Pelaku Pembunuhan Shinzo Abe Sampaikan Permintaan Maaf kepada Keluarga untuk Pertama Kalinya

Seperti apa pernyataan lengkap Tetsuya Yamagami?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 05 Desember 2025, 10:03 WIB
Tetsuya Yamagami, tersangka pembunuh mantan Perdana Menteri Shinzo Abe. (KYODO News)

Liputan6.com, Tokyo - Tetsuya Yamagami, pria yang didakwa membunuh mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga korban.

Dalam persidangan pada Kamis, Yamagami—yang sebelumnya telah mengaku bersalah—menyatakan bahwa ia “sangat menyesal,” terutama kepada Akie Abe, istri mendiang pemimpin tersebut, dikutip dari BBC, Jumat (5/12/2025).

Abe ditembak dengan senjata rakitan saat menghadiri acara kampanye di Nara, Jepang bagian barat, pada 8 Juli 2022. Ia dilarikan ke rumah sakit namun meninggal pada hari yang sama.

Tragedi tersebut mengguncang dunia, mengingat peran sentral Abe dalam politik Jepang dan pengaruh globalnya melalui kebijakan luar negeri yang tegas serta strategi ekonominya yang dikenal sebagai Abenomics.

“Saya telah membuat keluarga beliau menderita selama tiga setengah tahun… Saya tidak memiliki alasan,” ujar Yamagami di hadapan majelis hakim, sebagaimana dikutip media lokal.

Dalam penyelidikan sebelumnya, Yamagami mengatakan bahwa ia menargetkan Abe karena meyakini bahwa mantan perdana menteri tersebut mendukung Gereja Unifikasi—sebuah kelompok keagamaan asal Korea Selatan yang telah lama menuai kontroversi. Menurut Yamagami, aktivitas gereja itu telah membuat ibunya terjerat dalam masalah keuangan serius hingga berdampak besar pada keluarganya.

Tuduhan tersebut memicu pemeriksaan lebih luas terhadap Gereja Unifikasi, yang dikenal karena praktik pernikahan massal dan penggalangan dana yang agresif. Pada Maret tahun ini, Pengadilan Tokyo memutuskan pembubaran organisasi tersebut—keputusan yang segera ditolak oleh pihak gereja, yang bersumpah akan terus memperjuangkannya melalui jalur hukum.

 

 

Hubungan Gereja Unifikasi dengan Shinzo Abe

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah memperoleh nilai yang relatif tinggi atas diplomasinya. (Dok: Photo AP)

Hubungan antara Gereja Unifikasi dan tokoh-tokoh politik Jepang bukan hal baru. Kakek Shinzo Abe, Nobusuke Kishi, yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri, diketahui memiliki hubungan dekat dengan kelompok tersebut karena sikapnya yang anti-komunis. Abe sendiri tercatat pernah hadir dalam sejumlah acara yang terkait dengan organisasi tersebut.

Pada sidang sebelumnya bulan lalu, jaksa membacakan pernyataan Akie Abe yang menggambarkan kedalaman duka yang masih ia rasakan. “Kesedihan kehilangan suami tak akan pernah terobati,” tulisnya.

Kasus ini terus menarik perhatian publik Jepang, tidak hanya karena sosok yang terlibat, tetapi juga isu besar yang mengikutinya—termasuk hubungan antara politik dan kelompok keagamaan, serta kompleksitas motif pribadi yang mengarah pada tragedi tersebut.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya