Pekerja Migran Indonesia Raih Penghargaan Sastra di Taiwan

Seperti apa karya yang membuat Erin memenangkan penghargaan ini? Berikut selengkapnya.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 10 Desember 2025, 09:05 WIB
Para pemenang Penghargaan Sastra Taiwan ke-10 untuk Migran tersenyum saat berfoto dalam upacara penghargaan yang diadakan di Taipei Main Station pada hari Minggu (23/12/ 2025). (Dok. CNA)

Liputan6.com, Taipei - Sejumlah pekerja migran dan imigran baru merayakan kemenangan mereka dalam ajang "10th Taiwan Literature Awards for Migrants" yang digelar pada Minggu (23/11/2025) di Taipei Main Station. Dalam perayaan tersebut, para pemenang tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih kepada Taiwan atas ruang berkarya yang diberikan, tetapi juga mengungkapkan frustrasi terhadap berbagai keterbatasan yang masih mereka hadapi sebagai pendatang.

Salah satu pemenang, Marvin Joaquin Alamag, warga Filipina berusia 38 tahun, menerima salah satu dari tiga Choice Awards melalui cerita berbahasa Tagalog berjudul "Ang Pagbabalik" (Kepulangan). Dengan hadiah sebesar 20.000 dolar Taiwan atau sekitar Rp10,6 juta, kisahnya menyoroti pergulatan batin seorang pekerja Filipina yang bunuh diri setelah lama dihantui kenangan diskriminasi dan eksploitasi selama bekerja di Taiwan.

Dalam sambutannya, Alamag menyampaikan rasa syukur, "Kami, para migran dan imigran di negeri asing ini, sangat beruntung karena Taiwan telah berbaik hati kepada kami."

Acara penghargaan kemudian ditutup dengan penyerahan hadiah utama kepada Nguyen Thị Hien, mahasiswi berusia 23 tahun asal Vietnam. Ia menerima 150.000 dolar Taiwan untuk cerpennya berjudul "The Rooftop Barber Shop", yang dipuji para juri atas penggambaran intim kehidupan sehari-hari para migran di Taiwan.

Pada Senin (24/11), Central News Agency (CNA) berkesempatan mewawancarai Erin Sumarsini (46), seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang memenangkan kategori Teen Choice Award (Pilihan Juri Remaja). Cerpen berjudul "Pong-Pong Birong" yang ia tulis dalam waktu satu bulan berkisah tentang persahabatan seekor anjing dengan seorang pemuda muslim.

Erin mengungkapkan bahwa inspirasi ceritanya datang dari anjing milik saudara majikannya, yang sering dititipkan kepadanya.

"Saya menyukai anjing, tapi sebagai muslim memang agak repot dan nyaris tidak mungkin memilikinya karena liurnya yang najis," ujarnya.

Ia berharap karyanya dapat memberi pemahaman kepada masyarakat Taiwan mengenai alasan sebagian besar orang Indonesia menghindari interaksi dengan anjing, sekaligus meluruskan persepsi sesama PMI yang menganggap anjing sebagai hewan berbahaya.

Dalam cerpen "Pong-Pong Birong", tokoh utama bernama Amin—seorang Muslim pekerja pabrik—yang awalnya tidak terbiasa berinteraksi dengan anjing, tanpa sengaja menjalin persahabatan dengan seekor anjing liar hitam. Amin mulai memberi makan anjing itu dengan bakso dan kepala ikan, lalu memanggilnya Pong-pong Birong (Si Hitam Pong-Pong). Suatu hari, mess tempat Amin tinggal terbakar. Amin yang terlambat keluar nyaris tewas dilalap api, namun Pong-pong Birong menerjang api dan menyeretnya keluar, menyelamatkan hidupnya.

Erin mengaku sangat senang menerima penghargaan ini.

"Penghargaan ini membuat saya mendapatkan kembali rasa percaya diri. Saya jadi bisa mengenali potensi dan nilai diri yang jarang mendapat pengakuan di lingkungan kerja," katanya.

Ia menambahkan bahwa kemenangan tersebut mempertemukannya dengan banyak orang yang menghargai dirinya bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai penulis dan bagian dari masyarakat yang suaranya layak didengar. Kini Erin bekerja sebagai perawat migran di Chiayi.

Ia pun berpesan kepada sesama PMI, "Taati peraturan hukum dan norma di negara orang. Gali potensi dan nilai diri di bidang apa pun. Teruslah bersuara dan berpendapat, karena suara dan pendapatmu layak untuk didengar."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya