir bandang di Garoga, Provinsi Sumatera Utara, pada Kamis 4 Desember 2025. (YT HARIONO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kebut pembersihan tumpukan kayu limbah dan material sisa bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera.

Operasi tersebut dilakukan secara serentak di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Sumatera Utara (Sumut), dan juga Sumatera Barat (Sumbar).

Di bagian Aceh Tamiang dan Aceh Utara, pembersihan dilakukan di kawasan Pesantren Darul Mukhlisin dan wilayah Langkahan, tim gabungan dari UPT Kemenhut, TNI, Polri, setra mitra yang menggerakan lebih dari 200 personel dan 27 unit alat berat, hingga pencapaian pembersihan mencapai 40 persen.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyatakan, pembersihan ini tidak hanya menyasar pada tumpukan kayu, tetapi juga fasilitas pendidikan dan rumah ibadah yang terdampak banjir.

"Selain menyingkirkan kayu dan material lumpur, kami juga fokus membersihkan ruang belajar dan area masjid agar aktivitas pendidikan dan ibadah dapat segera kembali berjalan," ujar Subhan dikutip dari www.kehutanan.go.id, Sabtu (27/12/2025).

Subhan juga mengatakan, pembukaan jalur pintu air serta pengeringan area yang tergenang banjir menjadi penting dalam percepatan pemulihan lingkungan pesanteren dan pemukiman di sekitarnya.

Libatkan Masyarakat, Percepat Normalisasi Aktivitas Ekonomi Warga

Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang mengakibatkan kerusakan sebanyak 2.800 unit rumah, 127 fasilitas umum, 62 gedung atau kantor, 54 fasilitas pendidikan, 40 fasilitas kesehatan, 33 rumah ibadah, dan dua jembatan. Tampak dalam foto, warga beristirahat sambil mencari sisa-sisa rumah mereka yang terkubur di bawah tumpukan pohon tumbang yang disapu banjir bandang, di desa Lintang Baru di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada Kamis 11 Desember 2025. (Aditya Aji/AFP)

Di bagian wilayah Langkahan, Aceh Utara, tim gabungan dari Kemenhut, TNI, dan masyarakat dilanjutkan pembukaan akses jalan serta pembersihan material kayu sisa dari bencana.

Gingga kini, akses jalan sepanjang satu kilometer itu berhasil untuk dibuka, disusul juga tambahan empat kilometer jalan desa. Pembersihan ini dilakukan di fasilitas pendidikan, termasuk SD Negeri 12 Langkahan.

Di wilayah Sumatera Utara juga dilakukan di Desa Aek Ngadol, Desa Aek Ngadol, Desa Gangga, dan Hutan Godang yang dilakukan meliputi pembersihan kayu di sekitar jembatan, rumah warga yang terdampak, pembuatan parit untuk saluran air, serta penataan lalu lintas di bagian wilayah pasar.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani mengatakan bahwa keterlibat masyarakat menjadi kunci dalam keberhasilan pembersihan di lapangan.

"Kami bekerja bersama masyarakat untuk memastikan akses vital dan fasilitas umum segera pulih, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial warga bisa kembali normal," ucap Novita.

Pembersihan Kayu di Wilayah Lainnya

Hingga Kamis 4 Desember 2025, tumpukan material kayu gelondongan masih terlihat dan mulai dimanfaatkan warga sebagai material untuk membangun kembali rumah mereka yang rusak. Tampak dalam foto, warga desa memotong batang kayu yang hanyut akibat banjir bandang di Garoga, Provinsi Sumatra Utara, pada Kamis 4 Desember 2025. (YT HARIONO/AFP)

Sedangkan di Sumatera Barat, pembersihan terhadap kayu yang dilakukan di kawasan pantai Kota Padang oleh rimbawan UPT Kemenhut, Manggala Agni, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Sejak 20 sampai 23 Desember 2025, area panyai sebanyak 5,6 kilometer ke arah utara, berhasil juga dibersihkan melalui kombinasi penggunaan alat berat dan gotong royong manual.

BBKSDA Sumatera Barat, Hartono juga mengatakan pembersihan pantai dilakukan bertahap untuk memastikan keselamatan dan evektifitas penanganan material dari kayu berukuran besar.

"Kami memprioritaskan area yang paling terdampak dan ramai aktivitas masyarakat. Pembersihan akan dilanjutkan hingga kawasan muara Penjalinan agar kawasan pesisir kembali aman dan bersih," jelas Hartono.

Kemenhut juga mempertegas seluruh kegiatan pembersihan hanya dilakukan secara terkoordinasi, aman, serta berkelanjutan.

"Upaya yang dilakukannya ini merupakan bagian dari komitmen Kemenhut untuk memprcepat, limbah bencana dan mendukung keselamatan aktivitas masyarakat," tandas Hartono.

Infografis Biaya Perbaikan Dampak Banjir Sumatera. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya