Liputan6.com, Jakarta - Pasar mobil listrik global terus menunjukkan pertumbuhan kuat pada 2025, mencapai tonggak baru dengan total penjualan mencapai 18,5 juta unit hingga akhir November tahun ini, meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data terbaru dari Benchmark Mineral Intelligence dan Rho Motion.
Pada November 2025 saja, tercatat sekitar 2 juta unit mobil terjual di seluruh dunia, yang menunjukkan permintaan tetap tinggi meskipun ada tantangan di beberapa wilayah. Demikian dilansir Arena EV, Minggu (14/12/2025).
Advertisement
Eropa menjadi salah satu pasar dengan percepatan tertinggi. Penjualan mobil listrik di kawasan ini melonjak 36 persen secara tahunan pada November 2025, menjadikan jumlah kumulatif tahun ini mencapai 3,8 juta unit atau naik 33 persen dibandingkan tahun lalu.
Lonjakan ini didorong oleh dukungan pemerintah di berbagai negara, termasuk program ‘leasing sosial’ di Prancis dan insentif pembelian mobil baru di Italia, yang berhasil mengangkat minat konsumen.
China tetap menjadi pasar dominan untuk mobil listrik dengan volume penjualan sebesar 11,6 juta unit sepanjang 2025, naik 19 persen dari tahun sebelumnya.
Meski pertumbuhan bulanan di sana melambat, kontribusi Negeri Tirai Bambu terhadap pasar global tetap signifikan.
Produsen seperti BYD mencatat rekor ekspor dengan lebih dari 131.000 unit, sementara ekspansinya ke pasar Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan menunjukkan pengaruh global yang terus berkembang.
Namun, pasar Amerika Utara menunjukkan performa yang kurang menggembirakan. Penjualan mobil listrik di kawasan tersebut tercatat sebesar 1,7 juta unit sepanjang tahun, turun sekitar 1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktor Penurunan di Pasar Amerika
Penurunan ini terjadi setelah kredit pajak federal di AS berakhir pada 30 September 2025, yang berdampak pada penurunan penjualan terutama pada Oktober 2025.
Meskipun November 2025 menunjukkan peningkatan penjualan untuk merek seperti Kia dan Hyundai, total angka masih jauh di bawah periode dengan insentif pajak.
Kompleksitas pasar Amerika Serikat juga meningkat dengan perubahan aturan Corporate Average Fuel Economy (CAFE), di mana standar rata-rata konsumsi bahan bakar armada kendaraan ditetapkan lebih rendah hingga 2031.
Kebijakan baru ini dinilai mengurangi tekanan bagi produsen untuk fokus pada kendaraan listrik, dan memungkinkan produsen lebih leluasa memproduksi kendaraan mesin pembakaran internal (ICE).