Liputan6.com, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH)Hanif Faisol Nurofiq melakukan peninjauan lapangan terhadap rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berlokasi di Desa Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Peninjauan tersebut merupakan langkah konkret pemerintah untuk memutus mata rantai persoalan sampah di wilayah Bogor melalui transformasi teknologi hijau.
Advertisement
Dalam peninjauan tersebut, Menteri Hanif memastikan kesiapan lahan seluas 5,1 hektare dari sisi kelayakan lingkungan hingga daya dukung infrastruktur pendukung operasional energi terbarukan.
Penilaian tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas PSEL dapat beroperasi secara optimal serta tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Menteri Hanif menyampaikan apresiasi sekaligus memberikan 'catatan merah' kepada pemerintah daerah di wilayah Bogor terkait kinerja pengelolaan sampah.
"Kepada Kota Bogor, kami menyampaikan terima kasih karena telah ada peningkatan yang cukup baik dalam penanganan sampah," kata Menteri Hanif, dikutip Liputan6.com dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup Jakarta www.lingkunganhidup.jakarta.go.id, Selasa (23/12/2025).
"Namun, untuk Kabupaten Bogor, kami memohon agar penanganan sampahnya terus ditingkatkan, karena angkanya masih relatif belum tinggi," sambung dia.
Lokasi Strategis dan Kesiapan Infrastruktur Pendukung
Keberhasilan proyek PSEL Galuga ditentukan oleh kesiapan perencanaan sejak tahap awal pembangunan. Perencanaan yang matang diperlukan agar fasilitas pengolahan sampah tersebut dapat beroperasi sesuai standar teknis dan lingkungan.
Lokasi pembangunan berada relatif dekat dengan permukiman warga, dengan jarak sekitar 86 meter, serta berdekatan dengan aliran sungai.
Kondisi ini menuntut penerapan pengamanan lingkungan yang ketat untuk meminimalkan potensi dampak terhadap ekosistem sekitar.
Pemerintah memastikan teknologi pengolahan sampah yang diterapkan tidak menimbulkan gangguan lingkungan maupun risiko bagi masyarakat. Setiap tahapan pembangunan diarahkan untuk memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan.
Dari sisi infrastruktur, akses jalan beton selebar enam meter telah disiapkan guna mendukung mobilitas kendaraan pengangkut sampah.
Selain itu, tersedia area parkir tunggu truk seluas 3.000 meter persegi untuk menjaga kelancaran distribusi sampah.
Lokasi PSEL Galuga yang berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Bogor juga menjadi pertimbangan dalam penyiapan infrastruktur agar aktivitas operasional tidak mengganggu mobilitas warga di jalur utama.
PSEL Galuga sebagai Simbol Sinergi Pusat dan Daerah
Keberhasilan pembangunan PSEL tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas, tetapi juga pada komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat pengelolaan sampah dari hulu. Kepatuhan terhadap tata kelola menjadi faktor penting agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
PSEL Galuga dipandang memiliki peran strategis yang melampaui pembangunan infrastruktur semata. Proyek ini diarahkan sebagai bentuk kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Kita melihat langsung kesiapan lokasi ini agar perencanaannya benar-benar matang. Ini menjadi perhatian kita semua. Kepatuhan dan dukungan penuh pemerintah daerah adalah kunci agar persoalan sampah ini dapat diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan," jelas Menteri Hanif.
Dari sisi teknis, lokasi PSEL Galuga didukung oleh ketersediaan jaringan listrik dan air. Kawasan tersebut juga berada di wilayah yang relatif aman dari risiko banjir.
"Dengan dukungan infrastruktur tersebut, PSEL Galuga diproyeksikan menjadi percontohan integrasi pengelolaan limbah berbasis teknologi modern di Jawa Barat," tandas dia.