BNPB: Klaster Nasional Bantu Percepatan Penanganan Darurat Tangani Bencana Sumatera

BNPB memastikan, pemerintah tidak sendiri dalam penanganan darurat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi, Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 14 Desember 2025, 11:15 WIB
Sementara, data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2 Desember 2025, menyebut, secara keseluruhan, korban tewas akibat rangkaian banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera sejak pekan lalu telah mencapai 712 jiwa. Tampak dalam foto, warga berjalan di tengah banjir bandang di Desa Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 Desember 2025. (YT HARIONO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) memastikan, pemerintah tidak sendiri dalam penanganan darurat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi, Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Aceh.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, terdapat kolaborasi pentaheliks yang tergabung di dalam klaster nasional.

"Klaster nasional merupakan wadah multipihak untuk melakukan koordinasi dan mobilisasi sumber daya di sejumlah sektor yang dibutuhkan dalam fase penanggulangan bencana," ujar Abdul seperti dikutip dari siaran pers, Minggu (14/12/2025).

Abdul menyebut, pada bencana di tiga provinsi, lima klaster nasional telah beroperasi di tengah masyarakat yang terdampak banjir dan longsor.

Dia meyakini, klaster nasional mampu membantu percepatan penanganan darurat karena terdiri dari beberapa lembaga, seperti pemerintah dan organisasi masyarakat yang aktif sesuai dengan keahlian dan sumber daya dimiliki.

"Lima klaster nasional ini aktif dan bekerja di lapangan yaitu klaster pencarian dan pertolongan, klaster logistik, klaster kesehatan, klater pengungsian dan perlindungan, serta klaster pendidikan," ucap Abdul.

Abdul mencontohkan, klaster logistik bekerja untuk memastikan manajemen logistik berjalan baik. Salah satunya, pengaktifan gudang di Pos Gudang Nasional Klaster Logistik di Halim Perdanakusuma, Jakarta yang melibatkan PMI dan Lembaga usaha.

"Sedangkan di Sumatra Utara, klaster ini melibatkan Centre for Diaster Risk Management and Community Development Studies Universitas HKBP untuk mendistribusikan bantuan bagi 200 warga terdampak pada Jumat kemarin 12 Desember 2025," imbuh dia.

 

Kolaborasi Konkret

Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang mengakibatkan kerusakan sebanyak 2.800 unit rumah, 127 fasilitas umum, 62 gedung atau kantor, 54 fasilitas pendidikan, 40 fasilitas kesehatan, 33 rumah ibadah, dan dua jembatan. Tampak dalam foto, warga beristirahat sambil mencari sisa-sisa rumah mereka yang terkubur di bawah tumpukan pohon tumbang yang disapu banjir bandang, di desa Lintang Baru di Aceh Tamiang, Sumatera Utara, pada Kamis 11 Desember 2025. (Aditya Aji/AFP)

Abdul menambahkan, kolaborasi konkret pada klaster kesehatan memiliki beberapa sub klaster, seperti MDMC yang telah memberikan manfaatkan kepada 421 orang yang dilayani di wilayah Aceh Tamiang, Aceh Utara, Lhokseumawe, Langsa, Langkat, Agam dan Tapanuli Selatan.

"Klaster di bawah koordinasi Pusat Krisis Kementerian Kesehatan ini juga telah terjun bersama mitra terkait dari organisasi non-pemerintah di tiga provinsi," terang dia.

Sementara itu, Abdul menyatakan, klaster pendidikan di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga telah siap dengan bantuan pendidikan.

Bantuan yang tersedia antara lain 10.200 paket sekolah, 131 tenda darurat, 400 family kit dan 50.000 buku teks dan non-teks. Di samping itu, kegiatan psikososial juga telah diberikan kepada anak-anak terdampak bencana, seperti dari Wahana Visi Indonesia, UGM, Universitas Syah Kuala, Yayasan Plan Indonesia.

Sebagai informasi, pada klaster pengungsian dan perlindungan, berbagai kegiatan telah dilakukan, di antaranya tertuju pada sub-klaster hunian, perlindungan anak, WASH-air minum-penyehatan lingkungan, perlindungan lansia dan kelompok berisiko tinggi, dan dukungan psikososial.

Diketahui, dukungan klaster tersebut diikoordinasikan dengan Pospenas, Pos Terpadu (Pos Pendamping Provinsi) dan Posko yang ada di kabupaten dan kota terdampak di tiga provinsi. Secara terkoordinasi, dukungan sumber daya klaster akan berjalan efektif dan efisien untuk membantu pemerintah daerah.

 

Korban Meninggal Akibat Banjir Sumatera Tembus 1.000 Jiwa, Ini Rinciannya

Sementara, di Sumatera Barat, dampak bencana tercatat lebih meluas hingga mencakup 13–14 kabupaten/kota. Tampak dalam foto, rumah-rumah terlihat rusak setelah banjir melanda Malalak, Sumatera Barat, Kamis 27 November 2025. (AP Photo/Ade Yuandha)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat mencapai 1.006 jiwa. Data ini merupakan jumlah akumulasi hingga Sabtu (13/12/2025).

Rinciannya adalah di Aceh sebanyak 414 orang, Provinsi Sumatera Utara sebanyak 349 orang dan Provinsi Sumatera Barat sebanyak 242 jiwa.

"Untuk data hilang kini menjadi 217 nama dari 226 nama. Data kebencanaan tersebut ada yang berkurang dan ada yang bertambah. Dinamika data tersebut karena ada validasi dan identifikasi di lapangan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta. Dikutip dari Antara, Minggu (14/12/2025).

Sedangkan jumlah pengungsi korban banjir dan longsor di Provinsi Aceh terus berkurang, dari 817 ribu orang menjadi 586 ribu orang.

Berkurangnya jumlah pengungsi karena sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.

"Jumlah pengungsi di Aceh terus berkurang. Per Jumat (12/12) sebanyak 817 ribu dan hari ini, Sabtu (13/12) menjadi sebanyak 586 ribu," tutur Abdul Muhari.

Sedangkan secara keseluruhan, jumlah pengungsi korban banjir di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebanyak 884 ribu berkurang menjadi 654 ribu orang.

Menyangkut dengan distribusi logistik, Abdul Muhari mengatakan BNPB bersama pihak terkait lainnya pada tanggap darurat fase kedua, terus mengoptimalkan penyaluran logistik kepada korban bencana.

"Distribusi logistik pada hari ini ada 16 pengiriman via udara dengan berat 11,3 ton, dua pengiriman melalui darat seberat tiga ton, serta menggunakan kapal dengan lima pengiriman sebanyak 47,4 ton," katanya.

Abdul Muhari mengatakan pemulihan jembatan putus akibat banjir terus dipacu dan diharapkan selesai secepatnya. Pemulihan jembatan tersebut untuk mempercepat penyaluran bantuan melalui jalur darat.

"Pemulihan beberapa jembatan putus, terutama di lintas timur Aceh tersebut terus dipacu. Jika semua jembatan selesai, maka penyaluran bantuan ke wilayah bencana bisa lebih optimal," pungkas Abdul Muhari.

Infografis Kerugian hingga Korban Banjir Sumatera Per 4 Desember 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya