Banjir Bandang dan Longsor di Kabupaten Agam, 3.878 Warga Masih di Pengungsian

Rahmat memastikan kebutuhan pokok pengungsi dipenuhi melalui dapur umum.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 21 Desember 2025, 18:50 WIB
Daerah terdampak meliputi Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, serta beberapa kota/kabupaten lain yang juga mengalami banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur. Banyak rumah warga terendam, akses jalan terputus, dan sejumlah fasilitas publik rusak akibat intensitas hujan ekstrem. Tampak dalam foto, warga memeriksa rumah-rumah yang rusak akibat banjir di Malalak, Sumatera Barat, Indonesia, Kamis, 27 November 2025. (AP Photo/Ade Yuandha)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, Sumatera Barat  mencatat sebanyak 3.878 warga masih mengungsi akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu beberapa minggu lalu.

Para pengungsi merupakan warga dengan rumah rusak maupun yang tinggal di zona merah rawan bencana.

"Ke 3.878 warga yang mengungsi akibat rumahnya rusak, berada di zona merah dan lainnya," kata Kepala Pelaksana BPBD Agam Rahmat Lasmono di Lubuk Basung, Minggu (21/12/2025).

Rahmat merinci, para pengungsi tersebar di sejumlah kecamatan, yakni Palembayan 1.023 orang, Palupuh 198 orang, Tanjung Raya 2.118 orang, Ampek Koto 53 orang, Matur 156 orang, dan Malalak 330 orang.

Menurutnya, warga mengungsi di lokasi pengungsian, masjid, mushala, dan sekolah sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda daerah tersebut.

Ia memastikan kebutuhan pokok pengungsi dipenuhi melalui dapur umum. “Selama di lokasi pengungsian mereka mendapatkan kebutuhan bahan pokok yang didistribusikan setiap saat,” ujarnya.

 

Tak Ada Lagi Warga Terisolasi

Kerusakan parah juga terjadi pada permukiman warga. Dari informasi yang dihimpun, sedikitnya 75 rumah di Jorong Toboh rusak berat hingga hanyut terbawa arus. Warga yang kehilangan tempat tinggal pun belum dapat kembali ke rumah masing-masing.

Rahmat menyebut tidak ada lagi warga yang terisolasi setelah akses jalan berhasil dibuka menggunakan alat berat. Namun, dampak bencana hingga kini masih signifikan.

BPBD mencatat 192 orang meninggal dunia, 72 orang belum ditemukan, dan empat orang masih dirawat. Sementara kerusakan rumah meliputi 367 unit rusak ringan, 287 unit rusak sedang, dan 851 unit rusak berat.

Bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung yang terjadi pada akhir November 2025 itu juga merusak 21 titik jalan, 28 jembatan, 27 unit tempat ibadah, serta 114 fasilitas pendidikan.

Selain itu, lahan pertanian terdampak mencapai 2.044 hektare, ternak yang mati 5.481 ekor, dan infrastruktur pertanian rusak sebanyak 156 unit.

"Ada lima kecamatan yang kesulitan air bersih untuk kebutuhan warga terdampak," kata Rahmat.

Infografis Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya