Harga Emas Melejit, Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed jadi Penopang

Sentimen harapan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) kembali membayangi harga emas dunia.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Desember 2025, 07:30 WIB
Seorang pelanggan memegang perhiasan emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India. Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Jumat, 5 Desember 2025. Kenaikan harga emas didorong meningkatnya harapan penurunan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS pekan depan. Di sisi lain, harga perak melonjak ke level tertinggi.

Mengutip CNBC, Sabtu (6/12/2025), harga emas di pasar spot naik 1% menjadi USD 4.212,16 per ounce. Namun, harga emas berada di jalur untuk penurunan mingguan sebesar 0,4%. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari stabil di USD 4.243 per ounce.

"Pasar semakin yakin bank sentral akan memangkas (suku bunga) dan sebagai respons terhadap hal itu, kami melihat dolar AS sedikit melemah dan itu menguntungkan emas,” ujar Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek.

Data ekonomi AS menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti naik 0,3% pada September, dengan kenaikan tahunan melambat menjadi 2,8% dari 2,9% pada Agustus. Hal ini menyusul data penggajian swasta yang mengungkapkan penurunan tertajam dalam lebih dari dua setengah tahun bulan lalu.

Komentar dovish dari beberapa pejabat The Fed semakin memicu ekspektasi pelonggaran moneter. Alat FedWatch CME menunjukkan probabilitas 87,2% penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 9-10 Desember.

COO di Allegiance Gold, Alex Ebkarian menuturkan, emas diproyeksikan diperdagangkan antara USD 4.200 dan USD 4.500 tahun ini, dan antara USD 4.500 dan USD 5.000 tahun depan, tergantung pada keputusan The Fed.

Sementara itu, permintaan emas fisik di India dan Tiongkok menurun minggu ini karena pembeli menunggu koreksi harga spot.

Harga perak naik 2,6% menjadi USD 58,59 per ons, naik 4% minggu ini, setelah menyentuh rekor USD 59,32 sebelumnya.

"(Perak) mengikuti jejak emas dan banyak investor masih percaya bahwa perak relatif murah," kata Melek.

Ia menyebutkan defisit struktural dan meningkatnya permintaan elektrifikasi sebagai faktor pendukung.

Logam putih ini telah menguat 98% sepanjang tahun ini, didorong oleh defisit pasokan dan masuknya ke dalam daftar mineral penting AS. Harga platinum stabil di level USD 1.646,10, sementara paladium naik 0,3% menjadi USD 1.453,39.

Harga Emas Hari Ini Menguat Tipis, Investor Kini Fokus Data Inflasi AS

Seorang penjual berjalan melewati kalung emas yang dipajang selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India, Selasa (3/5/2022). Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Sebelumnya, harga emas menguat tipis pada perdagangan Kamis, 4 Desember 2025. Kenaikan harga emas dunia seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengimbangi dukungan dari pelemahan dolar AS. Sementara itu, pasar menunggu data inflasi AS pada Jumat, 5 Desember 2025 untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan the Federal Reserve (the Fed) menjelang pertemuan Desember 2025.

Mengutip CNBC, Jumat, (5/12/2025), harga emas pasar spot naik 0,1% menjadi USD 4.210,49 per ounce. Harga emas berjangka AS untuk Februari ditutup mendaki 0,2% ke posisi USD 4.243 per ounce.

"Imbal hasil yang lebih tinggi membatasi kenaikan emas dan indeks dolar AS secara umum memberikan sedikit dukungan,” kata Analis Marex, Edward Meir.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10 tahun naik, sementara indeks dolar AS (DXY), mencapai level terendah dalam satu bulan, membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri.

 

Data Ekonomi AS

Seorang pelanggan (kiri) memeriksa gelang emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India, Selasa (3/5/2022). Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Data pada Kamis menunjukkan klaim tunjangan pengangguran baru AS turun menjadi 191.000 minggu lalu, level terendah dalam lebih dari tiga tahun dan jauh di bawah ekspektasi ekonom sebesar 220.000.

Sementara itu, laporan ADP Rabu menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja swasta AS turun sebesar 32.000 pada November, menandai penurunan tertajam dalam lebih dari dua setengah tahun.

Mayoritas dari lebih dari 100 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan Federal Reserve (the Fed) akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan 9-10 Desember. Hal ini karena bank sentral berupaya mendukung pasar tenaga kerja yang sedang melemah.

 

Sentimen Harga Emas

Seorang pelanggan mencoba gelang emas selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India, Selasa (3/5/2022). Membeli emas adalah kegiatan yang populer di Akshaya Tritiya, karena ini adalah simbol utama kekayaan dan kemakmuran. (Arun SANKAR / AFP)

Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan aset non-imbal hasil seperti emas. Investor kini mengamati laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September, ukuran inflasi pilihan Federal Reserve, yang akan dirilis pada Jumat.

"Pasar tidak akan banyak bergerak antara sekarang dan minggu depan, dan untuk emas, kemungkinan kita akan terjebak dalam rentang perdagangan yang relatif tenang untuk sementara waktu," kata Meir.

Ia menambahkan emas tidak akan menguji ulang level tertinggi sebelumnya hampir USD 4.400 tahun ini.

Sementara itu, perak turun 2,6% menjadi USD 56,96 setelah menyentuh rekor tertinggi USD 58,98 pada Rabu. Logam ini naik sekitar 97,3% tahun ini, didukung oleh defisit pasokan struktural, kekhawatiran seputar likuiditas pasar, dan masuknya logam mulia ke dalam daftar mineral kritis AS.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya