Perang Harga Mobil Listrik Bisa Bikin Merek Mati

Perang harga semakin sengit di Indonesia, terlebih di segmen kendaraan listrik. Berbagai merek roda empat berlomba-lomba untuk menurunkan harga jual, ataupun memasarkan modelnya dengan banderol yang sangat kompetitif

oleh Arief AszhariDiterbitkan 11 Desember 2025, 19:04 WIB
(Foto:Dok.BYD)

Liputan6.com, Jakarta - Perang harga semakin sengit di Indonesia, terlebih di segmen kendaraan listrik. Berbagai merek roda empat berlomba-lomba untuk menurunkan harga jual, ataupun memasarkan modelnya dengan banderol yang sangat kompetitif.

Perang harga ini tentu saja akan berdampak kepada beberapa aspek, dan salah satunya adalah margin atau keuntungan yang harus ditekan oleh produsen.

"Persaingan mobil listrik di Indonesia sangat dinamis, dengan banyaknya brand baru yang masuk, sehingga pasar menjadi sesak. Sementara total penjualan mobil nasional sedang turun. Hal ini, menimbulkan kekhawatiran potensi price war, dan risiko sebagian brand tidak bertahan lama," tulis salah satu perwakilan industri mobil listrik, yang terdapat dalam hasil studi ID COMM, dengan tema 'Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap', Kamis (11/12/2025).

Sementara itu, seperti dijelaskan salah satu peneliti riset ID COMM ini, yaitu Claudius Surya, konsumen mobil listrik saat ini, membeli kendaraan ramah lingkungan tersebut, karena perang harga ini.

Dengan begitu, pasti akan ada efek jangka panjang, jika kondisi perang harga ini berlanjut.

"Kita sudah lihat, beberapa merek yang kepayahan, tidak punya mobil baru, tidak bisa jualan, karena habis-habisan perang harga," tegasnya.

Berdasarkan pengumpulan data dari sejumlah pelaku industri menunjukkan bahwa sebagian besar pihak masih berada dalam fase “wait and see”, terutama dalam merespons fluktuasi kebijakan, ketatnya perang harga, dan ketidakpastian arah pasar.

Perpindahan Konsumen

Kondisi ini memperlihatkan bahwa dua tahun pertama pertumbuhan mobil listrik di Indonesia lebih menyerupai masa survival (tetap bertahan) dan pembelajaran kolektif, bukan periode stabilisasi.

Industri bergerak cepat untuk menyesuaikan diri dengan tren global, tetapi pasar domestik belum sepenuhnya siap menyerap perubahan dengan kecepatan yang sama.

Selama tiga tahun pertama, pertumbuhan mobil listrik lebih mencerminkan perpindahan konsumen dari pada perluasan pasar.

Lonjakan penjualan mobil listrik terjadi saat total penjualan mobil nasional justru menurun. Ini menunjukkan adanya kanibalisme pasar, yaitu konsumen bergeser dari mobil ICE ke mobil listrik, bukan menambah jumlah pembeli baru.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya