Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin dan harga kripto teratas lainnya terpantau alami pergerakan yang seragam pada Jumat (19/12/2025) pukul 08.00 WIB. Mayoritas kripto jajaran teratas terpantau masuk ke dalam zona merah.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) masih melemah. Bitcoin turun 0,70 persen dalam 24 jam dan 7,04 persen sepekan.
Advertisement
Saat ini, harga Bitcoin berada di level USD 85.334per koin atau setara Rp 1,425 miliar (asumsi kurs Rp 16.655 per dolar AS).
Ethereum (ETH) mampu bertahan meskipun tipis. ETH hanya mampu naik 0,06 persen sehari terakhir, tetapi masih melemah 11,68 persen sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level Rp 47,202 juta per koin.
Kripto selanjutnya, Binance coin (BNB) juga melemah. Dalam 24 jam terakhir BNB turun 1,50 persen dan 5,99 persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga Rp 13,837 juta per koin.
Kemudian Cardano (ADA) kembali berada di zona merah. ADA melemah 4,12 persen dalam sehari dan 16,71 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level Rp 5.820 per koin.
Adapun Solana (SOL) kembali koreksi. SOL turun 3,93 persen dalam sehari dan 13,05 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level Rp 1,972 juta per koin.
XRP kembali berada di zona merah. XRP turun 3,90 persen dalam sehari terakhir dan 11,73 persen sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga Rp 29.786 per koin.
Koin Meme Dogecoin (DOGE) turut melemah. Dalam satu hari terakhir DOGE turun 3,17 persen dan 12,68 persen sepekan. Ini membuat DOGE diperdagangkan di level Rp 2.031 per token.
Stablecoin Tether (USDT) dan USD coin (USDC), pada hari ini masih stabil. Harga keduanya masih berada di kisaran level USD 1,00, keduanya sama-sama naik masing-masing 0,11 dan 0,14 persen.
Adapun untuk keseluruhan kapitalisasi pasar kripto hari ini berada di level USD 2,88 triliun atau setara Rp 48.060 triliun, melemah sekitar 1,13 persen dalam sehari terakhir.
Harga Bitcoin Loyo, Posisi Ini jadi Area Penting untuk BTC
Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan menjelang akhir tahun setelah mengalami koreksi mingguan sebesar 6,48%. Tekanan jual yang meningkat memunculkan ketidakpastian di pasar, membuat pelaku pasar mencermati level teknikal penting, arus dana ETF, serta faktor makroekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah harga BTC selanjutnya.
Pada 15 Desember 2025, tekanan jual meningkat tajam dan memicu likuidasi posisi long senilai sekitar USD 200 juta hanya dalam waktu satu jam. Kondisi tersebut mendorong harga Bitcoin turun menembus level support USD 87.000 dan sempat menyentuh area USD 85.000. Meski demikian, setelah koreksi tersebut, harga BTC mulai menunjukkan stabilisasi dan saat ini diperdagangkan di kisaran USD 86.000.
Meski terjadi pemantulan harga, tekanan dari pihak bearish masih relatif dominan. Namun, rendahnya volume jual mengindikasikan bahwa penurunan ini lebih menyerupai koreksi sehat dibandingkan perubahan tren besar.
Arus ETF Tertekan, Akumulasi Korporasi Berlanjut
Dari sisi fundamental, investor institusional tercatat menarik dana dari spot Bitcoin ETF. Namun, di sisi lain, akumulasi oleh korporasi masih terus berlangsung dan menopang optimisme jangka panjang terhadap Bitcoin.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menuturkan, kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara pelaku pasar jangka pendek dan jangka panjang.
"Penarikan dana dari ETF mencerminkan sikap hati-hati investor institusional terhadap kondisi makro saat ini. Namun, berlanjutnya akumulasi oleh korporasi menandakan bahwa kepercayaan terhadap fundamental Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang masih cukup kuat,” kata dia seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).
Secara teknikal, ia menuturkan, area USD 88.000–USD 89.000 menjadi zona krusial bagi Bitcoin. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, BTC berpotensi melanjutkan penguatan menuju area USD 90.000 hingga USD 95.000.
"Penembusan di atas USD 95.000 dinilai dapat mengembalikan sentimen bullish dan membuka peluang uji ulang level psikologis USD 100.000 sebelum akhir tahun," ujar Fyqieh.