Istilah Autopilot Dinilai Menyesatkan, Tesla Terancam Sanksi Berat di California

Telas menghadapi ancaman penghentian penjualan mobil di California akibat penggunaan istilah “Autopilot” dan “Full Self-Driving” yang dianggap akan menyesatkan para konsumen tentang kemampuan otonom kendaraan.

oleh Zaidan Fakhir HeryaniDiterbitkan 25 Desember 2025, 10:02 WIB
Tesla resmikan Supercharger V4 500 kW pertama di California, langkah besar menuju era pengisian ultra-cepat (Tesla)

Liputan6.com, Jakarta - Produsen otomotif asal Amerika Serikat kembali berada di bawah sorotan regulator setelah otoritas di California menilai Tesla menggunakan istilah yang dapat menyesatkan untuk menggambarkan teknologi bantuan pengemudi (driver-assistance) yang ditawarkan pada kendaraan miliknya.

Department of Motor Vehicles (DMV) mengancam akan menghentikan penjualan mobil Tesla di negara bagian tersebut selama 30 hari jika perusahaan gagal untuk mengubah cara memasarkan fitur “Autopilot” dan “Full Self-Driving” (FSD).

Dilansir arenaev, permasalahan ini berakar dari kekhawatiran bahwa nama fitur yang digunakan selama ini dapat memberikan sebuah kesan kepada para konsumen bahwa kendaraan Tesla mampu untuk mengemudi sendiri tanpa keterlibatan dari manusia.

Padahal kenyataannya, teknologi yang ada masih memerlukan pengemudi yang waspada dan siap untuk mengambil alih kapan pun ketika diperlukan.

Seorang hakim hukum administrasi setempat setuju dengan rekomendasi tersebut dan menyatakan bahwa Tesla telah memberikan kesan yang salah mengenai kemampuan otonom dari mobil mereka, meski sanksi ini langsung berhadapan dengan pejualan yang tertunda tetapi mampu memberikan waktu untuk perusahaan mengubah pasarannya.

Regulator memberikan waktu kepada Tesla antara 60-90 hari untuk memperbarui materi pemasaran, termasuk pada situs web dan materi promosi, agar lebih jujur dalam menjelaskan keterbatasan fitur tersebut.

Selama periode ini, penangguhan lisensi penjualan belum berlaku. Namun jika perubahan tidak dilakukan dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan, larangan untuk penjualan akan otomatis dijalankan.

California merupakan pasar yang penting bagi Tesla, menyumbang sekitar sepertiga dari total penjualan di Amerika Serikat, sehingga ancaman ini memiliki dampak pada finansial yang signifikan jika benar-benar diterapkan.

Kontroversi Nama “Autopilot” dan “Full Self-Driving

DMV menilai bahwa istilah yang digunakan oleh Tesla tidak tepat untuk menggambarkan kemampuan yang sebenarnya. (arenaev.com)

Masalah ini bukan hanya soal nama, tetapi juga soal persepsi konsumen terhadap teknologi otonom. DMV menilai bahwa istilah “Autopilot” dan “Full Self-Driving” secara tidak tepat untuk menggambarkan kemampuan sebenarnya dari sistem bantuan pengemudi Tesla.

Sejauh ini teknologi yang diusung oleh Tesla dikategorikan pada Level 2 otomasi yang masih mengharuskan pengemudi untuk terus memperhatikan jalan dan siap mengambil alih kendali kapan pun.

Tesla sebenarnya telah mulai melakukan penyesuaian ini dengan menambahkan istilah “Supervised” pada label FSD, untuk menegaskan bahwa fitur tersebut tetap memerlukan supervise manusia.

Meski demikian, regulator menilai perubahan tersebut belum cukup untuk menghilangkan kesan bahwa mobil bisa beroperasi secara otonom sepenuhnya tanpa melibatkan pengemudi.

Situasi ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara inovasi teknologi dan perlindungan konsumen di industri otomotif, terutama saat pembuat mobil mencoba memasarkan kemampuan yang canggih sementara regulasi masih mengejar perkembangan teknologi.

Dampak Potensial Terhadap Tesla dan Industri EV

Jika Tesla gagal menyesuaikan bahasa pemasaran, konsekuensinya tak hanya penangguhan penjualan tetapi pengawasan regulasi lebih ketat. (arenaev.com)

California bukan hanya pasar besar, tetapi juga pusat produksi yang sangat penting bagi Tesla. Pabrik Fremont di California merupakan basis produksi untuk model-model populer seperti Model 3 dan Model Y, yang berarti sanksi terhadap lisensi penjualan bisa berdampak pada strategi penjualan dan distribusi di Amerika Serikat.

Ancaman dari larangan ini menambah tekanan di tengah melambatnya permintaan EV di pasar domestic setelah insentif pajak berakhir.

Pengamat industri menilai bahwa kasus ini bisa menjadi preseden yang penting bagi seluruh produsne EV global terkait bagaimana mereka harus menggambarkan teknologi bantuan pengemudi dan otomatisasi.

Jika Tesla gagal untuk menyesuaikan bahasa pemasaran mereka, konsekuensinya tidak hanya berupa penangguhan penjualan sementara, tetapi juga pengawasan regulasi yang lebih ketat terhadap klaim teknologi otomotif di masa depan.

Kasus ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dalam mobil listrik dan otomasi tidak dapat berjalan terpisah dari aturan perlindungan para konsumen.

Ancaman sanksi terhadap Tesla menjadi pengingat bahwa penggunaan istilah dalam pemasaran otomotif harus jelas, akurat, dan tidak melewati batas kemampuan teknologi yang ada, demi keselamatan dan transparansi informasi kepada konsumen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya