Liputan6.com, Jakarta - Fenomena sandwich generation atau orang dewasa yang menanggung beban merawat anak sekaligus orang tua, kian nyata di masyarakat urban Indonesia.
Tekanan finansial, emosional, dan fisik yang menumpuk sering kali berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas, sekaligus memengaruhi kualitas interaksi keluarga.
Advertisement
Aktivis Sosial sekaligus Pembela Hak Perempuan dan Anak Ade Fitrie Kirana menekankan perlunya negara hadir dengan sistem dukungan keluarga modern untuk meringankan beban generasi ini.
"Orang dewasa yang menjadi sandwich generation menghadapi dilema setiap hari. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi juga harus merawat orang tua yang menua," ujar Ade Fitrie melalui keterangan tertulis, Rabu (10/12/2025).
"Tanpa dukungan sosial yang memadai, tekanan ini bisa menimbulkan stres kronis, kecemasan, hingga depresi," sambung Ade dalam seminar daring bertajuk Mental Health for Modern Families.
Menurut Ade, tantangan ini diperparah oleh tuntutan kerja fleksibel, biaya hidup tinggi, serta minimnya akses layanan konseling keluarga yang terjangkau.
"Kita melihat banyak orang yang terjebak antara tanggung jawab finansial dan emosional. Mereka kelelahan, merasa sendiri, dan kadang-kadang memilih mengorbankan kebutuhan diri sendiri," ucap dia.
Dorong Bangun Kebijakan yang Sasar Kebutuhan Sandwich Generation
Untuk itu, Ade mendorong pemerintah membangun kebijakan yang menyasar kebutuhan sandwich generation, seperti program konseling keluarga, layanan penitipan orang tua, serta cuti keluarga yang memadai.
"Dukungan ini bukan hanya soal finansial, tetapi juga psikologis dan sosial. Negara harus hadir agar keluarga modern bisa tetap sehat dan harmonis," terang dia.
Selain itu, Ade Fitrie aktif menginisiasi komunitas pendampingan untuk sandwich generation, mengadakan workshop manajemen stres, dan sesi edukasi tentang pengelolaan keuangan keluarga.
Dengan langkah ini, ia berharap para orang dewasa yang berada di tengah tekanan tersebut dapat memperoleh strategi praktis untuk menyeimbangkan tanggung jawab dan menjaga kesehatan mental.
"Kita ingin generasi ini tidak merasa terbebani sendirian. Dukungan masyarakat, lembaga, dan kebijakan yang tepat bisa menjadi jangkar bagi mereka agar tetap produktif, sehat, dan bahagia," pungkas Ade.
Dia juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap tantangan yang dihadapi sandwich generation.