Bursa Saham Asia Melejit Setelah The Fed Turunkan Suku Bunga

Berikut pergerakan indeks saham acuan di Bursa Saham Asia Pasifik setelah the Fed memangkas suku bunga acuan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Desember 2025, 08:01 WIB
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Kamis, (11/12/2025). Kenaikan bursa saham Asia Pasifik terjadi setelah the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga untuk ketiga kali pada 2025.

Mengutip CNBC, Kamis pekan ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed mencukur suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5%-3,75%. The Fed juga memberikan sinyal kemungkinan besar the Fed selesai memangkas suku bunga acuan.

Saat konferensi pers, ketua the Fed Jerome Powell mengatakan, penurunan itu menempatkan the Fed dalam posisi yang nyaman terkait suku bunga. "Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana perekonomian berkembang,” ujar Powell.

Ia juga mencatat kalau tarif Presiden AS Donald Trump telah menjadi pendorong inflasi. Di bursa saham Asia, indeks Nikkei 225 di Jepang menguat tipis. Indeks Topix bertambah 0,36%. Indeks Kospi Korea Selatan melesat 0,51%. Indeks Kosdaq bertambah 0,64%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng di Hong Kong berada di posisi 25.602, lebih tinggi dari penutupan terakhir di 25.540,78.

Indeks ASX 200 di Australia menguat 0,79%. Di sektor komotias, harga perak naik ke rekor tertinggi baru sebesar USD 62 per ounce, menurut data LSEG.

Selain keputusan suku bunga pada hari Rabu, The Fed juga mengumumkan akan melanjutkan pembelian obligasi pemerintah senilai $40 miliar, mulai Jumat. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah jangka pendek turun.

Bank sentral juga membahas pasar tenaga kerja yang lemah dalam pernyataannya, menghapus kalimat yang menyatakan pasar tenaga kerja "tetap rendah." Ini menunjukkan fokusnya bergeser ke dukungan ekonomi, menjauh dari inflasi.

Semalam di wall street, Dow Jones Industrial Average melonjak pada Rabu, naik 1,1% setelah keputusan Fed, sementara S&P 500 naik 0,7% dan Nasdaq Composite meningkat 0,3%.

Wall Street Melesat Usai Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Suasana di wall street saat konferensi pers the Fed soal suku bunga pada Desember 2025. (Foto:AP/Seth Wenig)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street mendekati rekor tertinggi pada Rabu, 10 Desember 2025. Wall street melesat setelah bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga acuan untuk mendorong pasar tenaga kerja. Selain itu, harapan akan ada pemangkasan suku bunga pada 2026 semakin menguat.

Mengutip CNBC, Kamis (11/12/2025), indeks Dow Jones menguat 497,46 poin atau 1,1 % ke posisi 48.057,75. Indeks S&P 500 melesat 0,7% ke posisi 6.886,68. Indeks S&P 500 hampir mencapai rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Oktober 2025. Sementara itu, indeks Nasdaq menguat 0,3% menjadi 23.654,16.

Wall street menyukai suku bunga lebih rendah karena dapat mendorong perekonomian dan menaikkan harga investasi meskipun berpotensi memperburuk inflasi.

Mengutip AP, pemangkasan suku bunga pada Rabu sudah banyak diperkirakan dan tidak banyak memengaruhi pasar. Namun, beberapa investor merasa terdorong oleh komentar Ketua Fed Jerome Powell, yang menurut mereka kurang tegas dalam menutup kemungkinan pemangkasan suku bunga pada masa mendatang dibandingkan yang mereka antisipasi.

 

 

The Fed Berada dalam Posisi Sulit

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange saat Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara setelah mengumumkan kenaikan suku bunga di New York, Amerika Serikat, 2 November 2022. (AP Photo/Seth Wenig)

Powell kembali mengatakan pada Rabu kalau bank sentral berada dalam posisi yang sulit, karena pasar kerja menghadapi tekanan penurunan sementara inflasi secara bersamaan menghadapi tekanan kenaikan. Dengan mencoba memperbaiki salah satu masalah tersebut dengan suku bunga, The Fed biasanya memperburuk masalah lainnya dalam jangka pendek.

Powell juga mengatakan untuk pertama kalinya dalam kampanye penurunan suku bunga ini bahwa suku bunga kembali berada pada posisi di mana suku bunga tidak mendorong inflasi maupun pasar kerja naik atau turun.

Hal itu memberi The Fed waktu untuk menahan dan menilai kembali langkah selanjutnya terkait suku bunga seiring dengan masuknya lebih banyak data tentang pasar kerja dan inflasi. "Kami berada dalam posisi yang baik untuk menunggu dan melihat bagaimana perekonomian berkembang,” kata Powell.

Pejabat The Fed Terpecah

Dalam file foto 11 Mei 2007 ini, tanda Wall Street dipasang di dekat fasad terbungkus bendera dari Bursa Efek New York. (Richard Drew/AP Photo)

Namun, ia juga mengatakan tidak ada seorang pun di The Fed yang memperkirakan kenaikan suku bunga dalam “skenario dasar” mereka dalam waktu dekat. Jerome Powell juga menghabiskan sebagian besar diskusinya dalam konferensi pers setelah pengumuman suku bunga untuk membahas pasar kerja.

Setelah pemungutan suara untuk penurunan suku bunga pada Rabu, para pejabat The Fed merilis proyeksi tentang di mana mereka melihat suku bunga dana federal berpotensi berakhir pada 2026. Anggota median memperkirakan satu penurunan lagi pada akhir tahun depan, sama seperti tiga bulan sebelumnya.

Proyeksi tersebut sedang diteliti secara cermat karena para pejabat Fed tampaknya sangat terpecah pendapatnya tentang seberapa besar bantuan yang mungkin dibutuhkan ekonomi dari penurunan suku bunga. Dengan inflasi yang tetap berada di atas target 2% Fed, beberapa pejabat mengatakan bahwa inflasi merupakan ancaman yang lebih besar bagi ekonomi daripada pasar kerja.

Dalam pemungutan suara Rabu, dua pejabat Fed menolak penurunan suku bunga 0,25% karena mereka tidak ingin menurunkan suku bunga sekarang. Sementara itu, pejabat ketiga menolak penurunan suku bunga Rabu karena ia menginginkan penurunan yang lebih besar, yaitu setengah poin persentase.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya