Transaksi Kripto di Indonesia Merosot 24,53%, Ini Penyebabnya

Pada November 2025, transaksi kripto turun 24,53%.Total nilai transaksi kripto mencapai Rp 446,7 triliun secara year to date.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 18 Desember 2025, 13:00 WIB
Ilustrasi Mata Uang Kripto atau Crypto. Foto: Freepik/Pikisuperstar

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia melambat menjelang akhir tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi kripto pada November 2025 mencapai Rp 37,20 triliun, turun 24,53% dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar Rp49,29 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2025 (year to date/YTD), total nilai transaksi aset kripto masih tercatat signifikan, yakni mencapai Rp 446,77 triliun.

Sementara pada periode yang sama tahun lalu (Januari–November 2024), nilainya mencapai Rp 556,53 triliun. Artinya, terjadi penurunan sekitar Rp 109,76 triliun atau setara 19,72% (YoY).

Di tengah dinamika pasar tersebut, Tokocrypto mencatatkan kinerja yang tetap solid. Hingga November 2025, total nilai transaksi di Tokocrypto telah mendekati Rp 150 triliun, mencerminkan tingginya minat dan partisipasi pengguna meskipun pasar global tengah berada dalam fase koreksi.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana menuturkan, penurunan transaksi secara umum sejalan dengan pergerakan harga Bitcoin yang diperkirakan mencatatkan bulan terburuk kedua sepanjang 2025. Pada November, harga Bitcoin terkoreksi lebih dari 17% akibat kombinasi arus keluar dana ETF Bitcoin, melemahnya permintaan institusional, serta meningkatnya tekanan jual dari investor jangka pendek.

"Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global. Volatilitas berlanjut hingga November dan diperparah oleh penutupan pemerintahan AS yang memecahkan rekor, sehingga memperketat likuiditas di pasar keuangan tradisional,” ujar Calvin seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (18/12/2025).

 

 

Faktor Lain yang Pengaruhi Kripto

Ilustrasi Kripto atau Penambangan kripto. Foto: Freepik

Selain faktor makroekonomi, arus dana institusional juga menunjukkan pelemahan. Data SoSo Value mencatat ETF Bitcoin di Amerika Serikat mengalami arus keluar dana sebesar US$3,48 miliar sepanjang November, menjadi arus keluar bulanan terbesar kedua sejak produk tersebut diluncurkan pada 2024.

Kondisi ini turut mempengaruhi sentimen investor domestik, yang cenderung mengambil posisi wait and see menjelang musim liburan akhir tahun dan perayaan Natal.

Calvin mengatakan, koreksi pasar merupakan bagian dari siklus industri kripto yang perlu disikapi secara bijak. “Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung  bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripto tetap kuat,” kata dia.

Akselerasi Volume Likuiditas dan Transaksi Kripto

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Menanggapi kondisi tersebut, Tokocrypto mengambil langkah strategis untuk mendorong kembali likuiditas dan aktivitas transaksi kripto di Indonesia dengan menghadirkan kanal deposit baru melalui Bank Central Asia (BCA).

Menjawab tingginya permintaan pengguna, Tokocrypto kini resmi membuka fitur deposit melalui Virtual Account BCA. Dengan metode ini, proses deposit Rupiah menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman tanpa biaya tambahan, sehingga pengguna dapat memilih metode transaksi yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Calvin menambahkan, peluncuran fitur deposit BCA menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk meningkatkan kemudahan akses bagi pengguna.

"Peluncuran fitur deposit melalui Virtual Account BCA merupakan jawaban atas permintaan banyak pengguna agar proses top up Rupiah bisa lebih cepat dan praktis tanpa biaya tambahan. Kami percaya kemudahan akses menjadi kunci untuk menjaga likuiditas dan mendorong aktivitas transaksi, terutama di periode akhir tahun ketika volume perdagangan biasanya melambat,” ujar dia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya