Harga Emas Bakal Berjaya pada 2026, Ini Pemicunya

Ditemukan ada korelasi negatif antara indeks dolar Amerika Serikat dan harga emas dalam 10 tahun terakhir.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 04 Desember 2025, 13:15 WIB
Berdasar situs resmi Sahabat Pegadaian, harga emas Antam kembali naik hari ini, Kamis (16/10/2025), ke harga Rp2.648.000 per gram. (Juni KRISWANTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas diprediksi terus melanjutkan penguatan pada 2026 mendatang, seiring indeks dolar AS (DXY) yang bakal mengalami pelemahan pada 2026. Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan menemukan, korelasi antara pergerakan harga emas dengan indeks dolar AS. Ditemukan adanya korelasi negatif antara harga emas dengan DXY dalam 10 tahun terakhir.  

"Hasil yang kelihatan apabila kita menarik data kuartalan selama 10 tahun ke belakang, itu adalah adanya korelasi yang negatif antara harga emas dan juga dengan USD index. Yang di mana setiap ada peningkatan 1 persen dari USD index, maka harga emas sendiri ini akan relatif menurun 1,13 persen," jelasnya dalam sesi webinar, Kamis (4/12/2025).

Menurut dia, temuan tersebut sangat krusial untuk memproyeksikan harga emas di tahun depan yang potensial melanjutkan penguatan, lantaran indeks dolar AS diramal bakal mengalami kemerosotan. 

"Mirae Asset Sekuritas juga melihat, untuk USD index tahun depan akan adanya penurunan mencapai titik level di 96. Sehingga ini mendorong tesis kita kepada harga emas yang masih akan tetap terjaga, dengan potensi akan ada peningkatan di tahun depan," bebernya. 

"Sehingga membuat aset kelas emas ini juga masih tetap menarik untuk bisa dilirik oleh-oleh investor," ujar Farras.

2025 jadi Tahun Emas

Adapun 2025 ini menjadi tahun keemasan bagi komoditas emas, seiring adanya lonjakan harga yang terus terjaga. Farras membeberkan, harga emas dunia melonjak dari level USD 2.000 per troy ons di awal tahun menjadi sekitar USD 4.200 per troy ons. 

"Dan memang kita melihat peningkatan emas ini juga didorong oleh beberapa faktor, yang di antaranya itu ada peningkatan dari bank sentral. Seiring dengan tema dedollarization yang membuat bank sentral itu sudah ingin meningkatkan cadangan emasnya," imbuhnya. 

Farras menyebut tren penyimpanan cadangan emas ini tidak hanya dilakukan oleh bank sentral besar dunia saja seperti Bank of China, tapi juga oleh bank-bank di negara lebih kecil seperti Norwegia dan Polandia. 

Ditopang ETF Emas

Petugas memperihatkan emas batangan yang dijual di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Jumat (25/3/2022). Harga emas Antam di Pegadaian kembali naik. Hari ini harga emas Antam naik Rp 6.000 menjadi Rp 1 juta per gram, pada 25 Maret 2022. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Peningkatan itu turut didorong oleh dorongan investasi, seperti adanya kenaikan dari ETF emas yang dikeluarkan oleh Black rock dan para pelaku manajemen aset global lainnya.  

Selain itu, juga ada peningkatan dari segi permintaan emas sebagai aset perhiasan maupun juga lonjakan permintaan dari sisi retail, dalam bentuk emas batangan. 

"Sehingga memang kita melihatnya di sisa tahun ini masih akan ada peningkatan. Tahun ini mungkin di harga USD 4.000 (per troy ons) ini masih akan cukup stable," pungkas Farras.

 

Harga Emas Dunia Stabil

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Sebelumnya, harga emas dunia stabil pada perdagangan saham Rabu, 3 Desember 2025. Harga emas dunia yang stabil itu didorong data penggajian swasta yang melemah yang memperkuat harapan penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) pekan depan. Sementara itu, harga perak mencapai rekor tertinggi baru.

Mengutip CNBC, Kamis (4/12/2025), harga emas di pasar spot sedikit berubah di USD 4.202,06 per ounce setelah mencapai rekor tertinggi di USD 4.241,29 pada awal sesi perdagangan. Harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Februari ditutup menguat 0,3% ke posisi USD 4.232,50.

Di sisi lain, harga perak stabil setelah menyentuh rekor tertinggi di USD 58,98 pada awal sesi perdagangan.

“Data ADP yang melesat pada pagi (Rabu waktu setempat-red) ditambah dengan pencapaian rekor tertinggi sepanjang masa semalam, mendukung emas,” kata RJO Futures Senior Market Strategis Bob Haberkorn.

Ia mengatakan, emas mengikuti jejak perak saat ini dengan perak sedikit melemah.

Jumlah tenaga kerja swasta AS turun 32.000 pekerjaan pada November, menurut laporan ketenagakerjaan ADP yang dirilis Rabu, meleset dari ekspektasi para ekonom untuk peningkatan 10.000 pekerjaan.

 

Prospek Harga Perak

Ilustrasi perak batang. (Photo by Scottsdale Mint on Unsplash)

Alat FedWatch CME kini menunjukkan peluang 89% kalau bank sentral AS akan memangkas suku bunga minggu depan, sementara sejumlah perusahaan pialang besar juga memperkirakan pemangkasan suku bunga pada pertemuan kebijakan 9-10 Desember.

Pasar masih menunggu data Pengeluaran Konsumsi Pribadi September yang tertunda, ukuran inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis pada Jumat.

Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Perak naik 102% sepanjang tahun ini karena kekhawatiran tentang likuiditas pasar setelah arus keluar ke saham-saham AS, masuknya ke dalam daftar mineral penting AS, dan defisit pasokan struktural.

“Penguatan perak disebabkan oleh kekhawatiran pasokan di tingkat nilai tukar,” kata Haberkorn.

Ia  menambahkan, logam tersebut dapat segera mencapai level USD 60 per ounce. Harga tembaga juga mencapai rekor tertinggi pada hari Rabu karena melemahnya dolar AS, kekhawatiran pasokan, dan terbatasnya ketersediaan logam di gudang-gudang yang terdaftar di London Metal Exchange.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya