Kurs Dolar AS Lesu Usai The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Perkasa ke Level Ini

Berikut prediksi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) pangkas suku bunga acuan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Desember 2025, 11:23 WIB
Teller tengah menghitung mata uang rupiah dan dolar di Bank Mandiri, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis, (11/12/2025). Penguatan rupiah terhadap kurs dolar AS usai bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga acuan.

Mengutip Antara, rupiah dibuka naik 25 poin atau 0,15% menjadi 16.663 per dolar AS dari sebelumnya 16.688 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipicu pemangkasan suku bunga the Fed.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat terbatas di kisaran 16.640-16.690, dipengaruhi oleh sentimen global pemotongan bunga the Fed,” kata dia seperti dikutip dari Antara.

Mengutip Anadolu, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 3,5-3,75 persen, seperti yang diperkirakan secara luas.

Hal ini menandai pemangkasan suku bunga ketiga dan terakhir tahun 2025, karena The Fed telah mempertahankan suku bunga tak berubah dalam lima pertemuan sebelumnya sebelum memangkas pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September.

Fed mengatakan data yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS telah berkembang dengan kecepatan moderat.

Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa peningkatan lapangan kerja telah melambat tahun ini, tingkat pengangguran sedikit meningkat hingga September, hingga inflasi telah meningkat sejak awal tahun.

Keputusan pemangkasan suku bunga diharapkan dapat mencapai tingkat lapangan kerja maksimum dan inflasi pada angka 2 persen dalam jangka panjang.

Akan tetapi, penguatan rupiah dinilai dapat tertahan oleh sentimen negatif dari kondisi ekonomi domestik, seperti penanganan banjir Sumatera.

"Hal tersebut terlihat dari minat asing pada lelang SUN Selasa, 9 Desember 2025, yang turun (45,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya). Selain itu juga pelaku pasar masih berhati-hati terhadap data ekonomi AS yang akan rilis ke depan," kata Rully.

 

Rupiah Kembali Melemah ke Rp 16.689, Ini Pendorong Penguatan Kurs Dolar

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat mata uang rupiah ditutup melemah di level Rp 16.689 pda perdagangan sore ini.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 13 point sebelumnya sempat melemah 15 point dilevel Rp 16.689 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.676," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (10/12/2025).

Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni, penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin diperkirakan secara luas, para pembuat kebijakan dilaporkan terpecah pendapatnya, sehingga membuat investor tetap waspada.

Fokus utama tertuju pada komentar Ketua Fed Jerome Powell, khususnya panduan mengenai arah suku bunga pada tahun 2026. Para pelaku pasar mencari petunjuk tentang bagaimana Fed berencana untuk menyeimbangkan dukungan ekonomi dengan pengendalian inflasi.

 

 

Pasar Cermati the Fed

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

"Pasar akan mengamati dengan saksama komentar Ketua Powell bersama dengan Ringkasan Proyeksi Ekonomi untuk mendapatkan petunjuk tentang pemikiran Fed mengenai arah ke depan, bahkan ketika tahun 2026 juga dapat menandai perubahan signifikan dalam personel di FOMC, termasuk Ketua Powell sendiri," ujarnya.

Kemudian, geopolitik sedikit mereda setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan negaranya dan mitra-mitra Eropanya akan segera menyerahkan "dokumen-dokumen yang disempurnakan" kepada AS mengenai rencana perdamaian untuk mengakhiri perang dengan Rusia, setelah beberapa hari diplomasi yang penuh tekanan.

Kesepakatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia dapat menyebabkan pencabutan sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan Rusia, yang dapat membebaskan pasokan minyak yang dibatasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya