Obligasi Emiten POLI Tercatat di BEI

Pollux Hotels Group mencatatkan obligasi yang merupakan bagian dari strategi pendanaan pada 2025-2029.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 11 Desember 2025, 10:30 WIB
Pejalan kaki duduk di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pollux Hotels Group Tbk (POLI) resmi mencatatkan penawaran umum obligasi terkait keberlanjutan I Pollux Hotels Group senilai Rp 500 miliar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 11 Desember 2025. Pencatatan ini menjadi bagian dari strategi pendanaan Perseroan dalam periode 2025–2029.

Dalam periode tersebut, Perseroan merencanakan pemasangan panel surya (solar cell) dengan total kapasitas 40 kWp yang diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon sekitar 184.320 kgCO₂e. 

Selain itu, Perseroan juga melakukan peningkatan efisiensi energi melalui optimalisasi sistem pendingin guna menekan konsumsi listrik dari sumber konvensional. Di sisi lain, upaya pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan menargetkan penurunan tingkat kebocoran air hingga 100% pada 2029.

Obligasi Terkait Keberlanjutan I Pollux Hotels Group Tahun 2025 diterbitkan dengan penjaminan penuh, tanpa syarat dan tidak dapat dibatalkan, oleh Credit Guarantee and Investment Facility (CGIF), yang merupakan lembaga dana perwalian dari Asian Development Bank (ADB). Instrumen ini diterbitkan untuk memperkuat struktur pendanaan Perseroan sekaligus mendukung penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Dalam pelaksanaan aksi korporasi tersebut, Perseroan menunjuk PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek. Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB) ditunjuk sebagai wali amanat.

Perseroan juga melibatkan Irma & Solomon Law Firm sebagai Konsultan Hukum, KAP Kanaka Puradiredja, Suhartono sebagai Akuntan Publik, serta Kantor Notaris & PPAT Elizabeth Karina Leonita.

 

 

 

Dana Hasil Penawaran Obligasi

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Perseroan menetapkan sejumlah indikator kinerja utama (key performance indicator/KPI) dalam penerbitan obligasi ini yang difokuskan pada efisiensi energi dan pengurangan emisi operasional hotel. Penetapan KPI tersebut mengacu pada standar Target Kinerja Keberlanjutan (TKK) sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 18 Tahun 2023.

Melalui penerbitan obligasi ini, Perseroan juga berupaya memperluas akses pendanaan dengan biaya yang lebih efisien, meningkatkan transparansi, serta memperkuat penerapan tata kelola perusahaan.

Dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk pelunasan sebagian fasilitas kredit investasi (refinancing), sementara sisanya dialokasikan untuk modal kerja, termasuk biaya utilitas, perawatan, serta program pengurangan emisi karbon melalui pemasangan solar cell dan peningkatan recovered water.

   

Mandiri Sekuritas Prediksi Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Tinggi pada 2026

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Mandiri Sekuritas memperkirakan penerbitan obligasi korporasi tetap berada pada level tinggi pada 2026. Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun ini nilai penerbitan obligasi korporasi telah mencapai sekitar Rp 200 triliun. 

Sementara itu, untuk tahun depan diperkirakan terdapat obligasi korporasi senilai kurang lebih Rp160 triliun yang akan diterbitkan.

“Penerbitan obligasi korporasi masih bisa cukup tinggi. Apa alasannya? Yang pertama untuk refinancing. Tahun 2026 itu ada sekitar Rp160 triliun obligasi korporasi yang jatuh tempo,” ujar Handy dalam Economic and Market Outlook 2026 Mandiri Sekuritas di Jakarta, Selasa (9/12/2025).

 

Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Suasana gedung bertingkat dan permukiman warga di kawasan Jakarta, Senin (17/1/2022). Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 mencapai 5,2 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain faktor jatuh tempo obligasi, Mandiri Sekuritas juga menilai prospek pertumbuhan ekonomi ke depan berpotensi membaik. Kondisi tersebut dinilai akan mendorong kebutuhan ekspansi dari sejumlah emiten di Indonesia.

Di samping kebutuhan refinancing dan ekspansi, biaya penerbitan obligasi juga berpeluang menjadi lebih rendah seiring dengan tren penurunan suku bunga yang masih berlanjut. 

“Ini juga menjadi salah satu pilihan bagi emiten untuk bisa menerbitkan obligasi dengan biaya yang lebih optimal,” tuturnya Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Mandiri Sekuritas optimistis aktivitas penerbitan obligasi korporasi akan tetap ramai pada 2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan pandangan lembaga pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang sebelumnya juga memperkirakan tren penerbitan obligasi korporasi masih akan meningkat pada tahun depan.  

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya