Rupiah Naik Terbatas terhadap Dolar AS di 16.648, Ini Pemicunya

Rupiah naik terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, (5/12/2025). Berikut sentimen yang mendorong penguatan rupiah terhadap kurs dolar AS.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Desember 2025, 18:16 WIB
Teller menunjukkan uang dolar dan rupiah di penukaran uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat nilai tukar rupiah menguat terhadap kurs dolar Amerika Serikat (AS) di level 16.648 pada perdagangan Jumat sore, (5/12/2025).

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah di tutup menguat tipis 5 point sebelumnya sempat melemah 10 poin di level Rp 16.648 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.653," kata Ibrahim, dalam keterangannya, Jumat (5/12/2025).

Adapun yang mempengaruhi penguatan rupiah di antaranya, dukungan yang lebih luas juga datang dari ekspektasi Federal Reserve (the Fed) dapat memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan, dengan harga berjangka menunjukkan kemungkinan kuat penurunan sebesar 25 basis poin.

Investor telah beralih ke pandangan The Fed mungkin akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi.

Data pasar tenaga kerja AS memperkuat sentimen tersebut. Klaim pengangguran mingguan turun tajam menjadi 191.000 level terendah sejak September 2022 meskipun para ekonom mencatat volatilitas terkait liburan dapat memengaruhi angka tersebut. 

"Pada saat yang sama, laporan penggajian swasta awal pekan ini menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas 32.000 pekerjaan pada bulan November, menandakan melemahnya kondisi perekrutan," kata dia.

Selain itu, fokus pasar hari ini Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk September, yang akan dirilis malam nanti pukul 22.00 WIB. Para pedagang akan memantau dengan saksama data inflasi PCE AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan Federal Reserve (Fed) menjelang pertemuannya minggu depan.

Kemudian, perundingan AS-Rusia yang diadakan awal pekan ini gagal menghasilkan terobosan langsung menuju gencatan senjata Ukraina. 

Kurangnya kemajuan meredam harapan sanksi energi terhadap minyak mentah Rusia dapat segera dilonggarkan, sehingga menjaga premi risiko di pasar. Para analis mengatakan gangguan pasokan dapat berlanjut, terutama setelah serangan Ukraina baru-baru ini terhadap infrastruktur energi Rusia.

"Pasar juga terus bersiap menghadapi potensi serangan militer AS ke Venezuela setelah Presiden Donald Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa AS akan segera mengambil tindakan untuk menghentikan pengedar narkoba Venezuela di darat," ujarnya.

Faktor Internal

Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara, untuk faktor dalam negeri yang mempengaruhi penguatan rupiah adalah pernyataan Bank Indonesia yang mencatat posisi Cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 sebesar USD 150,1 miliar.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir Oktober 2025 sebesar USD 149,9 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Selain itu, kenaikan cadangan devisa juga terjadi di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. 

"BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujarnya.

Posisi Cadangan Devisa

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Posisi cadangan devisa pada akhir November 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat didukung oleh prospek ekspor yang tetap terjaga serta arus masuk penanaman modal asing yang diprakirakan terus berlanjut sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Selain itu, BI terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya