Imbas Harga Properti Naik, Anak Muda Jepang Ambil KPR dengan Tenor 50 Tahun

Laporan PayPay Bank menyebut, sekitar 70 persen nasabah yang berusia 20-an memilih masa cicilan hingga 50 tahun.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 22 Desember 2025, 07:03 WIB
Orang-orang yang memakai masker wajah melakukan tradisi doa untuk Tahun Baru pada hari kerja pertama tahun ini di Kuil Kanda Myojin, di Tokyo, Jepang, Senin (4/1/2021). Masyarakat Jepang berdoa bersama di kuil tersebut untuk memohon kelancaran bisnis. (AP Photo/Koji Sasahara)

Liputan6.com, Tokyo - Generasi muda Jepang lebih memilih kredit pemilikan rumah (KPR) dengan tenor hingga 50 tahun, jauh lebih lama dari tenor standar 35 tahun, di tengah melonjaknya harga properti di negara itu.

Dengan masa pengembalian lebih lama, mereka bisa menekan cicilan bulanan, tetapi total pinjaman yang harus dilunasi menjadi lebih besar dan membuat karyawan tetap terus mencicil ketika pensiun.

Perubahan kebijakan moneter Bank of Japan yang berdampak pada suku bunga pinjaman juga menjadi hal yang mengkhawatirkan, dikutip dari laman Antara News, Senin (22/12/2025).

Pada Juli 2025, PayPay Bank mulai menawarkan KPR tenor 50 tahun. Sekitar 70 persen nasabah yang berusia 20-an dan 49 persen nasabah berusia 30-an memilih masa cicilan hingga 50 tahun.

Bank digital lainnya dan bank daerah juga menyediakan pinjaman berjangka lebih panjang dengan menyasar kelompok usia tersebut. Mereka menawarkan kelonggaran agar nasabah bisa melunasi pinjaman sebelum usia 80 tahun.

Menurut perhitungan Takashi Shiozawa dari MFS Inc., salah satu penyedia layanan KPR , jika nasabah meminjam 60 juta yen (Rp6,35 miliar) dengan bunga tahunan 0,75 persen, cicilan bulanan untuk tenor 50 tahun sekitar 120.000 yen (Rp12,7 juta) dengan total bunga sekitar 11,97 juta yen.

KPR 50 tahun menurunkan cicilan bulanan sehingga sisa uang nasabah menjadi lebih banyak, kata Toshiaki Nakayama dari kelompok properti Lifull.

Ia menambahkan bahwa sisa dana itu bisa dipakai untuk investasi.

"Penting untuk mempertimbangkan rencana hidup jangka menengah hingga panjang sebelum berutang,” kata Nakayama.

Dia juga menyinggung faktor risiko seperti sakit dan kesulitan membayar akibat berganti pekerjaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya